16 September 2018

The Last Goodbye..

Yah.. Lagi-lagi salah satu platform penyimpanan foto dan memori digital akan tutup buku untuk selamanya. Path, menyusul Friendster, akhirnya akhir minggu ini mengumumkan lewat postingan yang beredar di dunia maya, "The Last Goodbye".



Jujur aja, meskipun sudah nggak pernah aktif nge-Path selama sekitar 2 tahunan ini, rasanya tetap sedih kehilangan salah satu platform paling hits di zamannya, mungkin sekitaran tahun 2011 - 2015. Aku sendiri dulu aktif di Path di masa-masa akhir studi S1, sekitar tahun 2013. Selain itu Path juga yang menjadi saksi perjuangan skripsiku (mulai dari check-in di kafe, upload foto gelas kopi di samping laptop, foto-foto kelulusanku dan teman-teman), dan terutamanya saksi perjuangan daftar kerja sampai tahun-tahun awal ditugaskan di Banyuwangi. Aku bukan termasuk pengguna yang getol memanfaatkan fitur "wake up" dan "sleep" karena yaaa ngapain tiada berfaedah menurutku. Untuk ajang pamer waktu sering-seringnya jalan-jalan, aku cukup mengaktifkan "neighborhood" yang otomatis meng-update statusku jadi "Arrived at...."

Beberapa Moments yang sempat aku selamatkan (belum semua), akan aku bagikan di sini. Dengan harapan, semoga Blogger umurnya masih panjang yah.. AMIIIN (makanya rajin-rajin posting dong <-- kaca="" ngomong="" p="" sama="">


Masa-masa akhir S1-ku diisi dengan nge-band sana, nge-band sini. Karena pada dasarnya nggak punya band tetap (sebelum Boarding Room yang waktu itu sempat gabung kurang dari setahun), bahkan aku sempat memproklamirkan diri sebagai "loyal freelance vocalist" #yazek. Bersama Boarding Room, aku sempat ikut manggung di Semarang dan Purwokerto yang waktu itu jadi band pembuka untuk Adera. Selain itu, "prestasi" lain adalah jadi band pembuka untuk Banda Neiraaaa!! Band indie akustik yang saat itu lagi naik daun. :')




Selesai masa kuliah, masuk lah ke masa kerja yang diawali dengan Samapta, pelatihan ina-ini-ina-itu, main ke simulator pesawat di GITC, perpisahan dengan teman-teman sekosan yang lebih dulu dikirim OJT, dan sebetulnya masih banyak lagi Moments yang belum disimpan ulang.

Satu hal yang spesial di masa pelatihan itu adalah aku dan dua temanku berhasil ikut Pilpres di Jakarta dengan penuh keluh kesah. Rasanya waktu itu senang dan lega sekali setelah perjuangan kesana-kemari panas-panasan jalan dan naik angkot. Ini dia Moment-nya.



Masa-masa awal penempatan di Banyuwangi pun terekam di Path. Mulai saat pertamaku menginjakkan kaki di Bumi Blambangan, pengalaman pertama ditilang gara-gara naik motor tapi belum punya SIM C, makan di rumah makan yang notanya ditulis ala kaligrafi, terbang dengan ATR waktu Gunung Ijen sedang kebakaran hebat sampai hutannya cukup lama menghitam, momen tersedih saat laptop hilang, dan pertama kali main di Pulau Menjangan dan Pulau Tabuhan.



Path juga merekam masa-masaku berkumpul dengan sahabat-sahabat terbaikku. Beberapa foto diunggah sebelum aku merantau, namun tidak sedikit yang diunggah waktu kami sudah sama-sama tersebar di kota yang berbeda.




Dari banyak Moments, inilah beberapa Moments yang ingin aku "selamatkan":



Ini kenanganku dengan Almh. Iroh, salah satu sahabatku semasa kuliah. Mulai dari belajar bareng para suhu akuntansi waktu mengulang kelas Akuntansi 2 (kalau nggak salah), meet up di Jakarta setelah kelulusan, daaaan yang paling ajaib adalah nggak sengaja ketemu di Bandara I Gusti Ngurah Rai waktu aku mau balik ke Banyuwangi dan dia sedang transit dalam perjalanan ke Labuan Bajo. Ketemuannya cuma sekitar 10 menit, tapi ya ampuuun teriak-teriaknya mungkin bikin orang di sekitar ruang tunggu terganggu ketentraman batinnya. Hahaha, maklum.. Kangen banget!!


Mau tidak mau cara menyimpan foto di sosial media harus diakui masih sangat ringkih. Apalagi dengan banyaknya sosial media baru yang bermunculan. Sudah banyak sosial media yang kita percaya sesbagai penyimpanan memori berguguran, mulai dari MySpace, Friendster, dan sekarang Path. Paling aman saat ini mungkin penyimpanan di Cloud. Atau mungkin, justru cara jadul seperti mencetak foto dan menaruhnya di album?






















09 September 2018

Pengakuan


Tibalah aku di satu masa bahwa "berusaha tidak mengeluh itu memuakkan". 

Aku yang manusia biasa ini tentu punya perasaan lelah dan jenuh. Biasanya aku berusaha selalu "spread the positive vibes" terutama ke dalam diri sendiri. Jadi lebih ke arah memberi sugesti ke diri sendiri supaya nggak tambah capek. Tapi manusia tetaplah manusia. Berusaha tidak mengeluh dan menganggap semua baik-baik saja malah menambah lelah pikiran. 

I have to admit that juggling my time (and enegy) for these roles is not easy.


Terkadang aku berpikir, adakah yang salah dengan manajemen waktuku? Namun di sisi lain aku menghibur diri dengan, yah, aku hanya manusia biasa yang bagaimanapun caraku memaksimalkan waktu, dengan tugas dan kewajibanku saat ini, pasti akan ada yang terkorbankan; kita tidak bisa membahagiakan semua orang bahkan diri kita sendiri. 

Semoga aku masih kuat menjalani semua peran ini sekaligus menjadi manusia yang amanah. Karena bagaimanapun beberapa peran yang saat ini kujalani adalah pemberian Yang Kuasa dan pasti ada hikmahnya.


Ingin aku menuliskan panjang lebar tentang keluhanku, tapi aku khawatir akan semakin tenggelam dalam rasa lelah. Sampai tadi aku melihat ilustrasi di instagram @drawmama dengan tulisan "to feel is HUMAN". Itu yang menginspirasiku untuk "sedikit" berkeluh kesah di sini (setelah berdrama dengan diri sendiri; bikin draft keluh kesah sampai beberapa kali). 



Semoga setelah tulisan ini di-posting beban pikiranku jadi berkurang. :)




Cheers!


02 September 2018

Sebuah Fenomena..

Tujuan dari postingan ini adalah untuk mengenang salah satu keunikan (kalau tidak mau disebut keanehan) pasanganku sewaktu aku hamil. Karena pengalaman satu ini menurutku tidak biasa dan.. harus “direkam” ke dalam blog.

Seminggu yang lalu adalah masa-masa awal perkuliahan yang cukup berat buatku. Meski baru memasuki minggu kedua, tapi tugas-tugasnya aduhai sekali, baik dari segi kualitas dan kuantitas. Hampir setiap malam sepulang kuliah aku begadang atau bagun subuh untuk menyicilnya. Rizal hampir selalu menemani meskipun kadang matanya sendiri sudah 5 watt. 

Rabu lalu, saat aku sedang mengerjakan tugas di depan laptop, Rizal yang sedang menonton TV sambil tiduran tiba-tiba tersentak, “Aku pengen seger-seger!” Waktu menunjukkan sekitar jam 10.15 malam saat itu. “Tak rujakan lah aku. Cari di mana ya mangga jam segini..” katanya sambil berjalan keluar kamar. Aku yang setengah shock dan masih berusaha memahami keinginan suamiku itu tidak begitu mempedulikan karena yaaa nggak mungkin aja dan aku berasumsi kalau keinginannya bisa ditunda sampai besok.

Lima belas menit berlalu, Rizal kembali ke kamar dengan menenteng 2 buah mangga muda. “Ok, apa yang selanjutnya akan diperbuat?” tanyaku dalam hati sambil mengernyitkan dahi dan sambil berusaha memfokuskan diri ke laptop. Mangga dikupas dan diiris. Nggak lama kemudian, ia mempersiapkan cobek, stok cabe dan petis seadanya di kulkas, dan mulai asik meracik dan mengulek bumbu petis. Semua dia lakukan sendiri tanpa ba-bi-bu. Sampai akhirnya, dinikmatilah mangga muda dicocol ke bumbu petis itu sambil sesekali kepedasan. “Huuuuh.. haaah.. enak..” katanya.

Istri sigap adalah istri yang selalu siap mengabadikan momen aneh pasangannya dan disebarkan melalui sosial media. Tidak menunggu lama, fenomena ini segera kurekam dan kuunggah ke IG Story. Tak kusangka, ternyata semua orang yang merespon postingan itu berkomentar sama: ngidam! Wow.. Baru kali ini aku mengalami dan menyaksikan sendiri apa yang diceritakan orang-orang tentang istri yang nggak pernah punya keinginan  aneh-aneh justru biasanya malah suaminya yang ngidam. Hahahaha

Bahkan kata Mbak Risma, saking cintanya suami ke istri, sampai-sampai ngidamnya istri juga diambil sama suami. Uuuu co cwit.. kalau bisa, ambil  juga tugas-tugas kuliah aku dong Sayaaaang :3