12 May 2019

Nostalgia slash Mellow-ria

Kemarin Sabtu, tiba-tiba muncul 2 notifikasi yang memberitahu bahwa nomor WA-ku baru saja dimasukkan ke dua grup kantor. Wah wah.. Ini nih, tanda-tanda bahwa cuti melahirkan sudah mau habis dan saatnya kembali ke dunia nyata; dunia kerja. 

Aku nggak menyangka bahwa ternyata seberapa lama pun waktu cuti kalau dihabiskan bersama anak, pasti nggak akan pernah ada kata cukup. 

Menengok kebelakang, sekitar lima bulan yang lalu aku memutuskan untuk mengambil cuti tepat di hari Senin, 31 Desember 2018. Alasannya, rumah yang aku tempati saat ini cukup jauh dengan lokasi kantor baru tempat unit baru berada (sekitar 45-60 menit perjalanan) yang aku rasa perjalanannya kurang hamil-tua-friendly. Selain itu, suamiku merasa aku kurang istirahat dan kurang "masa tenang" selama hamil karena malam harinya masih kuliah. Selain itu dari aku pribadi alasan terpentingnya adalah... Unit lama bubar dan aku dimutasi ke unit baru yang kalau aku tetap masuk pasti akan merepotkan karena baru masuk sebentar, dikasih tanggung jawab, eh cuti hampir satu semester. 

Jadi ingat juga masa-masa sendirian di rumah waktu hamil tua dan suami kerja. Hampir tiap hari eksplor masakan ini-itu bahkan sehari bisa 3x masak masakan berbeda untuk 3x makan, nyapu-ngepel, cuci-jemur-lipat baju dan mengerjakan segala kegiatan domestik lain, ditambah yoga dan main enjot-enjotan di gym ball sambil harap-harap cemas kapan Nak Bayik keluar. Sempat mengalami siklus semangat menjelang minggu kedua Januari (perkiraan lahir tercepat) dengan bolak-balik ngecek hospital bag dan buka-bukain laci baju Nak Bayik, berlanjut dengan agak panik karena nggak lahir-lahir menjelang akhir Januari, sampai akhirnya "chillax" terserah si Eneng aja kapan mau keluar. Karena eh karena, sebetulnya yang dipanikkan adalah masa cuti yang semakin berkurang kalau doi nggak cepet keluar sehingga waktu kebersamaan kami berkurang.

Tapi yah.. Bagaimana pun aku tetap bersyukur, sangaaat bersyukur bisa membersamai tumbuh kembang di empat bulan pertamanya. Meskipun "not always rainbows and butterflies", tapi secara keseluruhan... yang aku nggak menyangka juga... ternyata aku sangat menikmati perjalanan "motherhood" ini dan nggak mengalami baby blues yang parah. Yaaa secara ya, buat orang-orang yang kenal aku langsung mungkin tahu bagaimana tingkahku: sangat tidak anggun dan keibuan. Ditambah lagi aku anak tunggal yang nggak pernah "pegang" bayi, serta posisiku di beberapa circle pergaulan menjadi yang paling muda. Aku sendiri menyimpan perasaan nggak pede sebagai seorang ibu. Tapi dengan adanya cuti yang cukup panjang ini, "chemistry" dan instingku dan anakku (tapi terutamanaku) menjadi cukup terasah.

Nah dalam postingan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih atas kebijakan tambahan waktu cuti melahirkan yang diberikan oleh CEO baru perusahaanku (yaa kali-kali doi baca blog ini yakhaan). Bagaimana pun niat beliau baik, yakni untuk meminimalisir baby blues dan mendukung pemberian ASI eksklusif 6 bulan (kalau gitu berarti kurang sebulan nih Pak jatah cutinya hihihi). Lalu untuk suami dan mamaku yang menjadi "support system" terdekat, serta bapakku dan ibu mertuaku untuk support jauhnya. Dan yang terpenting, terima kasih kepada anakku yang sudah sangat suportif sehingga perjalanan menjadi ibu baru ini menjadi jauh lebih ringan dibanding yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Thank you, Nak. ❤

Ngomong-ngomong, sejak hari pertama puasa aku sudah mulai mengomunikasikan dan memberi sugesti positif kepada Nak Bayik bahwa bulan depan aku mulai kerja lagi. Namanya juga usaha yah, semoga nanti tiba di hari H-nya aku kembali bekerja nggak ada drama diantara aku dan Nak Bayik serta mamaku yang untuk sementara waktu akan menjaganya. Doakan kami! :D


Love,

05 May 2019

I'm DEAFinitely Confidence

Kurang lebih itu lah kata-kata yang sempat terlintas di pikiranku dan akhirnya dijadikan jargon acara yang digarap oleh aku dan teman-teman sekelas di MM, hingga dijadikan tulisan di kaos dalam rangka mengkampanyekan kepedulian terhadap Teman Tuli.








Acara yang berlangsung pada Sabtu, 4 Mei 2019 kemarin, awalnya hanya dimaksudkan untuk menunaikan tugas kuliah saja. Namun pada akhirnya, hati kami semua tersentuh dan terenyuh saat berkomunikasi dengan mereka. Mulai saat mereka satu per satu datang ke tempat acara, hingga penyampaian materi tentang bahasa isyarat. Salah satu yang paling mengena adalah pada saat penampilan tari dari adik-adik SLB Karya Mulya. Mereka yang hidup dalam dunia yang sunyi bisa mengekspresikan diri melalui seni tari. Pada saat ini lah tidak sedikit dari kami panitia yang menitikkan air mata haru.

Tujuan dari acara ini adalah meningkatkan kesadaran Teman Dengar bahwa di sekitar mereka ada Teman Tuli yang perlu diperhatikan kebutuhan berkomunikasinya. Mereka selama ini sudah berusaha susah payah memahami kita dengan cara memperhatikan gerakan bibir saat berbicara, kini saatnya kita berusaha memahami mereka dan berusaha mempelajari bahasa mereka, bahasa isyarat, agar komunikasi dapat terjalin dengan lebih lancar.

Salah satu bentuk keberhasilan acara ini menurutku salah satunya adalah saat peserta tidak lagi bertepuk tangan seperti biasanya, tapi bertepuk tangan dengan bahasa isyarat (tanpa suara) sejak setengah acara, setelah sosialisasi dari Kartu (Komunitas Arek Tuli) Surabaya.

21 April 2019

Nelangsa Negeri

Pergelaran pesta demokrasi kali ini
Mesti dibayar mahal bahkan bukan sebatas materi

Terlalu banyak jiwa yang ditangisi
Bahkan akal sehat pun tak sedikit yang mati

Orang-orang saling menghakimi
Akibat terlalu riuhnya kontestasi

Orang-orang juga tak malu saling sindir
Mencibir pun tak lega tanpa nyinyir

Sebelumnya, aku selalu berharap 17 April segera berakhir
Nyatanya, pertikaian tetap bergulir

Aku lelah dengan isi sosial media dan televisi
Berita pejuang demokrasi makin bikin miris

Perjuangan yang akhirnya didramatisasi
Meskipun sebetulnya terjadi kealpaan sistemik

Persiapan yang tidak rapi,
pun tanggung jawab yang tumpang tindih

Kesalahan terlanjur terjadi
Namun kita tidak mengerti siapa yang layak diadili

Mungkin ini bagian pendewasaan diri
untuk "bocah" yang masih berproses mencari jati diri

Harapanku hanya satu, semoga sang Negeri bisa kembali berselimut welas asih

Anakku masih butuh berdiri
dalam rengkuhan damainya ibu pertiwi



14 April 2019

Check-up (Ternyata) Penting

Sabtu kemarin adalah hari yang panjang bin melelahkan buat aku pribadi. Niat awalnya sih ngontrolin Baby R ke dokter di RS, tapi ujung-ujungnya malah emaknya yang pulang dengan membawa "hasil".

Awalnya Baby R dapat nomor antrian cukup awal yaitu nomor 9 dengan jadwal praktek yang dimulai pukul 10.00. Di samping itu aku juga mendaftar ke dokter mata untuk minta resep kacamata. Kami (aku, nak bayik dan mamaku) berencana berangkat jam 10 saja supaya nggak terlalu lama nunggu. NAMUN.. Ujung-ujungnya kami berangkat sekitar jam 11 kurang entah karena apa dan yaaa namanya juga pergi bareng bayik ya, banyak yang harus dipersiapkan dan banyak "impromptu"-nya. Sampai di RS, ternyata hari Sabtu bukanlah hari yang tepat untuk kontrol. Karena eh karena, Sabtu kan para orang tua pada libur, jadilah hari itu adalah hari yang tepat untuk periksa maupun vaksin. Super rame, asli! Dari yang semula kami dapat nomor 9, kami malah mengantre bersama pendaftar bernomor 30-an, dan sampai lewat jam 2 siang pun nama Baby R belum juga dipanggil. Alhasil kami ke poli mata dulu sambil berharap poli mata lebih cepat dan sebelum pulang masih sempat mampir ke poli anak dan dokternya masih ada.

Ke poli mata, ternyata kami masih harus menunggu satu pasien lagi yang makan waktu sekitar setengah jam. Setelahnya, begitu dipanggil dan masuk ke ruang periksa, aku dipersilakan untuk "menjajal" beberapa alat secara berurutan. Alat pemeriksaan mata pertama belum pernah aku coba sebelumnya. Alat ini mirip seperti alat pengukur minus/plus mata (apa yah sebutannya?), tapi bisa mengeluarkan angin. Saat aku menilik ke lubang mata dan suster menekan tombol, keluarlah angin yang rasanya bikin kita seperti ditiup orang lain waktu kita kelilipan. Lanjut ke alat pengukur minus/plus, lanjut lagi ke alat serupa yang mengeluarkan cahaya seolah-olah "memutari" bola mata kita. Selesai dengan ketiga alat tersebut, barulah aku duduk di kursi yang lazim ada di optik untuk mencoba beberapa ukuran lensa yang berbeda-beda. Setelah dicobakan beberapa ukuran lensa oleh suster, barulah ukuran lensaku dikoreksi oleh dokter. Dan ternyata.. Aku baru tahu kalau aku ada silinder juga. Kecil sih, cuma 0,25. Tapi yaaa ternyata lumayan berpengaruh terutama saat menyetir. 

Saat resep kacamata ditulis, dokter menanyakan pertanyaan pamungkas, "Ibu beneran nggak pernah ada riwayat glukoma?" Wah, penyakit apa inihhh. Dokter menjelaskan bahwa tekanan bola mata kananku cukup tinggi dan khawatir kalau dibiarkan bisa menyebabkan glukoma. Glukoma sendiri disebabkan karena cairan pada bola mata mengalami hambatan untuk keluar. Mungkin gambarannya semacam selang yang agak tersumbat, jadi kalau ada air yang mau keluar tekanannya jadi meningkat di titik yang tersumbat itu. Nah kalau di glukoma ini semacam di saluran cairan mata yang keluar-masuk dari dan ke dalam mata. Jadi bukan air mata, yaa.. 

Berdasarkan hasil browsing, tekanan bola mata normal itu di angka 10-21 mmHG. Sementara tekanan bola mata kananku waktu diuji tiga kali hasilnya 19, 21 dan 23 (kalau nggak salah ingat). Pengecekan dilakukan sampai dua kali, bahkan. Karena dokternya sempat ragu karena si Pasien nggak pernah terdiagnosis glukoma sebelumnya. Akhirnya dokter pun memberi resep obat tetes yang harus diteteskan dua kali sehari. Bismillah yah, semoga dua minggu lagi waktu kontrol nanti angka tekanan bola mataku sudah normal lagi. Karena ternyata, glukoma menjadi penyebab kebutaan kedua tertinggi di dunia setelah katarak (berdasarkan hasil browsing, lagi-lagi). 

Berawal dari iseng-iseng, namun berakhir serius. Bagaimanapun dari hasil pemeriksaan ini aku mengambil pelajaran bahwa check-up itu penting loh ternyata. Karena bisa jadi di dalam tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat, ternyata ada organ-organ tubuh yang tidak bekerja dengan baik dan tidak terdeteksi secara kasat mata. Contohnya aku, meskipun sudah berkali-kali tes minus di optik, tapi ternyata baru tahu kalau ada silinder dan bahkan ada gejala glukoma.

Meskipun aku menyarankan untuk menyempatkan diri untuk check-up, tapi semoga kita semua sehat selalu yah.. Amin




07 April 2019

Hatiku Terpotek

Dua hari ini adalah hari tersedih selama 2 bulan menjadi ibu baru: Baby R sakit.

Entah apa penyebab ia terkena batuk pilek, aku pun masih mengira-ira. Pertanyaan dokter kemarin, apa ada yang batuk/ pilek/ bersin-bersin di rumah? Jawabannya, tidak ada. Tapi dokter berkeyakinan bahwa nak bayik pasti ketularan.

Sebelumnya, tiga hari yang lalu sewaktu libur Isra' Mi'raj, kami sekeluarga memang sempat jalan-jalan ke daerah Pacet. Di sana kami hanya duduk-duduk di warung lesehan di kawasan kolam air hangat. Nak bayik pun sewaktu tidur sudah beralas bantal menyusui tebal plus diberi selimut dan dipakaikan jaket serta set baju lengan panjang supaya tidak kedinginan. Setelah kurang lebih dua jam kami bersantai, kami menuju Tretes untuk makan sate dan angsle yang terkenal di depan Hotel Surya. Nak bayik, seperti biasanya, nggak rewel dan ekspresinya happy. Kami pun tidak ada rasa khawatir sama sekali.

Hari Kamis, nak bayik masih happy seperti biasa. Namun memang hawa Surabaya hari itu sungguh panas tak tertahankan. AC bersuhu 20 derajat pun rasanya cuma semriwing-semriwing saja. Bahkan nak bayik sempat kami bawa ke depan kipas angin (model tornado) supaya tidak kepanasan.

Barulah Jumat pagi setelah mandi, nak bayik mulai batuk-batuk dengan intens. Padahal malamnya ia tidur pulas dan hanya bangun untuk minum, tidak seperti beberapa waktu belakangan yang sering mengajak main mulai sekitar jam 3 sampai jam 7 pagi. Sehabis mandi aku langsung daftar ke dokter anak di RS dan berangkat di siang harinya.

Selama menunggu dokter datang, entah mengapa batuk nak bayik makin menjadi dan berubah dari batuk kering menjadi batuk berdahak. Ia pun sempat menangis dengan keras. Berulang kali ia terlihat susah bernapas, yang kalau bahasa jawanya seperti orang "keloloden", yang mungkin disebabkan dahak yang masih tertahan di tenggorokan. Potek rasanya hatiku melihatnya. Di ruang tunggu pun ada momen "mbrebes mili" karena nggak tega melihatnya sulit bernapas. Saat itu aku membatin, "Oh, begini toh rasanya jadi orang tua.." Ada nyamuk di kamar saja rasanya was-was dan dibelain begadang khawatir nyamuknya menggigit nak bayik. Ini malah harus melihat dia bernapas tersengal-sengal. :(

Momen lain yang memotek hati adalah saat sebelum pulang dari RS, nak bayik yang semula haus, malah menangis dan memberontak saat akan aku susui. Tangisannya melengking seperti berteriak, tidak seperti biasanya. Sepertinya ia bingung antara menelan ASI dan mengeluarkan dahak di waktu yang bersamaan. Di momen itu, aku sempat blank beberapa detik dan berusaha menenangkan diriku sendiri dulu agar tidak panik. 

Meskipun kami belum tahu sebab sakitnya dia, tapi kami punya beberapa asumsi. Bisa jadi nak bayik tertular saat terpapar di udara terbuka di Pacet dan Tretes, kelelahan karena pergi seharian dari pagi sampai malam, atau karena terkena AC yang terlalu dingin dan kipas angin yang terlalu kencang, atau malah kombinasi ketiganya. Yang jelas, dari kejadian ini kami jadi sadar bahwa nak bayik masih "tiny little baby" yang belum genap 2 bulan dan tidak memforsir dengan kegiatan di luar dalam waktu lama meskipun ia tampak happy dan tidak rewel.

Semoga cepat sembuh ya sayangnya Mamabon.. :'(


31 March 2019

Kegiatan (Kebiasaan?) Baru

Cuti sebentar, pasti kurang. Cuti (ke)lama(an), bisa jadi malah bosan. Dasar manusia.

Sebagai manusia biasa, menjalani 3 dari 5 bulan cuti gravida tentu rasanya "up and down". Ada kalanya bosan melanda, apalagi kalau si Bayik lagi tidur terus. Mau nonton TV isinya berita politik terus menjelang pemilu, mau youtube-an sayang kuotanya (#fakirwifi), mau menyulam dan menjahit alamakkkk nggak aku banget!! :)))

Jadi beberapa waktu belakangan aku lagi suka dengerin podcast karena lebih "quota-friendly" dan memberikan cukup vitamin pada otak (tssaaahh bahasanya). Awalnya gara-gara lihat IG Story kakak angkatan kuliah berbagi podcast favoritnya yang selalu didengarkan selama perjalanan berangkat-pulang kerja lewat aplikasi musik kesayangan kita semua, Spotify. Menurutnya, daripada bengong atau medsosan terus, ternyata perjalanan kurang lebih satu jam itu bisa lebih berfaedah saat dia mendengarkan podcast. "Hmm, apa iya?" Pikirku waktu itu. Segera lah aku mengulik pilihan podcast yang ada di Spotify.

Nah, dulu zaman kanal semacam Spotify dan Soundcloud belum ada, aku cukup sering mendengarkan podcast musik lewat iTunes. Tapi waktu itu menurutku podcast hanya seperti siaran radio dari luar negeri; ada penyiar dan musik dengan genre sesuai yang kita pilih. Nah, sekarang di Spotify, misalnya, kita bisa memilih berbagai tema untuk didengarkan mulai dari musik, bisnis, finansial, obrolan ringan, bahkan ceramah keagamaan #ehem. Awalnya sih aku sempat menganggap media semacam podcast ini terlalu "overrated" di Indonesia sejak (setahuku ya) agensi Makna besutan Keenan Pearce membuat MaknaTalk. Perasaanku, orang-orang jadi banyak yang membuat podcast, sedikit-sedikit podcast, ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas dan direkam pun diunggah menjadi podcast. Hahahaa


Sempat bingung pilih-pilih podcast yang "bergizi", akhirnya aku menemukan HBR IdeaCast. Salah satunya sih karena merasa kemampuan bahasa Inggrisku sudah payah, jadi aku cari-cari podcast yang berbahasa Inggris. HBR IdeaCast ini podcast punya Hardvard Business Review (HBR) yang sudah malang melintang di dunia manajemen dengan studi kasus, majalah dan buku yang sudah dipublikasikan berjilid-jilid. Di podcastnya, biasanya mereka mengundang penulis buku atau peneliti untuk membahas berbagai topik. Banyak topik yang menurutku sepele tapi ternyata dibahas secara ilmiah dengan bahasa yang ringan dan menarik. Jadi selain tambah pengetahuan, lumayan lah buat mengasah kemampuan "listening". 

Kalau merasa kurang PD dengan hasil pendengaran kita, tenang aja. HBR sudah menyediakan transkrip buat kita baca. Tambah lumayan lagi kan, ternyata kita malah jadi dapat banyak "vocab" baru dan juga memperdalam "grammar" yang dulu pernah kita pelajari.

Buat yang mau dengerin HBR IdeaCast lewat Spotify, bisa klik di sini dan bisa juga diakses lewat webnya di sini. (di sana ada link untuk membaca transkripnya juga lho).

Enjoy! ;)



24 March 2019

27

You might ever heard (or got) one tricky question, "How do you see yourself in the next 5 years?"

How did you answer it?


Five years ago, I was only a graduated student who's in a lane of pursuing Master in Netherland (the country I've been feeling thrilled for no reason everytime I saw the map in the atlas  back in the elementary school) or become so-called "corporate slave". I was dreaming about running my own business that holistically connecting art, environment and sustainability after I graduated Master. I never thought of married before 27. And I dreamt of being a musician, too. And evolved to "not walking in the ordinary path" life of graduated-formal work-married-have children-grow old-die. I wanna make my own kind of life.

Today, five years later, I swallowed my oath; I graduated, work formally from 8 to 5, married with one kid. However, when I took a step in one side of the lane, I was thinking of taking a detour to my dream. The destination is the same but it take a longer time.

I don't regret the life I live now. In fact, I am so grateful of having this kind of life; the one that probably still a dream for somebody else. So I should not take it for granted and live to the fullest. Moreover, the finish line is yet to see. Even if I feel like I'm not living the life I ever dreamt of but who knows where life will bring.

We can be anything in five years. We can still be a person who chase the long-dreamt dreams. We can be a brand new person, too. Situation can be different each day that make dreams change. Priority can change. One single step can change our destination. The point is, nothing is eternal but change.


So, can we still answer that tricky question?


17 March 2019

Privating Our Privacy



Kita pasti cukup sering melihat mobil berstiker keluarga "Happy Family" seperti foto di atas; ada sepasang orang tua dan anak-anaknya lengkap dengan nama panggilan mereka. Tak jarang juga stiker dibuat seolah mereka sedang bergaya dengan hobi mereka, entah anak laki-laki main bola, ayah dengan helm motornya, anak perempuan dengan bonekanya, dan lain sebagainya. Sejak pertama kali melihat, saya langsung berpikir, "Ini orang-orang pada ngga takut dijahatin orang apa ya?"

Namanya juga orang jahat ya, pasti ada seribu satu cara untuk mengeksekusinya, misalnya membuntuti mobil sampai ke rumah mereka, lalu keesokan harinya datang ke rumah itu dan mengaku-aku suruhan dari si anak yang sedang bersekolah untuk mengambil laptop yang "tertinggal" di rumah. Adegan lain misalnya, setelah mengetahui nama panggilan si anak, keesokan harinya si penjahat membuntuti sampai sekolah dan menculiknya. Pemikiranku terlihat lebay mungkin ya, tapi sekali lagi namanya orang yang sudah punya niat jahat, pasti punya seribu satu cara untuk melancarkan rencananya.

Masih berhubungan dengan penyebaran informasi pribadi kita maupun keluarga, beberapa hari lalu aku membaca twit yang menurutku bagus dan bisa dijadikan pengingat untuk kita semua.




Kaget ya kalau ternyata ada sampai 9 poin yang sebaiknya tidak diunggah ke media sosial, bahkan selfie! Lah, sekarang malah banyak orang yang upload "room tour" bahkan "house tour (?)". Pada nggak takut denahnya diapalin sama "calon pencuri" apa? (batinku) :((

Nah, salah satu hal yang kucoba tidak lakukan adalah banyak mengunggah foto atau video anak. Sulit memang, apalagi anak lagi dalam fase perkembangan yang "updateable" untuk media sosial. Ditambah lagi banyak teman yang sekarang jadi "insta-mommy". Tidak dipungkiri rasanya ingin ikut mengunggah kegemasan anakku.

Dari awal hamil aku memang sudah berjanji untuk tidak terlalu meng-update tentang anak di media sosial terutama instagram post dan instagram story. Karena aku sendiri sempat mengalami masa-masa, "Ni orang pasti ng-upload anaknya. Ini pasti juga. Lah yang ini juga ternyata. Buset isinya kenapa jadi bayi semua ya??" Daaan.. setelah membaca twit Socio Geeks tadi, aku semakin yakin untuk tidak mengunggah foto dan juga nama anak di sosial media. Apalagi nama lengkap (yang biasanya disertai dengan artinya). Big no buat aku. Nama lengkapku bisa jadi sudah beredar di internet. Kalau aku bagikan nama lengkap anakku juga, masa depan (minimal) akun bank anakku dipertaruhkan. Pasti pernah kan, ditanya nama ibu kandung waktu menghubungi CS bank untuk proses verifikasi? Nah, hal ini lah yang aku hindari penyalahgunaannya terjadi pada anakku kelak.

Kita nggak pernah tau siapa yang akan berbuat jahat pada kita. Tapi paling tidak kita sudah melakukan pencegahan. Jadi kalau ada apa2, kita bisa mengeliminasi salah satu kemungkinan penyebab kejahatan yang asalnya dari sosial media kita.

10 March 2019

Melahirkan di RS Husada Utama Surabaya

Melanjutkan dan melengkapi pembahasan sebelumnya (baca di sini), kali ini aku akan "noles" lebih ke masalah teknis (?) melahirkan di RS Husada Utama (RSHU) Surabaya.

Pertimbangan pertama aku memilih tempat kontrol sekaligus melahirkan adalah fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan asuransiku. Karena asuransi dari kantorku (InHealth) bekerjasama dengan RSHU dan berdasarkan pengalaman para senior, jatuhlah pilihanku di sana. Pelayanan staff RSHU sangat profesional dan tidak membedakan antara pasien dengan asuransi dan tanpa asuransi. Karena berdasarkan pengalaman semasa di Banyuwangi, kalau datang dengan kartu asuransi pasti dijutekin staff bahkan oleh dokternya sendiri. :"""")

Selain profesionalitas staff dan dokternya, RSHU juga menyediakan ruangan khusus yang nyaman, InHealth Lounge, untuk membantu proses pendaftaran. Jadi setelah mendaftar lewat (bisa via Whatsapp atau telepon), kita harus ke Lounge ini dulu untuk semacam proses verifikasi. Barulah kita menuju ke ruang pemeriksaan. Nah, kalau mau "check in" untuk opname kita tinggal ke bagian reservasi/ pendaftaran dan menyerahkan kartu identitas dan kartu asuransi.

Kalau dokternya sendiri, karena aku pendatang baru di kota ini, aku bermodal rekomendasi dari para senior. Akhirnya jatuhlah pilihanku pada dr. Didi. Ternyata pilihanku tidak salah. Beliau sangat santai tapi dapat menjelaskan dengan detail dan tidak membuat pasien parno. Pertanyaan pertamaku dulu adalah pantangan makanan dan minuman selama hamil. Beliau bilang, hamil bukanlah sakit yang ada pangantangannya. Asalkan tidak berlebihan, semua boleh dikonsumsi. Siaaap..

RSHU adalah rumah sakit yang pro ASI. Di awal begitu sampai di kamar, sesuai prosedur ada perawat yang menjelaskan berbagai macam hal mulai dari mesterilkan diri sebelum memegang bayi baru lahir, proses IMD dan pemberian ASI. RSHU akan sangat mendukung pemberian ASI secara langsung dari sang Ibu, dan mereka bersedia menunggu sampai 7 hari pascamelahirkan sampai ASI ibu keluar tanpa diberi susu formula. Di lantai 3A (tempat aku kontrol) pun ada semacam ruangan klinik laktasinya. Dari situ terlihatlah komitmen RSHU tentang ke-pro-ASI-annya. Oh iya, di lantai 3A juga aku sempat lihat ada NICU-PICU nya, yang ternyata kata mamaku nggak di semua rumah sakit ada. Berdasarkan pengalaman kakak sepupuku yang di Jakarta sih begitu, jadi anaknya harus masuk NICU tapi di RS tempat dia melahirkan dan terhitung besar di Jakarta itu tidak ada fasilitas NICU-nya dan terpaksa harus dirujuk ke RS lain. 

Untuk biayanya sendiri, sejujurnya aku nggak ada bayangan sama sekali waktu masuk RSHU karena merasa aman ada kartu sakti alias kartu InHealth. Nah sewaktu "check out", barulah rincian tagihannya diperlihatkan ke kita. Untuk menginap 3 hari 2 malam, biayanya sekitar Rp 15juta dengan kamar kelas 1 yang di-upgrade secara cuma-cuma menjadi kelas VIP (katanya sih lagi promo). Kalau nggak salah harga segitu sudah berupa paket melahirkan, dengan bonus kenang-kenangan berupa pigura berisi foto setengah badan si Dedek beserta keterangan kelahirannya. Nah, berhubung aku tidak tahu menahu tentang ini, jadi aku nggak menyiapkan baju dan aksesoris khusus. Padahal waktu aku lihat sekilas foto-foto punya bayi lain, ternyata mereka didandani oleh orang tuanya. Hiks, maafkan aku ya Nak..

Ini dia barang-barang dari RSHU yang kubawa pulang, yang berupa barang sponsor..

- Popok Sweety Gold untuk Newborn (isi 12 kalau nggak salah ingat)
- Paket Johnson & Johnson (sabun mandi, baby oil, bedak)
- Paket Dettol (hand sanitizer dan sabun batang)
- Paket Sebamed (sabun wajah dan moisturizer)
- Pigeon botol susu wideneck (lumayan buat nyimpan ASIP uhuy!)
- Susu Formula (yaa namanya juga sponsor ya, meskipun RSHU pro ASI ya tetep aja dikasih botol susu dan susu formula hehehe)
- Nah yang di pigura belakang itu foto Baby R yang aku ceritakan tadi

Beberapa barang yang nggak terfoto tapi kubawa pulang adalah termometer (masih yang analog alias jadul, belum digital), kapas bulat dan pembalut nifas.

Ok, sekian dulu sharing kali ini. Back to duty; ngajakin main Baby R yang baru kebangun jam 9 malam tadi. Ciao!

03 March 2019

Belajar

Menjadi ibu baru bukan lah perkara mudah. Setiap hari adalah masa belajar, tapi ujiannya bisa dadakan. Bahkan untuk sekadar mengangkat atau menggendong, mungki anakku juga tidak selalu merasa nyaman. Ditambah lagi saat diingatkan suami atau ibuku untuk berhati-hati, satu mantra yang selalu kulafalkan: "Bismillah, ini ciptaan Allah, nggak mungkin gampang rusak. Masak kalah sama gundam.." Meski begitu, rasa percaya diri untuk sekadar menggendong kadang masih ciut.

Tiga minggu lebih berlalu, aku yang masih begini-begini saja, rasanya malu pada anakku yang lebih cepat belajar. Belum genap dua minggu waktu itu, ia sudah bisa duduk anteng di car seat untuk menjemput eyangnya di stasiun. Minggu lalu waktu belum genap tiga minggu, ia pun sudah mau meminum ASIP dari cup feeder untuk persiapan kalau-kalau aku harus pergi atau kuliah. Aku malah makin minder karena bahkan memakaikan baju sehabis mandi saja rasanya masih terlalu lama sampai-sampai si anak bayi kedinginan, protes dan berakhir menangis sejadinya (ini salah satu contoh ujian dadakannya).



Rasanya nggak adil, ya. Nak bayi sudah begitu nurut dan nggak rewel saat harus belajar sesuatu yang diluar kebiasaannya, tapi aku sebagai ibu masih kagok, kaku dan bahkan kadang bingung saat mengurusnya. Tidak kurang-kurang aku mengutuki diri sendiri saat anakku menangis atau tidak bisa tidur, tapi aku tidak bisa menjadi "problem solver"-nya.

Tapi bagaimanapun, ini proses belajar seumur hidup bagi kami berdua. Dan aku percaya bahwa di setiap prosesnya, di tahap apapun itu, pasti akan ada titik keseimbangan antara aku dan anakku, titik dimana kami berdua nyaman meskipun aku mungkin tidak melakukannya dengan sempurna.




01 March 2019

Diinduksi Lebih Sakit?

Clickbait banget ya judulnya? Hahaha berasa lagi baca judul artikel di Line Today gituu..

Tulisan ini harusnya di-posting minggu lalu. Tapi apalah daya, si mamak baru ini akhirnya merasakan yang namanya ketiduran gara-gara ngelonin anak. Bangun-bangun, eh sudah jam 12.30-an alias lewat dari deadline "noles". Pasrah dan berakhir mengibarkan bendera putih.. :)))

Sebetulnya aku pingin bahas tentang band yang akan (atau mungkin "sedang") naik daun dalam waktu dekat ini. Tapi karena menulis tentang karya suatu musisi itu harus di laptop sambil dengerin musiknya dan belum memungkinkan dilakukan saat ini, jadi anggap aja selama bulan Februari (dan Maret, mungkin) tulisanku akan banyak membahas tentang melahirkan dan perbayian karena bisa langsung ditulis lewat hp.

Nah, kali ini aku mau berbagi tentang proses melahirkan Baby R yang waktu itu harus melalui proses induksi. Jadi sejak memasuki minggu ke-37 aku mulai intens kontrol ke dr. Didi Dewanto, SpOG di RS Husada Utama. Dari yang awalnya sebulan sekali, jadi 2 minggu sekali (sekitaran minggu ke-32), dan jadi semingggu sekali waktu memasuki minggu ke-37. Di minggu ke-37 itu kondisi Baby R dinilai sudah matang dan siap keluar kapanpun dia mau, namun kondisi plasentanya waktu di USG 2D masih banyak titik-titik yang berarti belum matang atau belum siap rilis di waktu dekat ini. Bahkan dr. Didi berani berasumsi bahwa minggu depan pun dapat dipastikan belum lahir. Huft..

Minggu depannya, kami kontrol lagi dengan hasil yang masih 11-12. Padahal aku sudah lumayan rajin yoga, enjot-enjotan di gym ball setiap saat dan jalan pagi. Waktu itu aku juga sempat khawatir ketubanku rembes sampai-sampai dr. Didi membawakan kertas lakmus untuk jaga-jaga (padahal sudah dibilang nggak ada apa-apa tapi masih agak parno juga nih dasar new mom hahaha).

Di minggu ke 38-40, selain jalan pagi aku juga menambah porsi jalan dengan "mengabsen" mall yang ada di kota ini. Kalau jalan di mall entah mengapa waktu jalannya jadi nggak terasa dan tiba-tiba sudah dapat 3-4 jam. Meski begitu, ternyata di minggu 40 aku kontrol, si Baby R masih adem-adem bae di dalem perut; nggak ada kontraksi asli maupun palsu dan waktu dilakukan pemeriksaan dalam pun kepalanya masih jauh dari "pintu keluar". Akhirnya dr. Didi menyarankan agar aku mulai "masuk" (maksudnya check-in di RS) tepat di minggu ke-41 dan mulai diinduksi karena jika menunggu sampai 42 minggu khawatir bayi semakin berat dan kondisi ketuban semakin menurun. Beliau menjelaskan dengan tenang dan tanpa menakut-nakuti tentang alur induksi seperti apa. Biasanya obat akan dimasukkan melalui beberapa cara, bisa melalui obat minum, melalui vagina, atau infus. Sebelum dan selama proses induksi akan terus dimonitor detak jantung bayi, kondisi ketuban dan tekanan darah ibunya. Setelah 6 jam akan dievaluasi apakah perlu ditambahkan lagi obatnya atau ditunggu saja sampai lahiran. Yang perlu persiapan mental adalah ketika ternyata di tengah proses induksi ketuban pecah dini dan membahayakan bayinya, maka terpaksa harus dioperasi (caesar). Di titik itu, aku sudah berserah dengan apapun yang nanti akan terjadi.

Tibalah di hari aku masuk RS. Meskipun H-1 aku sudah mulai merasakan kontraksi, tapi dr. Didi melalui Whatsapp tetap menyarankan aku untuk masuk RS. Pagi itu sekitar jam 9 pagi, prosesnya santai bahkan hampir seperti check-in hotel; ke bagian reservasi (pendaftaran), tanda tangan form ini-itu, dan menunggu kamarnya siap. Menuju ke kamar, ternyata aku harus diantar dengan kursi roda! Ini ternyata SOP-nya RS dan kita nggak diperbolehkan jalan ke kamar (huhuhu berasa lemah). Sampai di kamar, aku langsung ganti baju RS dan mulai diobservasi. Pertama yang direkam adalah detak jantung bayi dan cek tensi. Kemudian baru sekitar jam 12.30 siang dr. Didi datang untuk cek kondisi ketuban dengan USG. Semua dirasa aman, baru lah proses induksi dimulai. Obat dimasukkan melalui vagina dan ditunggu perkembangannya sampai 6 jam.

Ternyata sore harinya aku sudah mulai merasakan kontraksi, tapi masih sangat bisa ditolelir. Bahkan aku sempat joget-joget sambil menyanyikan lagu iklan Contrexyn saat kontraksi, "kontraksi.. kontraksi.. bila si kecil panas~" Semakin malam kontraksi yang kurasakan semakin intens dan mantab. Rasanya seperti kram perut saat mens tapi 10x lipatnya. Memasuki sekitar pukul 2-3 dini hari, intensitas kontraksinya meningkat jadi sekitar 3-5 menit sekali dan rasa kram perutnya semakin aduhai. Sekilas aku sempat merasa hampir menyerah karena "sampai kapan harus merasakan ini???" Rasanya ingin fast-forward ke waktu melahirkan. Puncaknya saat menjelang adzan subuh, waktu itu aku sempat berpikir operasi saja biar cepat selesai. Tapi seketika itu juga aku istighfar karena.. Ya Allah, selama ini yang selalu aku minta lewat doa kan menjalani proses melahirkan dengan normal. Betapa bodohnya aku sempat kepikiran untuk operasi saja sementara dokter saja yakin aku bisa melahirkan dengan normal. Di puncak sakitku itu, ternyata suster datang untuk mengecek kondisiku (oh iya, selama proses induksi itu suster selalu memeriksa tekanan darah dan detak jantung bayi sekitar 2-3 jam sekali). Dan ternyata benar saja aku sudah bukaan 5. Pantas saja semakin mantab kontraksinya. "Kondisi jalan lahirnya sudah bagus. Ibu masih kuat jalan? Kalau kuat kita ke ruang bersalin ya.." kata susternya. Alhamdulillaaah, sudah dekat waktuku bertemu si Baby R.

Di ruang bersalin yang hanya berjarak 2 kamar dari kamar inapku itu, aku disarankan untuk mandi air hangat supaya relax. Sensasi mandi dengan kontraksi yang sudah intens? Hmm, gurih.. Untungnya di kamar mandi disediakan kursi jadi lebih nyaman mandinya. Setelah itu aku kembali berbaring di ranjang. Tekanan demi tekanan yang makin intens itu "kunikmati" dengan khidmat (dengan ngantuk sih, lebih tepatnya). Aku pikir perjalanan dari bukaan 5 ke bukaan 10 cepat, apalagi aku sudah disuruh standby di ruang bersalin. Ternyata oh ternyata, sampai jam 8 pagi kondisiku masih di bukaan 8. Masih kurang 2 bukaan lagi sampai aku diperbolehkan untuk mengejan. Menjelang pukul 09.00, rasanya sudah tidak tahan lagi dan lebih seperti auto-ngejan. Rasanya seperti kebelet pup tapi pupnya sudah mau keluar. Aku minta Rizal untuk memanggil suster. Ternyata benar, bukaan sudah lengkap dan tinggal menunggu dokter barulah aku boleh mengejan. Jam 9 tepat dr. Didi sampai di kamar bersalin. Setelah proses mengejan pertama gagal, aku disuruh mengejan dengan berbaring hadap kiri. Di sana kata Rizal jambulnya si Baby R sudah kelihatan. Makin semangat mengejan lah aku! Tapi ternyata napasku belum kuat. Sampai akhirnya di proses mengejan yang ketiga, dibantu suster naik ke atas ranjang dan menyangga punggungku sambil menekan perut atasku, ditambah adrenalin yang terpacu, akhirnya keluarlah Baby R dengan lengkap tepat pada pukul 09.14. Allahuakbar, alhamdulillah..

Rasanya lega sekali waktu merasakan kakinya menendang-nendang menyentuh pantatku waktu itu. Dan waktu ia dipindah ke tempat tidur bayi di samping kiriku, aku menatap wajahnya untuk pertama kali. Haru sekali.. :')

Tapi belum selesai rasa haru itu, aku disuntik dan disuruh berhitung. Di hitungan ke 11, rasanya pandangan mataku jadi kabur dan mengganda, aku seperti nge-fly. Ternyata aku dibius untuk dijahit dan diberi waktu untuk beristirahat. Belum genap satu jam kemudian aku terbangun, dan Baby R segera di-IMD (Inisiasi Menyusui Dini) padaku. Alhamdulillah.. Lega sekali rasanya semua sudah terlewati..

Jadi kesimpulannya apakah diinduksi lebih sakit daripada yang alami? Menurutku, karena belum ada pembandingnya yg kualami sendiri ya namanya melahirkan pasti sakit. Nah setahuku orang-orang dengan proses alami biasanya ke RS atau bidan saat sudah bukaan tertentu, sementara orang yang diinduksi "diberi kesempatan" untuk menikmati proses dari sebelum kontraksi sampai kontraksi intens dan menikmati bukaan demi bukaan. Karena menikmati proses itu sekitar lebih dari 12 jam (bahkan aku 20,5 jam sejak obat dimasukkan), maka itu lah yang dinilai orang-orang "lebih sakit". Tapi yaaa dibikin happy dan semangat saja, karena makin sakit berarti makin dekat waktu kita bertemu si baby. Dan jangan berpikiran bodoh seperti aku yang sempat hampir putus asa ya.. :D

15 February 2019

Pergi Berdua

Hari ini tepat seminggu setelah Baby R lahir, yang berarti waktunya kontrol pertama ke dokter anak sekaligus vaksin polio. Karena Rizal kerja dan mamaku ada keperluan yang mengharuskannya kembali ke Jogja, jadilah aku pergi kontrol berdua saja sama Baby R. Nekat? Enggak juga. Ini namanya MODAL YAQUEEENNN.

Bagi banyak orang tua baru, pergi berdua saja dengan bayi usia seminggu pasti deg-degan. Pasti khawatir juga bayinya akan rewel dan berujung bingung bagaimana harus menghadapinya. Itu juga terjadi pada aku. Bahkan malamnya aku sempat kepikiran dan agak susah tidur (sudah merem tapi nggak tidur2 gitu). Tapi aku berusaha tenang dan yakin pada intuisiku sebagai seorang ibu. Aku juga harus yakin bahwa anakku akan tenang kalau ibunya juga tenang, dan percaya bahwa dia nggak akan menyusahkan kita. Bismillah.

Pagi pun tiba. Aku, Rizal dan Baby R sempat mengantar mamaku ke stasiun sebelum Rizal kerja. Setibanya kembali di rumah, aku dan Rizal juga masih sempat sarapan bersama. Barulah setelah Rizal berangkat, aku merasa tantangan dimulai. Bagaimana aku mandi dan harus meninggalkan Baby R sendiri? Karena aku nggak mau Baby R lepas dari pengawasanku, akhirnya dia aku letakkan di stroller, dan stroller-nya aku parkir di depan kamar mandi tanpa ditutup pintunya. Oh iya, pagi ini rasanya Baby R (dan semesta) mendukung dengan adanya kejadian Baby R pup banyak sekitaran jam 6 pagi. Jadi daripada dua kali kerja (ganti popok dan mandi), akhirnya kami memandikan Baby R sekalian. Inilah yang mempersingkat waktu berangkat kami ke RS nantinya.

Setelah aku mandi? Tantangan baru muncul. Baby R yang semula masih anteng mulai kluget-kluget minta mimik. Setelah mimik, ganti baju. Aman? Belum, Saudara-saudara. Ternyata dia minta mimik lagi setelahnya. Emaknya? Rambut belum dikeringkan, baju belum dipakai lengkap. Alhasil, saya yang tadinya berniat berangkat jam 09.30 molor jadi hampir jam 10.30. 

Sebelum berangkat, waktu Baby R sudah tenang, aku coba berkomunikasi dengannya. Aku bilang, "Kita mau pergi ke RS berdua saja ya Sayang, jadi jangan rewel.. Jangan bikin bapak khawatir ya sayang ya.." sambil menatap matanya. Dari yang tadinya masih lumayan kluget-kluget, Baby R langsung diam dan nggak lama tidur pulas. Alhamdulillah waktu di RS pun di tertidur pulas dan baru mulai kluget-kluget lagi di 3/4 jalan arah pulang. Ajaibnya, sampai di dalam rumah dia baru menangis minta mimik lagi. Huhuhuu Mamabon terharuuu.. Anak umur seminggu pun ternyata nggak boleh diragukan kemampuan komunikasinya. Mereka ternyata mengerti loh apa yang kita bicarakan dan sugestikan.. :')

Mamabon khawatir Baby R kedinginan di taksi, alhasil selimutnya rangkap dua plus kupluk

Beberapa saat setelah kluget-kluget, sepertinya kesumukan dan Mamabon baru ngeh kalau ada kancing samping leher yang belum dikancingkan :)))


Ok, sekian cerita tentang perbayian kali ini.  Jadi selain belajar tentang bayi yang sudah bisa diajak komunikasi, aku juga belajar bahwa kalau mau pergi sama bayi siap-siapnya sebaiknya sekitar 2 jam sebelumnya, karena doi pasti  akan minta mimik sekali-dua kali sebelum berangkat. So, terima kasih Baby R untuk kerjasama dan perjalanan yang asik hari ini. Mama luvs youuu..

10 February 2019

Finally..





Finally the wait is over..

Welcome baby R to the world
And welcome me to the motherhood journey..


03 February 2019

Comfort Food

Sama seperti rumah, masakan ibu adalah tempat hati dan jiwa pulang.


Sejak 2014 lalu aku mulai merantau ke luar kota karena tuntutan pekerjaan. Praktis, aku jadi sangat jarang merasakan masakan mama. Paling hanya sebulan sekali waktu pulang, itu pun masih harus dibagi dengan acara makan di luar rumah. Pernah suatu saat tiba-tiba air mataku jatuh saat menonton iklan bumbu masak bertema Hari Ibu atau mudik (aku lupa). Duh, rasanya auto-kangen sama masakan mama terlebih lagi waktu itu belum bisa pulang karena peak season



Hanya sebagian kecil masakan mama yang terabadikan 


Sudah hampir tiga minggu ini mama menemaniku menanti kelahiran si Utun. Selain ingin jadi salah satu orang pertama yang melihat cucu pertamanya, mama juga turut menjaga kesehatan dan giziku lewat masakannya. Terbukti, di dua minggu awal mama di sini berat si Utun naik sekitar 300 gram. Hmm kalau berat badan emaknya sih jangan ditanya ya naik berapanya.. :p

Setiap hari mama dengan semangat memasak ini-itu, berganti-ganti menu. Semangatnya masih sama persis seperti masa-masa sebelum aku merantau. Mungkin sama seperti aku, beliau pun juga sedang menikmati masa nostalgia memasak untuk anaknya. Selama tiga minggu ini pun lidahku termanjakan masakan-masakan mama semasa aku sekolah dulu. Jadi ingat, waktu SMA bahkan mama hafal makanan kesukaan sahabat-sabahatku karena mama selalu memasak untuk mereka sewaktu mereka main ke rumah. Waktu itu pun aku sampai harus bawa bekal dua wadah; satu untukku dan yang lain untuk dimakan teman-temanku. 

Comfort Food atau yang secara harfiah adalah "makanan yang menenangkan", menurutku adalah makanan-makanan favorit yang bisa meningkatkan suasana hati, atau bisa juga makanan yang familiar dengan lidah kita, yang bisa membuat perasaan kita nyaman. Apalagi masakan orang tua kita, yang selama berbelas bahkan berpuluh tahun kita nikmati. Begitu tipikal masakan itu lama tidak kita nikmati, ada rasa kangen yang pasti akan muncul dalam hati kita. 

Aku pun beberapa kali berucap, "Wah, rasanya mirip kayak masakan mama," saat makan di perantauan saking kangennya meskipun yah, nggak mirip-mirip amat. Sama seperti aroma yang bisa memunculkan memori tertentu saat kita menciumnya lagi, menurutku makanan pun ada yang bersifat "nostalgic". Panca indera dan otak kita semacam terkoneksi dan bisa sewaktu-waktu menyimpan memori dan mengeluarkannya kembali berdasarkan apa yang kita rasa melalui panca indera, termasuk makanan yang kita santap. Tapi seenak dan semahal apapun makanan di luaran sana, bagiku tidak ada yang bisa menggantikan kenikmatan masakan mama.

Jadi selama tiga minggu terakhir ini rasanya senaaang sekali bisa bernostalgia dengan cita rasa makanan yang sangat familiar dengan lidahku. Meskipun mungkin bagi orang lain kurang gurih karena mama "anti mecin club", tapi justru itu lah yang membuat lidahku terasa nyaman. Semoga nantinya aku bisa seperti mama yang bisa selalu menyediakan Comfort Food buat keluarga. Amin... ❤


27 January 2019

Resep Masakan Turun Temurun: Deng Sraneh


Yuhuu seperti janjiku minggu lalu (berasa ada yang nungguin aja wk), aku akan membagikan resep salah satu masakan turun temurun di keluarga besarku dari Bangkalan. Namanya Deng Sraneh. Deng sendiri singkatan dari bandeng ya, bukan gendeng. Sedangkan sraneh, aku pun tak tau ini artinya apa meskipun sudah browsing sana-sini dan tanya ke bapak sebagai "native" Bangkalan. Tapi... Apalah arti sebuah nama. Yang penting masakannya enak. Bukan begitu saudara-saudara?

Baiklah, kita mulai ya. Masakan ini untuk sekitar 2-4 porsi, dan bahan yang perlu dipersiapkan:

1 ekor ikan bandeng (aku pakai yg ukuran lumayan besar, 7-8 ons)
3 siung bawang merah
3 siung bawang putih
2 buah cabai merah besar (bukan cabai keriting ya) dan harusnya bijinya dihilangkan
Laos, jahe, kunyit masing-masing 1 ibu jari
Asam jawa secukupnya



Proses masaknya simple banget. Bahan-bahan yang sudah dipotong seperti di foto pertama, digoreng satu per satu. Jangan digoreng berbarengan yaa, soalnya nanti rasanya malah beda.








Diamkan sebentar sampai ikan matang, dan tambahkan kecap sedikit aja biar makin sedeeeeppp.

Tadaaaa!!!
This is it! Deng Sraneh à la Chef Bonbon. 


Selamat mencoba bagi yang mau mencoba yaa. Ini menurutku sih anti gagal. Karena kalau Bonbon aja bisa, kalian pasti juga bisa! :)))




20 January 2019

Instagram Detox

Hari ini tepat 4 hari sudah aku logout dari aplikasi Instagram (IG). Dan terbukti, ternyata aku baik-baik aja loh tanpa ber-IG ria. :D

Mungkin pada bertanya-tanya (pede banget kayak ada yang nanyain wkwk), kenapa aku istirahat dari dunia IG dan gimana rasanya. Kalau kenapanya, aku merasa selama tiga minggu cuti gravida ini rasanya makin ke sini hidupku makin kurang produktif. Tangan nganggur dikit, yang dibuka IG. TV dinyalain, yang diliat IG. Bahkan bangun tidur buka mata habis cek jam, langsung liatin IG dulu baru beraktivitas. Lama-lama ngerasa kalau hidupku isinya IG-an terus dan makin jauh sama salah satu resolusi 2019-ku.

IG menurutku adalah suatu wadah berkreasi bagi banyak orang yang bisa dinikmati orang lain, baik dari postingan foto ataupun dari video di IG Story dan IG TV. Tapi kalau penontonnya nggak bijak (kayak aku), rasanya malah semacam disetir sama IG. Pasti ada perasaan, "eh tadi si A update sesuatu kelanjutannya gimana ya?" Atau, "eh perkembangannya blablabla gimana ya?" Dan kalau di aku pribadi salah satunya adalah, "eh kabar teman-teman kantor gimana ya?" 

Gongnya adalah saat kuota 15 GB habis hanya dalam waktu sekitar 5-6 hari saja! Karena kuota Youtube ada sendiri, jadi bisa dipastikan kalau 15 GB itu mayoritas habis di IG. Kok nggak pasang wifi atau top up kuota aja?? Betul itu bisa jadi jalan keluar, tapi justru nggak ada sisi edukasinya buat diriku sendiri. Masak udah sadar kalau konsumsi media sosialnya berlebihan tapi malah makin dimanja? Ibaratnya orang sudah obesitas, pas lagi lapar nggak dikasih nasi+lauk tapi malah dikasih camilan terus menerus.

Nah selanjutnya, gimana sih rasanya lepas IG selama 4 hari ini? Masih hidup sih, meskipun memang tidak dipungkiri dalam hati kecil merasa ada yang hilang dan merasa nggak update dengan kehidupan teman-teman. Tapi sisi baiknya, aku jadi minim distraksi buat persiapan melahirkan, misalnya jadi lebih banyak baca dan browsing tentang perbayian. Dan tentu saja (karena mama juga sudah standby di sini), aku jadi lebih produktif masak memasak. Di postingan selanjutnya aku akan bahas salah satu masakan turun temurun yang ternyata super gampang meskipun harus memakai "bumbu jangkep". Lumayan lah ya, salah satu resolusiku ada yang bisa dicentang. :D

13 January 2019

Klotok is Love, Klotok is Life

Kalau di Jogja, klotok identik dengan nama tempat ngopi dan makan ala ndeso; Kopi Klotok. Nah, kalau di Surabaya, ternyata klotok ini adalah olahan ikan pindang yang sudah diasinkan. Pertama kali tau tentang masakan klotok ini waktu dibawain sarapan super spesial sama mamanya salah seorang sahabatku di kantor, Didi. Biasanya kalau unit kecil kami sarapan bareng dengan menu oseng klotok ini, sudah dipastikan bakalan nambah nasi berkali-kali dan klotoknya sendiri benar-benar ludessss habiss.

Gara-gara lihat postingan instagram Kakak Yuwan dan Bunda Suci masak Klotok, jadilah di hari Minggu ini, yang mana juga sudah dianangkan sebagai Hari Masak-memasak Nasional (antara aku dan Rizal aa sih sebenrnya wkwk), jadilah kami ke pasar pagi-pagi untuk belanja bumbu dapur, klotok dan juga teri. Jad tema masakan hari ini adalah.. Yup, ikan asin.

Bumbunya, minus daun jeruk purut yang lupa difoto

Dalam lakon "Hari Masak Memasak Nasional"

Pertama-tama, kami mengeksekusi sambal bajak dan goreng teri. Selanjutnya, menu kedua yang dieksekusi adalah oseng teri terong lalap. Naaah terakhir, gongnya adalah menu favorit yang sudah dibayangkan sejak beberapa hari yang lalu, yakni oseng klotok. Berbekal ngintip resep di blog Bunda Suci dan Kakak Yuwan, plus WA-an dengan Bunda Suci, akhirnya jadilah oseng klotok pertamaku. Yeaah!





Oh iya, jadi ingat salah satu resolusi 2019-ku "Belajar Masak Masakan Khas Indonesia", aku sudah berhasil masak kare berkat ilmu dan tuntunan dari suami tercinta yang pada dasarnya memang lebih pintar masak daripada aku. Hihihi. Lumayan lah ya, masakan jadi lebih bervariasi dan nggak cuma osang-oseng osang-oseng aja. :D

06 January 2019

Jalan-jalan Sembilan Bulan

Jadi gimana kabarnya yang sedang menjalani 1 minggu dari total 5 bulan Cuti Gravida? Yang jelas sih, bikin aku salut banget sama ibu-ibu rumah tangga karena pekerjaan mereka nggak ada habisnya, apalagi kalau disambi mengurus anak. Aku bisa bilang begitu karena justru seminggu penuh di rumah lah yang menyebabkan kakiku sering bengkak pertanda kecapekan karena terlalu ambisius ingin mengerjakan segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga dan lupa kalau si Utun sudah masuk bulan kesembilan di perut. Akhirnya sekitar 2-3 hari terakhir aku mulai menjadwal kegiatanku supaya tidak terlalu capek dan lebih banyak istirahatnya. Ya maklum lah, siang hari di rumah nggak ada temannya jadi maunya berkegiatan ini-itu biar nggak bosan, eh tapi malah kebablasan aktifnya hehehe.

Setelah seminggu berjibaku dengan kegiatan domestik, hari ini beberapa teman kampus "menculikku". Memang sudah sejak beberapa hari yang lalu salah seorang teman baikku berencana main ke rumah, tapi ya aku pikir hanya akan jadi cerita fiktif belaka. Eh ternyata pagi ini dia bersama empat temanku yang lain datang ke rumah dan mengajak sarapan bareng. Awalnya mau Go-Food saja, ternyata kami harus menunggu sekitar setengah jam sebelum si abang Gojek-nya berangkat. Hmm, mungkin baru bangun tidur. Akhirnya kami memutuskan cari makan di daerah dekat Pondok Candra, lebih tepatnya di Jalan Mangga II, namanya Kedai Mangga Dua. Wow! Nama yang sungguh bukan ketidaksengajaan ya! :))


Menu yang mirip Bu Rudy punya.

Mie pangsit dengan ayam yang bertaburan seperti bintang-bintang di langit.


Kalau dilihat-lihat, menu nasi udang empalnya mirip sekali dengan Bu Rudy. Dari hasil icip-icip tetangga, secara rasa pun juga nggak kalah. Nah kalau secara harga, yang di sini pastinya lebih miring daripada Bu Rudy. Hehehe. Aku sendiri hampir pesan nasi udang itu juga. Tapi entah mengapa aku lebih tertarik pada mie pangsitnya. Dan ternyata pilihanku tidak salah. Rasanya sesuai ekspektasi dan pangsit rebusnya pun juga nikmat. :3 Untuk harganya sendiri, kami makan berenam sudah dengan minum dan kerupuk puli 2 bungkus total IDR 159ribu. Cukup murah kan.. :D

Setelah sarapan, ternyata teman-temanku yang sangat impulsif ini mengajak piknik tipis-tipis. Pilihannya mulai dari Ekowisata Mangrove, Bukit Jeddih (Bangkalan), bahkan JOGJA atau SOLO! Kata mereka, sekalian nyoba tol baru yang katanya sih perjalanan ke Solo bisa ditempuh dalam waktu 2 jam saja. :))) Sebagai anggota piknik dengan kondisi khusus (dan mungkin yang paling waras :p) akhirnya aku minta ke Ekowisata Mangrove saja karena yang paling dekat jaraknya dengan tempat makan kita sekaligus dari daerah rumahku. 

Begitu sampai di sana ternyata wow, mobil dan motor yang terparkir bisa dibilang sudah cukup memenuhi lahan parkirnya. Dari tempat parkir utama, akhirnya kita memutuskan gas terus sampai ke tempat parkir (yang sebetulnya lebih tidak beraturan) yang lebih dekat dengan dermaga. Untuk biaya parkirnya sendiri bertarif IDR 10ribu. Di tempat inilah kami membeli tiket pergi-pulang untuk naik kapal menyusuri muara dengan pemandangan mangrove dan berhenti di kawasan lain yang berisi banyak pondokan kayu yang terhubung dengan jembatan-jembatan bambu.

Kapal yang cukup besar, muat lebih banyak orang dan bisa menampung penumpang di dek bawah.

Aku dan teman-temanku lebih memilih naik kapal motor yang model terbuka seperti ini supaya lebih bisa menikmati pemandangan (dan lebih mudah menyelamatkan diri kalau-kalau... :p)

Ini penampakan dermaga pemberangkatannya. 
Kalau ini penampakanku bersama para penculikku. 
Pingin mengabadikan momen jalan-jalan naik kapal bareng si Utun di dermaga tujuan.
The art of doing nothing di pondokan; tanpa sinyal hp, tanpa wifi, ditemani angin pantai yang bikin ngantuk, ditambah main ABC nggak jelas. :)))







Pada dasarnya membuat Ekowisata Mangrove di kota yang nyaris tidak memiliki wisata alam adalah ide yang bagus, namun sayang belum tereksekusi dengan baik, kalau menurut pendapatku. Ekowisata ini masih jauh kalau dibandingkan dengan BJBR di Probolinggo. Yah, mungkin karena perbedaan ketersediaan sarana-prasarana dan kontur alamnya juga ya. Saranku kalau diantara kalian mau ke sini, bawalah bekal yang banyak, bahkan lebih baik lagi kalau bawa nasi beserta lauk-pauknya (rantangan, misalnya). Karena begitu sampai di pondokan setelah berperahu ria, kalian tidak akan menemukan kafe atau penjaja makanan selayaknya di BJBR (lagi-lagi). Berapa lama sih kita bisa tahan hanya duduk, tidak melakukan apapun tanpa hp dan internet, dan juga tanpa makanan atau camilan? Paling hanya 15-30 menit sebelum benar-benar merasa jenuh.


Tapi secara keseluruhan sih aku senang sekali bisa jalan-jalan dan refreshing setelah "mengungkep" diri di rumah selama semingguan. Ditambah lagi guyonan dengan teman-teman cablak yang bikin perut makin kaku. Jadi makin happy deh! :D