11 November 2018

Pengalaman USG 4D di Surabaya

Sekali-sekali bikin tulisan yang berfaedah tentang kehamilan lah ya.. hehehe


Minggu ini usia kehamilanku memasuki minggu ke-28 alias bulan ketujuh. Selayaknya mak-mak lain dan juga trend yang bertebaran di sosial media, pasti kepingin dong USG 4D untuk melihat tubuh si dedek dengan lebih jelas pluuus tebak-tebak buah manggis kira-kira wajahnya lebih mirip siapa. Jadilah minggu ini aku browsing dimana tempat USG 4D yang aman (di kantong).

Dari beberapa hasil studi di UGM (Universitas Google Mandiri), ada 2 pilihan tempat yang nggak terlalu jauh dari tempat tinggalku saat ini (daerah Bratang Gede, Surabaya) yaitu Graha Masyithoh dan Klinik Kehamilan Sehat. Aku bahas satu-satu ya..


1. Graha Masyithoh

Alamatnya di Jalan Menur Pumpungan, tepat di sebelah Apartemen Gunawangsa Manyar. Di sana ada praktek dokter SpOG terkenal, dr. Harris, dan partner-nya dr. Yusuf. Berikut ini detail jam prakteknya:



Meskipun tersedia layanan Whatsapp, tapi mereka tidak melayani pendaftaran via Whatsapp 1 hari sebelumnya. Jadi pendaftaran dan pemeriksaan harus dilakukan di hari yang sama. 

Nomor Whatsapp: 0817 559000 

Biayanya sendiri aku belum sempat bertanya-tanya lebih jauh. Namun (lagi-lagi) berdasarkan hasil studi UGM di sini, untuk pemeriksaan dan USG 4D biayanya IDR 160.000,- (per Oktober 2017)


2. Klinik Kehamilan Sehat

Klinik ini sekilas tidak begitu nampak dari jalan, ciri-ciri bangunannya adalah (saat ini) pagar cat hijau dengan papan nama dr. Amir Fahad, SpOG. Ancer-ancer lokasinya ada di seberang Bandeng Juwana, lebih tepatnya di Jalan Ngagel Jaya Utara no. 96, hanya berjarak sekitar 500 m dari lampu merah (karena jalannya searah jadi lampu merah yang aku maksud cuma ada satu itu aja ya..)

Kebetulan aku memilih klinik ini karena jaraknya lebih dekat dari tempat tinggal dan pendaftaran bisa dilakukan kapanpun selama masih berada di bulan yang sama melalui Whatsapp. Aku pun baru mendaftar di H-1 dan diberi arahan untuk datang sekitar jam 10.00 - 10.30 keesokan harinya. Untuk jadwalnya sendiri bisa ditengok di http://kehamilansehat.com/kehamilan-sehat-surabaya/.

Nomor Whatsapp: 0812-3885-3880

Secara keseluruhan, aku puas dengan pelayanan dan fasilitas kliniknya. Begitu datang, aku disambut petugas pendaftaran dengan ramah. Prosedur standar seperti timbang dan cek tekanan darah juga langsung dilakukan dengan cekatan. Selanjutnya aku disuruh menunggu dokter di ruang tunggu yang nyaman ber-AC. Di sana ada fasilitas seperti TV dan dispenser. TV nya sendiri ada dua; yang satu untuk menyetel acara stasiun TV biasa, yang satu lagi berisi edukasi tentang kehamilan dan reproduksi, membuat waktu menunggu kita jadi lebih berfaedah.

penampakan meja pendaftaran
di samping meja pendaftaran disedikan "sajen" buat yang kepingin ngemil
penampakan ruang tunggu yang nyaman + TV untuk menyetel acara TV swasta

tampak depan ruang periksa + TV yang berfungsi untuk sarana edukasi

jangan khawatir kehausan


Oh iya, meskipun kita sudah mendaftar lewat Whatsapp, tapi kita tidak akan mendapatkan nomor antrian. Jadi aku sarankan sebaiknya datang lebih awal karena nomor antrian akan didasarkan pada urutan kedatangan. 

aturan mainnya nih..

Tibalah saatnya giliranku masuk ke ruang periksa. Di dalam ruang periksa yang cukup luas, ada sofa untuk bumil dan pengantar, peralatan USG dan juga kamar kecil. Aku pribadi suka dengan konsep sofa ini karena membuat konsultasi antara bumil dan dokter jadi terasa lebih santai, seperti ngobrol-ngobrol biasa. Sayangnya selama di dalam ruang pemeriksaan kita sama sekali tidak boleh merekam atau memfoto. Setelah ngobrol singkat, aku dipersilakan berbaring di tempat tidur periksa. Seperti biasa, perut dioles-oles dengan cairan dingin transparan dan mulailah proses USG.

Dokter yang memeriksaku tampak masih muda. Dan dengan ceplas-ceplosnya dia mengatakan bahwa posisi bayi masih sungsang padahal di usia 7 bulan posisi kepala harusnya sudah di bawah (seketika raut wajah Rizal langsung muram). Selain itu ia juga mengatakan bahwa bayiku agak kelebihan berat badan (padahal perasaan cuma kelebihan 2 ons, hiks). Dokter melanjutkan dengan pemeriksaan detak jantung, diameter kepala, jenis kelamin dan kelengkapan organ. Ia juga menyarankan agar aku lebih banyak jalan, melakukan posisi sujud atau nungging-nungging supaya bayinya segera berputar sebelum terlambat. #DHUARRR

Karena posisi bayi yang belum turun, wajah tertutup tangan dan bagian depan badannya tertutup (kalau tidak salah) plasenta, akhirnya dokter memutuskan untuk belum mencetakkan hasil USG 4D-nya. Jadi aku dan Rizal di sana hanya bisa menyaksikan langsung tanpa boleh direkam sama sekali. Sabar sabar.. Semoga seminggu-dua minggu lagi posisi si Adek sudah turun dan lebih leluasa untuk di foto yaa, amiiiin..

Setelah selama ini berkonsultasi dengan dokter senior yang kalem dan saran-sarannya super menenagkan, rasanya sempat kaget juga dapat dokter muda yang super ceplas-ceplos. Kalau si bumil adalah tipe pemikir, bisa jadi pulang dari klinik malah stress gara-gara divonis "sungsang". Aku pribadi sih berpikiran positif dan mengambil saran baiknya, bahwa aku harus sering-sering jalan kaki dan melakukan posisi sujud atau nungging. Berbeda dengan Rizal yang seketika bete dengan si Dokter yang menurutnya tidak memberikan rasa tenang sama sekali dan malah khawatir aku jadi berpikir yang enggak-enggak. Hehehe

Selesai diperiksa, kita dipersilakan menyelesaikan administrasi di ruang pendaftaran awal sekaligus diberi map yang berisi hasil periksa dan hasil cetak USG 2D. (foto menyusul)

price list per Mei 2018


Baiklah, demikian postingan yang (menurutku) cukup berfaedah selama kehamilan ini. Mohon doanya yah, semoga si Adek (dan emaknya) sehat selalu, dan terutama buat si Adek semoga segera berputar ke arah keluarnya nanti.. :D







04 November 2018

Senyumin Aja

Senyumin aja sambil bilang, “Ehehehehe iyaa..” Terus kabur tinggal pergi. 
Atau justru dibawa bercanda aja biar nggak tegang.


Itu adalah reaksiku ketika ada orang yang komentar:
  1. “Berapa bulan? Segitu bulan kok udah gede banget perutnya?”
  2. “Item banget lehernya?”
  3. “Mukanya kucel gitu ya..” atau bahkan, “Kamu kok belang?”
Permisi buibu pakbapak, saya juga bahkan ngga tau kenapa bisa beginiii.. :)))

Da aku mah cuma bisa pasrah aja yang namanya leher jadi menghitam, wajah kucel dan bruntusan, perut lebih gede dibanding wanita hamil kebanyakan. Ya mau diapain lagi, tiap wanita hamil pasti bawaannya beda-beda; ada yang makin cantik dengan 'pregnancy glow'-nya, dan ada yang makin kusam kayak aku. Yang terpenting saat ini adalah aku dan anakku sehat.

Ngomong-ngomong tentang komentar orang, aku jadi ingat waktu di awal kehamilanku yang waktu itu baru jalan sekitar 3 bulanan. Ada teman kuliah (yang bahkan waktu itu kami belum resmi berkenalan), tiba-tiba berkomentar, “Kamu hamil Mbak? Anakmu pasti cowok nanti, soalnya kamu jelek.” Hmmm mbak, kita baru ketemu di sini loh.. Emang tau dulunya aku kayak gimana? :)))

Waktu itu sih aku cuma menanggapi dengan frase sakti untuk berbasa basi “hehehehe” ditambah muka bingung. Asli bingung sih mau komentar apa, lha wong kenalan aja belum. Waktu itu perasaanku bercampur antara kesal dan bingung, tapi lebih banyak bingungnya. Kok bisa ya ada orang kayak gitu?? Apalagi orang itu sudah pernah hamil dan melahirkan lho. :)))

Sebetulnya tulisan ini ditulis tanpa tendensi dan emosi. Cuma ingin mengingatkan terutama pada diriku sendiri juga untuk nggak berkomentar negatif pada orang lain, mau itu orang hamil atau bukan, ke siapapun sebisa mungkin harus selalu komentar positif atau paling nggak komentar netral. Lagipula, nggak ada salahnya kok bahkan kalau kita nggak berbasa-basi atau berkomentar apapun ke orang lain. Hehehe

Di sisi lain, sebagai “korban” kita juga nggak perlu ambil pusing dan emosi terlalu berlebihan ketika ada orang yang berkomentar negatif langsung ke kita. Yang pertama, emosi jelas nggak berfaedah. Yang kedua, bisa jadi orang yang ngomentarin kita semenit kemudian udah lupa apa yang dia omongin. Kalau dia aja lupa, ya ngapain kita capek-capek emosi?

Terakhir, aku mau berbagi foto yang diambil sekitaran 3 minggu lalu waktu pernikahan sahabatku, Pipit. Di sini aku akhirnya merasakan yang namanya ‘pregnancy glow’. Ya iyalah, make-up nya pakai MUA gimana ngga 'glowing'??? :)))



And the laaast.. let me welcoming myself to the last trimester. 
Woohooo!!



28 October 2018

Old but Gold

Sekitaran satu setengah tahun lalu, aku pernah menangis sesenggukan di ruanganku yang kebetulan (untungnya) hanya ditempati aku sendiri. Penyebabnya, kartu pos dari Sheffield, UK bertandatangan sahabatku, Dhea, akhirnya sampai di kantor. Tiba-tiba aku merasa sangat sedih waktu membacanya meskipun kartu pos itu tidak berisi berita duka dan justru berisi pesan-pesan menjelang pernikahanku. Waktu pertama kali kartu pos itu datang, rasanya aku senang sekali dan sedikit norak, "Wah akhirnya kartu pos dari seberang lautan sampai juga". Namun saat membaca tulisan Dhea, aku nggak sanggup membendung air mataku. Semakin aku membacanya berulang kali, semakin menjadi pula tangisanku. Kemudian aku sadar, bahwa aku terlampau rindu pada sahabat-sahabatku. 

Salah satu hal yang mungkin aku sesali adalah kurang loyalnya aku pada acara kumpul atau main dengan mereka selama SMA sampai kuliah. Anak tunggal perempuan cukup banyak aturannya di rumah kala itu. Padahal lepas masa kuliah, kita belum tentu bisa kumpul bareng dengan pilihan waktu yang cukup fleksibel seperti dulu. Sampai sekarang pun sebagian sahabatku masih berkuliah di luar negeri, dan sebagian yang menetap di Indonesia bekerja di Jakarta. Kami "tercerai-berai".

Akhirnya sekitar 2-3 minggu lalu aku berkesempatan untuk kumpul kembali bersama mereka di pernikahan sahabat kami, Pipit, meskipun tidak lengkap. Tidak membuang-buang waktu, aku menghabiskan waktu dari subuh sampai isya dengan sahabat-sahabat perempuanku; mulai dari dandan bareng sampai gosip bareng. Meski sudah bertemu seharian penuh, selalu saja waktu terasa kurang. Yah, begitulah yang namanya sahabat lama. Waktu terasa nggak akan pernah membosankan bersama mereka dan selalu ada saja yang dibahas.

Kita tidak selalu dekat, kita tidak selalu bersapa di dunia maya, tapi sekalinya bertemu pasti guyonan-guyonan hangat itu tidak pernah berubah dari waktu ke waktu.


Mencoba menghadirkan sahabat kami yang masih kecantol di Jerman #namanyajugausaha


Kangen sekali rasanya setelah lihat foto ini. :'(




21 October 2018

Kapal Udara - Seru dari Hulu (review)

Setelah masuk dunia kerja, terlebih (hampir) jadi emak-emak, rasanya cukup sulit untuk terus update pada perkembangan musik indie tanah air. Selain karena sempat ditempatkan di kota yang minim pertunjukan musik bahkan tidak ada toko CD-nya, pun tidak ada lagi teman atau circle yang rajin memberi rekomendasi. Pindah ke kota besar, harapanku adalah bisa nonton banyak konser mulai dari yang kecil-kecilan sampai yang besar sekalipun. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain; mulai dari jadwal kuliah di hari kerjasampai munculnya si Adek di perut. Dua kehendak Tuhan yang membuat aku lebih memilih memperbanyak waktu istirahat daripada beredar kemana-mana.



Bisa dikatakan, "perkenalanku" dengan Kapal Udara malam ini pun adalah sebuah ketidaksengajaan. Dengan kondisi kram perut yang masih muncul tak menentu, aku mengusahakan untuk bertemu dengan sahabatku yang jauh-jauh datang dari Jogja unuk jadi band pengisi acara di Sunday Market. Tak disangka, band pengisi setelahnya ternyata mencuri perhatianku meskipun hanya sempat mendengar dua lagu pertamanya saja karena kuharus mengibarkan bendera putih, nggak sanggup berdiri lama apalagi di tengah riuhnya manusia yang merokok di sana-sini.

Inilah pentingnya first impression; meskipun penonton mungkin tidak mendengar jelas lirik lagunya, tapi sebuah band harus memainkan musiknya dengan padu, rapi dan apik. Perpaduan itu yang menjadikan musik Kapal Udara sangat ear-catchy sejak pertama mendengarnya. Inilah yang menjadi modalku untuk browsing dan langsung memberanikan diri menulis review tentang album Seru dari Hulu.

Album, atau yang mereka sebut dengan EP, ini berisikan lima lagu dan telah rilis sekitar Desember 2017 lalu. Di Sunday Market tadi, sekilas aku bisa merasakan hawa-hawa The Trees and the Wild (TTATW) lewat musiknya yang rancak dan suara vokal yang saling bersahutan dengan padu. Melodi gitar yang juga bersahutan pun membawa hawa yang sama, ditambah naik-turunnya ritme lagu yang dibuat sangat pas, menjadikan lagu-lagu Kapal Udara ini masuk ke tipe-tipe musik yang bisa mengajak pendengarnya bergoyang ringan, menggerak-gerakkan kepala ke kiri-kanan, bahkan headbang santun (apa coba???). Ya maksudnya beda sama headbang keras ala musik metal dan sejenisnya gitu, hehehe. Mungkin musik-musik ber-genre folk ini sudah banyak digarap oleh band-band yang berasal dari Bandung, Jogja atau Jakarta. Yang menurutku spesial dari Kapal Udara adalah mereka berasal dari Makassar. Kota yang kalau secara kemiripan, mungkin lebih mirip dengan Surabaya yang panas karena terletak di tepi laut sehingga (berdasarkan kesotoyanku) seharusnya musisi di sana lebih banyak menelurkan musik-musik beraliran rock dan sebangsanya.

Lagu-lagu dalam EP ini mereka beri judul yang unik dan menurutku sarat akan kearifan lokal; Menyambut, Melaut, Menanam, Menari, Merantau. Mendengar lagu mereka berulang ditambah membaca liriknya (di sini), membuatku sadar bahwa liriknya pun menjunjung tinggi kelokalan. Adanya sisipan puisi di lagu Menyambut, misalnya, pada kata-kata "Setelah jauh tuan berlayar, memberi gelar dan seribu kabar. Berkumpulah para saudagar, mohon urusan sekiranya lancar". Dilanjutkan dengan lagu kedua, Melaut, yang diawali samar suara debur ombak, seketika di pikiranku benar-benar tergambar adegan kapal phinisi mengarungi lautan. Lagu ketiga, Menanam, dengan tempo yang lebih pelan, seketika membawa anganku ke perjalanan melewati daerah yang subur dengan areal persawahan yang membentang luas di pagi hari sekitaran pukul 5.30 pagi saat mentari mulai menyingsing. Namun liriknya ternyata sarat makna adanya alihfungsi lahan, sepenangkapanku. Sedih ya. Tapi ini salah satu cara cerdas dari musisi untuk menyuarakan perasaan ibanya. Selanjutnya lagu berjudul Menari, salah satu favoritku, karena padu suara mereka sungguh apik dan ciamik berpadu dengan melodi gitar bersahutan, apalagi saat mendengarkan versi unplugged-nya di Youtube. Di lagu terakhir, Merantau, liriknya meski tersirat namun rasanya masih sangat relevan bagi para perantau yang ingin kembali pulang selamanya namun hati masih dipenuhi keraguan. Dalama sekali maknanya.

Di awal aku sempat mengatakan bahwa sekilas musik Kapal Udara mirip TTATW. Aku sejujurnya langsung teringat video musik lagu mereka yang berjudul Malino yang bertajuk Dua Tiang Tujuh Layar, yang bercerita tentang masyarakat pembuat phinisi. Perbedaan antara musik TTATW dan Kapal Udara sendiri adalah, Kapal Udara terasa lebih ringan, sangat mudah dibuat bergoyang ringan sejak pertama mendengarnya. Perbedaan lain tentunya mereka asli tanah Daeng, seperti judul lagu TTATW Malino yang merupakan dataran tinggi di Sulawesi Selatan, sehingga musik dan melodinya kental dengan nuansa musik tradisional daerah terutama pada melodi gitar yang dibuat bersahutan dengan sangat bersahaja. Meski liriknya sarat akan perjuangan dan kemanusiaan yang cenderung kelam, tapi rasanya sangat asik mendengar lagu-lagu dalam album ini untuk injeksi semangat di pagi hari, atau bahkan selama perjalanan luar kota apalagi saat melewati pemandangan persawahan, tepi pantai, atau hutan. Perasaan sama yang kurasakan saat berulang kali mendengarkan album "3 Hari Untuk Selamanya" milik Float di tengah perjalanan.

Aku tidak mau menikmati band "berbahaya" ini sendirian. Kalian harus coba dengarkan juga ya, karena Seru dari Hulu tak hanya seru di hulu saja, tapi juga di tempat kalian berpijak sekarang.