16 July 2018

Letter for You (part 2)

Hello, My Dear..

How are you there?
I always curious on what you're up to. I hope you're doing fine.

It's almost three months we've been together and you're such a very very kindhearted creature, even long before you're appearance in this real world. So far, you never burden me though I have less time to rest. It's like you're always support my activities, especially this last one week when I've got to come to the night lectures five days in a week. You also support me to eat anything.. literally ANYTHING, by not letting me get any bad nausea.

I'm sure you're gonna be a strong and independent one in the future. You'll be able to stand on your own and not letting anyone get you down. It's a great start for us, and especially for you.


Mom loves you, Honey..


15 July 2018

Kado Iseng-iseng

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 11 Juli 2018, salah satu sobat misqueenqu, Nadiah, berulang tahun. Nah, karena merasa belum kasih kado yang proper, akhirnya kemarin aku iseng-iseng ngelukis doi. Yaaa ini juga bukan kado yang proper juga sih ya sebetulnya, yang penting sudah bikin sesuatu yang otentik asli bikinan tanganku dan yang jelas ngga bisa ditemukan dimana pun. #sobatmisqueenlagingeles HAHAA



Nadiah adalah salah satu anggota tim di unit yang baru kurang lebih delapan bulan ini aku singgahi. Ngga tau kenapa, sejak hari-hari pertama ditempatkan di sana, rasanya cocok dan nyambung banget ngobrol sama doi. Usut punya usut, ternyata kalau ditinjau dari segi horoscope (yang kebetulan kami berdua percaya kalo orang-orang dengan horoscope yang sama biasanya tipikal sifatnya sama), ternyata dia adalah seorang Cancerian. Cancer dan Pisces itu kebanyakan cocok, mungkin karena sama-sama "makhluk air" ya. Selain itu, dari pengalaman yang sudah-sudah, aku pun punya beberapa sahabat yang berbintang Cancer dan cocok dari berbagai sisi, misal sama-sama mellow-an, perasa, dan mikiran. Jadi yaa makin klop deh temenan sama Cancer cabang Balongsari satu ini.

Lebih dari itu, Nadiah adalah orang yang loyal, gercep abis kalau dimintain tolong, dan sebetulnya ceria kok meskipun di awal-awal pertemuan agak malu-malu ala anak introvert gitu hihihi. Dari yang cuma cerita-cerita tentang hobi dan interest, makin kesini makin ngobrolin tentang kehidupan. Mulai cerita receh-receh, sampai cerita yang dalem banget bagai sumur bor. Di kantor ketemu dan cerita-cerita, pas sudah pulang juga kadang masih lanjut lewat WA. Mulai saling menghina, sampai saling mengingatkan. #sisterfillah WKWK

Akhir kata, nggak afdol rasanya kalau nggak diakhiri dengan doa. So, Deedee, semoga ente selalu diliputi kebahagiaan dan keceriaan, dijauhkan dari kegalauan (becoz anxienty kills), dijauhkan dari hawa-hawa negatif (ini doa buat kita berempat sih #eh), makin kreatif (dengan laptop baru #eaa), sekeluarga selalu dalam lindungan Allah SWT, dan selalu ikhlas menerima segala kelebihanku (kelebihan berat badan, kelebihan waktu nganggur ngisengin ente, dan lain sebagainya).

Once again, happy birthday Deedee! 
Salam kompersa! Salam kompak persahabatan. *brofist*







08 July 2018

Review Film Ala-ala: Hereditary

Ini baru pertama kalinya aku bahas di blog tentang film yang pernah aku tonton. Pada dasarnya aku bukan movie freak, tapi memang untuk genre horor (kecuali Anabelle karena ngga bisa nonton yang boneka-boneka gitu, pasti kebawa mimpi sampai waktu yang lama) aku hampir tidak pernah melewatkan. Meskipun sebetulnya aku penakut, tapi rasanya seru aja adrenalin dipacu selama di bioskop. Kadang deg-degannya malah terbawa sampai pulang, yang bahkan nggak berani matiin lampu waktu tidur. Hihihi

Jadi akhir minggu lalu, aku nonton Hereditary di CGV. Penasaran banget karena dari jauh-jauh hari sudah banyak yang menggadang-gadang kalau film ini lain daripada film horor manapun yang pernah ada. Ditambah lagi, Joko Anwar bolak-balik merekomendasikan film ini melalui cuitannya di twitter. Makin penasaran, dong. Sutradara film horor Indonesia terbaik di zaman ini aja sampai seintens itu promosiin Hereditary. (Tapi guys, percayalah. Kayaknya ada udang di balik batu alias ada maksud di balik kegetolan Jokan promosiin Hereditary. Menurut aku sih.. )

Hereditary pada dasarnya adalah cerita keluarga yang runyam bin rumit. Pada review ala-ala ini, izinkanlah pertama-tama aku membedah satu per satu karakter yang ada di film. Si Nenek yang baru saja meninggal, ternyata berkepribadian ganda (kalau nggak salah ingat ya), sulit ditebak maunya apa, introvert, penuh rahasia dan...... klenik. Setelah meninggal, si Nenek pun menyisakan misteri buat keluarganya. Misteri itu mulai “dilihat” oleh cucu perempuan kesayangannga, Charlie, yang baru berusia sekitar 13 tahun. Karena dia adalah yang paling dekat dengan Nenek, maka “sosok” Nenek pertama kali menampakkan diri di hadapannya plus kasih petunjuk ini-itu. Charlie ini karakternya kuat banget. Doi digambarkan sebagai sosok yang introvert juga, suka menggambar, asik dengan dunianya sendiri dan cenderung aneh untuk anak seusianya. Doi juga suka menghabiskan waktu di rumah pohon yang ada di depan rumahnya, bahkan dia kayaknya lebih nyaman tidur di sana. Terbukti dengan adanya mesin pemanas yang sudah disiapkan di dalamnya.

Berbeda dari Charlie, Peter sang Kakak, adalah tipikal cowok SMA yang lebih extrovert, banyak teman, dan lagi dalam pencarian jati diri di luar rumah; party, main terus, bahkan nyimeng. Dari seluruh anggota keluarga, menurutku si Peter ini yang paling normal. Seharusnya.

Beranjak ke orang tua Charlie dan Peter, yang tidak lain tidak bukan adalah anak perempuan Nenek, Annie, merupakan pembuat miniatur bangunan dan seisinya (bagus banget karyanya sumpah deh) yang sedang dikejar deadline dari sebuah galeri seni. Dia adalah tokoh sentral dalam film ini. Akting Toni Collete sebagai Annie patut diberi penghargaan sih kalau menurutku. Dia bisa memerankan tokoh yang sangat kompleks, emosional, rapuh, memiliki gangguan kesehatan mental, yang sedikit banyak terpengaruh dari si Nenek. Contoh kecilnya nih ya, waktu Charlie lahir, si Nenek ngotot pingin nyusuin doooong saking posesifnya sama Charlie. Apa nggak stress tuh si Annie?! T_T

Nah, dalam film ini suami Annie, Steve, bagai oase di tengah padang tandus. Alias sosok yang paling kalem dan sabar dalam menghadapi “kegilaan” istrinya. Terlebih lagi habis kecelakaan tragis yang menewaskan Charlie. Seberapa tragis? Tragis banget lah pokoknya sampe bikin Annie jejeritan nggak karuan dan Peter stress minta ampun. Cuma sayangnya Pak Steve ini kurang tegas sebagai sosok bapak. Ya mungkin karena nggak mau nyakitin istrinya juga sih ya. Atau emang bawaannya terlalu calm and cool? 

Sebetulnya film ini bagus banget banget banget. Bukan tipe film horor yang sedikit-sedikit bikin kaget, tapi kita dipaksa selama kira-kira 1,5 jam pertama untuk mendalami karakter dan problem yang ada di keluarga itu secara pelan-pelan. Alurnya lambat memang, tapi justru itu yang membuat kita makin iba sama kondisi keluarga Pak Steve. Semacam, satu masalah belum tuntas, eh ada lagi masalah lain yang benar-benar menguras emosi dan energi.

Nah, kira-kira si setengah jam terakhir baru lah terungkap kenapa keluarga Pak Steve bagaikan kena kutukan yang tidak berkesudahan. Kurang lebih yaaa karena si Nenek semasa hidupnya ikutan sekte pemuja iblis dan bahkan ditahbiskan sebagai RATU! Iya aku nulisnya pake huruf kapital karena YA AMPUN NEK, ente jadi Ratu tapi ngorbanin anak cucuuu.. Yang bener-bener aja kek Nek. Huhuuu.. :(( Daaaan lebih parahnya lagi, si Nenek ternyata menumbalkan Peter untuk jadi “inangnya” roh Raja Paimon (namanya nggak kece sih tapi beneran ada di mitologi sebagai pengikut Iblis Lucifer yang paling setia). Di akhir cerita, sosok Peter lah yang akhirnya dipuja dan disembah para pengikut sekte itu yang cara memujanya tuh harus dengan bertelanjang bulat dan bahkan anggota keluarga Pak Steve yang sudah meninggal pun turut dihadirkan dengan..... Tanpa kepala. Iya, kalau disimak memang clue dari awal cerita adalah.... kepala..... yang putus. :|

Yang membuat nilai Hereditary agak minus di mataku adalah scene waktu sosok Annie yang tanpa kepala terbang naik menuju ke rumah pohon. Ini bagian yang paling malesin banget sih, bikin langsung keinget film-film Tante Suzana waktu ada putih-putih melayang gituu. Hahhhhh -_- Jadi awalnya Annie (tampaknya) kesurupan, berusaha mengejar dan membunuh Peter, lalu memotong kepalanya sendiri pakai benang (males banget bayanginnya waktu nulis ini), setelah itu dia berusaha kasih petunjuk ke Peter yang linglung habis jatuh ke taman dari loteng lantai 2 untuk ikutan masuk ke rumah pohon dengan cara melayang tanpa kepala. Itu aja sih scene yang bikin “drop shaaay”. Karena harusnya tanpa scene kayak gitu pun, Hereditary sudah mencekam dengan caranya sendiri. Oiya, selain itu durasi yang panjang (sekitar 2 jam) untuk film horor sih menurut aku kelamaan. Backsound yang terasa mengganggu di awal lama-lama sudah nggak terasa seram lagi dan yah, capek aja 2 jam dibikin penasaran (akutu ngga bisa diginiin orangnya:( ) Overall, Hereditary aku kasih nilai 7,75/10. Eh, 8 ding. Soalnya sinematografinya keren banget!

Well, segitu dulu “review ala-ala” kali ini. Kalau ada niat film yang menurut aku oke, kapan-kapan aku tulus lagi dan sekalian bikin tag sendiri tentang film. Hahaha. See you!




30 June 2018

Boso Jowo Jogja vs Jatim

Besar di Jogja membuat aku yang sebetulnya lahir di Jawa Timur dan berasal dari keluarga besar Jawa Timur nggak terlalu familiar dengan boso jowo Jawa Timuran. Secara ke sananya cuma setahun sekali dan beberapa hari saja waktu mudik Lebaran. Dulu kadang suka ketawa dalam hati setiap dengar saudara ngomong pakai bahasa Jawa Timuran. Selain beda logat, beberapa katanya juga berbeda dan kadang terdengar lucu. Lebih lagi, setiap kali nonton berita berbahasa Suroboyoan di JTV pun aku selalu ngakak-ngakak (sekarang masih sih, tapi udah nggak seheboh dulu). Ya gimana nggak ngakak, sementara JogjaTV berita boso jowonya selalu pakai kromo alus macam mau ngomong ke Bupati, JTV malah semacam, "Onok maleng mlayu digodak ambek pulisi, gak kecekel akhire ditembak ngantek matek". Kuasarrr puolllll.. :)) 

Bulan Oktober 2014 adalah pertama kalinya aku menjejakkan kali untuk waktu yang cukup lama di Jawa Timur. Waktu itu buat warming up aku ditempatkan di Surabaya selama sebulan. Cukup lemot waktu diajak ngobrol boso jowoan karena selain banyak kata beda dengan boso jowonya Jogja, aku pun agak bingung menanggapinya. Pernah suatu saat ada driver kantor yang sms untuk penjemputan di Bandara kira-kira bunyinya, "Pean di mana mbak?" Dalam hati, hah?? Pean?? Pean ini bahasa Inggris atau apa ya? (dan waktu itu aku bacanya /ˈpēənala bahasa Inggris). Akhirnya kubalas, "Pean itu apa ya Pak?" Baru lama kemudian aku baru paham bahwa "pean" itu singkatan dari "sampeyan". Owalaaaaaaahh..

Setelah sebulan di Surabaya, "dilemparlah" aku ke Banyuwanngi. Di sana mulailah lidah dan otakku benar-benar beradaptasi. Meskipun di awal-awal logatnya masih kaku banget dan nggak mengalir karena masih pakai mikir, aku selalu coba menanggapi obrolan boso jowoannya teman-teman di sana dengan boso jowo juga. Salah satu memori yang paling aku kenang adalah waktu beli makan. Penjualnya selaaalu tanya, "Iwake opo Mbak?" Batinku, ki ngendi to iwake wong onone ayam goreng, ndog, karo tahu-tempe. Ealaaah, ternyata di Jatim "iwak" itu maksudnya "lauk". Meskipun nggak berbentuk ikan tetep aja dibilangnya "iwak". *dan kemudian para iwak di Jatim pun mengalami krisis jati diri....... :'(*

Nah, dari pengalaman 4 tahun merantau ke Jawa Timur, sekitar dua hari lalu aku bikin thread di twitter tentang "Boso Jowo Jogja vs Jatim", yang isinya daftar kata dan ungkapan-ungkapan yang berbeda antara kedua bentuk boso jowo tersebut. Ternyata eh ternyata, thread itu banyak yang merespon dan beberapa malah jadi bahan diskusi (akhirnya hasil perantauanku berguna untuk khalayak ramai *terharu*). 


Nggak sedikit yang punya cerita hampir sama kayak aku, misalnya merantau dari Jogja ke Jatim atau sebaliknya, dan begitu kumpul dengan teman-teman lama malah keceplosan bahasa di tempat baru yang bikin mereka diketawain. Ada juga yang adiknya kuliah di Jatim, dia kuliah di Jogja, pas kumpul di rumah malah pakai bahasa Indonesia sebagai jalan tengah supaya nggak salah paham. Beberapa juga bercerita kalau kedua bahasa itu adalah bahasa yang berbeda dari masing-masing orang tua. Oiya, kalau mau baca thread-nya monggo disimak di sini. Pokoknya kalau tiba-tiba ingat suatu ungkapan atau kata-kata, pasti akan aku tulis di thread itu.

Selain itu, di blog ini aku juga akan berbagi kosakata dan ungkapan yang sudah terkumpul di thread itu. Bentuknya jpeg jadi kalau diantara kalian ada yang butuh buat contekan bisa langsung simpen aja di hp. Hihihi




Salah satu koentji yang bisa dipegang adalah, kalau Jogja rata-rata kata-katanya berakhiran "-ke" atau "-ne" dan itu berubah kalau di Jatim jadi "-no". Jadi misalnya:

- Jogja: "Kuwi barange diunggahke sik!"
- Jatim: "Iku barange diunggahno sik!"

Oh iya,  kalau Jogja bilang "kuwi", maka Jatim rata-rata bilangnya "iku". 


Jawa Timur ini luas banget dan tentu ada perbedaan-perbedaan bahasa di dalamnya. Aku sendiri sudah pernah menyimak percakapan di beberapa daerah seperti Madiun, Ponorogo, Blitar, Surabaya, Malang, dan Banyuwangi. Kurang lebihnya, Surabaya dan Malang hampir sama kasarnya, hanya saja Malang punya satu bahasa gaul yaitu bahasa walikan yang benar-benar dibalik cara bacaranya dari belakang ke depan, berbeda dengan bahasa walikan Jogja yang berasal dari urutan hanacaraka yang dibalik (baris 1 dengan 3, baris 2 dengan 4). Nah, semakin ke barat bahasanya semakin halus karena mendekati Jawa Tengah. Jadi sekitaran Madiun dan Ponorogo ini sudah cukup halus. Selain itu, berdasarkan salah satu balasan di thread, ternyata pasukan perang Pangeran Diponegoro melarikan diri dan bersembunyi di kawasan hutan di daerah Blitar dan sekitarnya. Nggak heran, kalau daerah Blitar bahasanya agak nJogjani. Yang aku cukup heran, Banyuwangi sebagai daerah paling pucuknya Jawa Timur, boso jowonya malah cenderung halus, mirip daerah Madiun. Bahkan daerah kidulan (selatan) malah agak nJogjani. Hmm, kayaknya kudu belajar sejarah lebih dalam lagi sih kalau mau ngulik tentang itu. Atau sekalian ambil kuliah sastra Jawa?? Hahaha

Baiklah, sekian dulu pembahsan boso jowo Jogja vs Jatim. Monggo kalau ada tambahan atau diskusi bisa lanjut di kolom komentar. Semoga berguna buat teman-teman yang mau merantau ke Jogja atau Jatim, atau bahkan lagi PDKT ke anak Jogja atau Jatim. Semoga meringankan beban adaptasi komunikasinya yaa.. :D