04 October 2019

Hello again!

Sekali-dua kali, rasanya merasa bersalah.
Tiga-empat kali, lalu keterusan.

Hahaha, begitulah drama "noles"-ku di blog ini. Yang tadinya sudah sempat rutin seminggu sekali selama setahun lamanya, runtuh begitu saja.

Lima bulan lamanya nggak nulis rasanya kangen sih pasti. Yang jelas setelah lama nggak nulis, kecepatan nulis tugas kuliah seperti essay atau paper pun juga menurun.  Kadang nulis itu jadi terapi selain jadi wadah menampung ide dan merekam kenangan (disamping foto dan video di hp). Dan tentunya, selama lima bulan vakum ini pun ada banyak hal yang terlewatkan, salah satunya kisah Baby R terkena Demam Berdarah (DB).

Waktu itu Baby R kira-kira umur 4 bulan. Sepulang dari perjalanan mudik dengan rute Surabaya - Banyuwangi - Surabaya - Bangkalan - Surabaya, Baby R tiba-tiba panas tinggi. Sudah mencoba skin-to-skin, tapi dia rewel banget tengah malam. Sudah diukur pakai termometer digital bolak-balik, tapi suhunya masih di kisaran 38 derajat. Tapi kok panas banget ya? Akhirnya setelah coba ditermo biasa (air raksa), ternyata suhunya di atas 39! Jujur aku sangat merasa bersalah karena kesalahan mungkin ada di termometer digital yang aku beli cukup murah :( Untungnya meskipun waktu itu sedang musim libur Lebaran, ada dokter yang praktek di RSIA dekat rumah. Tiga hari setelah periksa adalah hari pertama aku masuk kantor setelah lima bulan cuti. Baby R sama sekali tidak nangis waktu aku tinggal. Tapi matanya pun juga tidak berbinar. Baby R masih lemas. Aku pikir Baby R hanya butuh istirahat saja setelah berjibaku dari demam selama kurang lebih 3 hari. Aku tinggalkan Baby R bersama mamaku di rumah, berharap sepulang kerja Baby R sudah lebih baik.

Sekitar jam 9, mama meneleponku untuk mengabari bahwa ia akan membawa Baby R ke rumah sakit untuk cek karena kondisinya yang semakin lemas. Akhirnya aku menyusul langsung ke rumah sakit dan meninggalkan kantor segera setelah briefing Senin pagi pertamaku dengan pimpinan baru. Sesampainya di rumah sakit, aku lihat memang Baby R kondisinya sangat lemas; wajah dan ekspresinya campuran antara ngantuk dan teler. Setelah mengurus pendaftaran, ternyata dokter yang kami tuju sangat ramai pasien. Maklum habis musim mudik lebaran, kata susternya.

Melihat kondisi Baby R semakin pucat, aku langsung memutuskan untuk turun ke UGD dan memeriksakannya di sana supaya penangannya lebih cepat. Di UGD, Baby R langsung cek darah dan bintik-bintik di tangan. Setelah menunggu kira-kira dua jam, Baby R dinyatakan positif DB dan harus rawat inap di Rumah Sakit. Waktu itu Baby R harus opname selama 5 hari. Aku harus cukup bersyukur karena waktu itu tidak ada kuliah, hanya UAS saja yang kebanyakan take home, sehingga aku bisa ambil cuti kantor dan fokus menunggui Baby R.

Ada yang menarik waktu Baby R opname. Di hari ketiga, beberapa teman kantor datang menjenguk. Baby R yang tadinya lemas, matanya langsung berbinar. Tidak lama kemudian mimik wajahnya berubah ceria dan ia pun aktif ingin berguling. Sayangnya, ia tertahan tangan yang dibebat. Ia semacam ingin memamerkan ke teman-teman kantorku kalau dia sudah bisa ini-itu. Lucu yah? :")

Well, semoga Baby R nggak perlu sakit dulu baru pinter ini-itu yaaah. Dan semoga kita semua dan keluarga selalu diberi kesehatan dan berada dalam lindungan-Nya.

Berhubung ini masih di kantor nulisnya dan orang-orang sudah pada pulang, lain kali aku lanjut cerita lagi yah. Sumpah, rasanya benar-benar mengobati rindu sih "noles" di sini. Semoga teman-teman Genk Noles yang lain juga semangat nulis lagi yaah..



12 May 2019

Nostalgia slash Mellow-ria

Kemarin Sabtu, tiba-tiba muncul 2 notifikasi yang memberitahu bahwa nomor WA-ku baru saja dimasukkan ke dua grup kantor. Wah wah.. Ini nih, tanda-tanda bahwa cuti melahirkan sudah mau habis dan saatnya kembali ke dunia nyata; dunia kerja. 

Aku nggak menyangka bahwa ternyata seberapa lama pun waktu cuti kalau dihabiskan bersama anak, pasti nggak akan pernah ada kata cukup. 

Menengok kebelakang, sekitar lima bulan yang lalu aku memutuskan untuk mengambil cuti tepat di hari Senin, 31 Desember 2018. Alasannya, rumah yang aku tempati saat ini cukup jauh dengan lokasi kantor baru tempat unit baru berada (sekitar 45-60 menit perjalanan) yang aku rasa perjalanannya kurang hamil-tua-friendly. Selain itu, suamiku merasa aku kurang istirahat dan kurang "masa tenang" selama hamil karena malam harinya masih kuliah. Selain itu dari aku pribadi alasan terpentingnya adalah... Unit lama bubar dan aku dimutasi ke unit baru yang kalau aku tetap masuk pasti akan merepotkan karena baru masuk sebentar, dikasih tanggung jawab, eh cuti hampir satu semester. 

Jadi ingat juga masa-masa sendirian di rumah waktu hamil tua dan suami kerja. Hampir tiap hari eksplor masakan ini-itu bahkan sehari bisa 3x masak masakan berbeda untuk 3x makan, nyapu-ngepel, cuci-jemur-lipat baju dan mengerjakan segala kegiatan domestik lain, ditambah yoga dan main enjot-enjotan di gym ball sambil harap-harap cemas kapan Nak Bayik keluar. Sempat mengalami siklus semangat menjelang minggu kedua Januari (perkiraan lahir tercepat) dengan bolak-balik ngecek hospital bag dan buka-bukain laci baju Nak Bayik, berlanjut dengan agak panik karena nggak lahir-lahir menjelang akhir Januari, sampai akhirnya "chillax" terserah si Eneng aja kapan mau keluar. Karena eh karena, sebetulnya yang dipanikkan adalah masa cuti yang semakin berkurang kalau doi nggak cepet keluar sehingga waktu kebersamaan kami berkurang.

Tapi yah.. Bagaimana pun aku tetap bersyukur, sangaaat bersyukur bisa membersamai tumbuh kembang di empat bulan pertamanya. Meskipun "not always rainbows and butterflies", tapi secara keseluruhan... yang aku nggak menyangka juga... ternyata aku sangat menikmati perjalanan "motherhood" ini dan nggak mengalami baby blues yang parah. Yaaa secara ya, buat orang-orang yang kenal aku langsung mungkin tahu bagaimana tingkahku: sangat tidak anggun dan keibuan. Ditambah lagi aku anak tunggal yang nggak pernah "pegang" bayi, serta posisiku di beberapa circle pergaulan menjadi yang paling muda. Aku sendiri menyimpan perasaan nggak pede sebagai seorang ibu. Tapi dengan adanya cuti yang cukup panjang ini, "chemistry" dan instingku dan anakku (tapi terutamanaku) menjadi cukup terasah.

Nah dalam postingan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih atas kebijakan tambahan waktu cuti melahirkan yang diberikan oleh CEO baru perusahaanku (yaa kali-kali doi baca blog ini yakhaan). Bagaimana pun niat beliau baik, yakni untuk meminimalisir baby blues dan mendukung pemberian ASI eksklusif 6 bulan (kalau gitu berarti kurang sebulan nih Pak jatah cutinya hihihi). Lalu untuk suami dan mamaku yang menjadi "support system" terdekat, serta bapakku dan ibu mertuaku untuk support jauhnya. Dan yang terpenting, terima kasih kepada anakku yang sudah sangat suportif sehingga perjalanan menjadi ibu baru ini menjadi jauh lebih ringan dibanding yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Thank you, Nak. ❤

Ngomong-ngomong, sejak hari pertama puasa aku sudah mulai mengomunikasikan dan memberi sugesti positif kepada Nak Bayik bahwa bulan depan aku mulai kerja lagi. Namanya juga usaha yah, semoga nanti tiba di hari H-nya aku kembali bekerja nggak ada drama diantara aku dan Nak Bayik serta mamaku yang untuk sementara waktu akan menjaganya. Doakan kami! :D


Love,

05 May 2019

I'm DEAFinitely Confidence

Kurang lebih itu lah kata-kata yang sempat terlintas di pikiranku dan akhirnya dijadikan jargon acara yang digarap oleh aku dan teman-teman sekelas di MM, hingga dijadikan tulisan di kaos dalam rangka mengkampanyekan kepedulian terhadap Teman Tuli.








Acara yang berlangsung pada Sabtu, 4 Mei 2019 kemarin, awalnya hanya dimaksudkan untuk menunaikan tugas kuliah saja. Namun pada akhirnya, hati kami semua tersentuh dan terenyuh saat berkomunikasi dengan mereka. Mulai saat mereka satu per satu datang ke tempat acara, hingga penyampaian materi tentang bahasa isyarat. Salah satu yang paling mengena adalah pada saat penampilan tari dari adik-adik SLB Karya Mulya. Mereka yang hidup dalam dunia yang sunyi bisa mengekspresikan diri melalui seni tari. Pada saat ini lah tidak sedikit dari kami panitia yang menitikkan air mata haru.

Tujuan dari acara ini adalah meningkatkan kesadaran Teman Dengar bahwa di sekitar mereka ada Teman Tuli yang perlu diperhatikan kebutuhan berkomunikasinya. Mereka selama ini sudah berusaha susah payah memahami kita dengan cara memperhatikan gerakan bibir saat berbicara, kini saatnya kita berusaha memahami mereka dan berusaha mempelajari bahasa mereka, bahasa isyarat, agar komunikasi dapat terjalin dengan lebih lancar.

Salah satu bentuk keberhasilan acara ini menurutku salah satunya adalah saat peserta tidak lagi bertepuk tangan seperti biasanya, tapi bertepuk tangan dengan bahasa isyarat (tanpa suara) sejak setengah acara, setelah sosialisasi dari Kartu (Komunitas Arek Tuli) Surabaya.

21 April 2019

Nelangsa Negeri

Pergelaran pesta demokrasi kali ini
Mesti dibayar mahal bahkan bukan sebatas materi

Terlalu banyak jiwa yang ditangisi
Bahkan akal sehat pun tak sedikit yang mati

Orang-orang saling menghakimi
Akibat terlalu riuhnya kontestasi

Orang-orang juga tak malu saling sindir
Mencibir pun tak lega tanpa nyinyir

Sebelumnya, aku selalu berharap 17 April segera berakhir
Nyatanya, pertikaian tetap bergulir

Aku lelah dengan isi sosial media dan televisi
Berita pejuang demokrasi makin bikin miris

Perjuangan yang akhirnya didramatisasi
Meskipun sebetulnya terjadi kealpaan sistemik

Persiapan yang tidak rapi,
pun tanggung jawab yang tumpang tindih

Kesalahan terlanjur terjadi
Namun kita tidak mengerti siapa yang layak diadili

Mungkin ini bagian pendewasaan diri
untuk "bocah" yang masih berproses mencari jati diri

Harapanku hanya satu, semoga sang Negeri bisa kembali berselimut welas asih

Anakku masih butuh berdiri
dalam rengkuhan damainya ibu pertiwi