12 May 2019

Nostalgia slash Mellow-ria

Kemarin Sabtu, tiba-tiba muncul 2 notifikasi yang memberitahu bahwa nomor WA-ku baru saja dimasukkan ke dua grup kantor. Wah wah.. Ini nih, tanda-tanda bahwa cuti melahirkan sudah mau habis dan saatnya kembali ke dunia nyata; dunia kerja. 

Aku nggak menyangka bahwa ternyata seberapa lama pun waktu cuti kalau dihabiskan bersama anak, pasti nggak akan pernah ada kata cukup. 

Menengok kebelakang, sekitar lima bulan yang lalu aku memutuskan untuk mengambil cuti tepat di hari Senin, 31 Desember 2018. Alasannya, rumah yang aku tempati saat ini cukup jauh dengan lokasi kantor baru tempat unit baru berada (sekitar 45-60 menit perjalanan) yang aku rasa perjalanannya kurang hamil-tua-friendly. Selain itu, suamiku merasa aku kurang istirahat dan kurang "masa tenang" selama hamil karena malam harinya masih kuliah. Selain itu dari aku pribadi alasan terpentingnya adalah... Unit lama bubar dan aku dimutasi ke unit baru yang kalau aku tetap masuk pasti akan merepotkan karena baru masuk sebentar, dikasih tanggung jawab, eh cuti hampir satu semester. 

Jadi ingat juga masa-masa sendirian di rumah waktu hamil tua dan suami kerja. Hampir tiap hari eksplor masakan ini-itu bahkan sehari bisa 3x masak masakan berbeda untuk 3x makan, nyapu-ngepel, cuci-jemur-lipat baju dan mengerjakan segala kegiatan domestik lain, ditambah yoga dan main enjot-enjotan di gym ball sambil harap-harap cemas kapan Nak Bayik keluar. Sempat mengalami siklus semangat menjelang minggu kedua Januari (perkiraan lahir tercepat) dengan bolak-balik ngecek hospital bag dan buka-bukain laci baju Nak Bayik, berlanjut dengan agak panik karena nggak lahir-lahir menjelang akhir Januari, sampai akhirnya "chillax" terserah si Eneng aja kapan mau keluar. Karena eh karena, sebetulnya yang dipanikkan adalah masa cuti yang semakin berkurang kalau doi nggak cepet keluar sehingga waktu kebersamaan kami berkurang.

Tapi yah.. Bagaimana pun aku tetap bersyukur, sangaaat bersyukur bisa membersamai tumbuh kembang di empat bulan pertamanya. Meskipun "not always rainbows and butterflies", tapi secara keseluruhan... yang aku nggak menyangka juga... ternyata aku sangat menikmati perjalanan "motherhood" ini dan nggak mengalami baby blues yang parah. Yaaa secara ya, buat orang-orang yang kenal aku langsung mungkin tahu bagaimana tingkahku: sangat tidak anggun dan keibuan. Ditambah lagi aku anak tunggal yang nggak pernah "pegang" bayi, serta posisiku di beberapa circle pergaulan menjadi yang paling muda. Aku sendiri menyimpan perasaan nggak pede sebagai seorang ibu. Tapi dengan adanya cuti yang cukup panjang ini, "chemistry" dan instingku dan anakku (tapi terutamanaku) menjadi cukup terasah.

Nah dalam postingan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih atas kebijakan tambahan waktu cuti melahirkan yang diberikan oleh CEO baru perusahaanku (yaa kali-kali doi baca blog ini yakhaan). Bagaimana pun niat beliau baik, yakni untuk meminimalisir baby blues dan mendukung pemberian ASI eksklusif 6 bulan (kalau gitu berarti kurang sebulan nih Pak jatah cutinya hihihi). Lalu untuk suami dan mamaku yang menjadi "support system" terdekat, serta bapakku dan ibu mertuaku untuk support jauhnya. Dan yang terpenting, terima kasih kepada anakku yang sudah sangat suportif sehingga perjalanan menjadi ibu baru ini menjadi jauh lebih ringan dibanding yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Thank you, Nak. ❤

Ngomong-ngomong, sejak hari pertama puasa aku sudah mulai mengomunikasikan dan memberi sugesti positif kepada Nak Bayik bahwa bulan depan aku mulai kerja lagi. Namanya juga usaha yah, semoga nanti tiba di hari H-nya aku kembali bekerja nggak ada drama diantara aku dan Nak Bayik serta mamaku yang untuk sementara waktu akan menjaganya. Doakan kami! :D


Love,

05 May 2019

I'm DEAFinitely Confidence

Kurang lebih itu lah kata-kata yang sempat terlintas di pikiranku dan akhirnya dijadikan jargon acara yang digarap oleh aku dan teman-teman sekelas di MM, hingga dijadikan tulisan di kaos dalam rangka mengkampanyekan kepedulian terhadap Teman Tuli.








Acara yang berlangsung pada Sabtu, 4 Mei 2019 kemarin, awalnya hanya dimaksudkan untuk menunaikan tugas kuliah saja. Namun pada akhirnya, hati kami semua tersentuh dan terenyuh saat berkomunikasi dengan mereka. Mulai saat mereka satu per satu datang ke tempat acara, hingga penyampaian materi tentang bahasa isyarat. Salah satu yang paling mengena adalah pada saat penampilan tari dari adik-adik SLB Karya Mulya. Mereka yang hidup dalam dunia yang sunyi bisa mengekspresikan diri melalui seni tari. Pada saat ini lah tidak sedikit dari kami panitia yang menitikkan air mata haru.

Tujuan dari acara ini adalah meningkatkan kesadaran Teman Dengar bahwa di sekitar mereka ada Teman Tuli yang perlu diperhatikan kebutuhan berkomunikasinya. Mereka selama ini sudah berusaha susah payah memahami kita dengan cara memperhatikan gerakan bibir saat berbicara, kini saatnya kita berusaha memahami mereka dan berusaha mempelajari bahasa mereka, bahasa isyarat, agar komunikasi dapat terjalin dengan lebih lancar.

Salah satu bentuk keberhasilan acara ini menurutku salah satunya adalah saat peserta tidak lagi bertepuk tangan seperti biasanya, tapi bertepuk tangan dengan bahasa isyarat (tanpa suara) sejak setengah acara, setelah sosialisasi dari Kartu (Komunitas Arek Tuli) Surabaya.

21 April 2019

Nelangsa Negeri

Pergelaran pesta demokrasi kali ini
Mesti dibayar mahal bahkan bukan sebatas materi

Terlalu banyak jiwa yang ditangisi
Bahkan akal sehat pun tak sedikit yang mati

Orang-orang saling menghakimi
Akibat terlalu riuhnya kontestasi

Orang-orang juga tak malu saling sindir
Mencibir pun tak lega tanpa nyinyir

Sebelumnya, aku selalu berharap 17 April segera berakhir
Nyatanya, pertikaian tetap bergulir

Aku lelah dengan isi sosial media dan televisi
Berita pejuang demokrasi makin bikin miris

Perjuangan yang akhirnya didramatisasi
Meskipun sebetulnya terjadi kealpaan sistemik

Persiapan yang tidak rapi,
pun tanggung jawab yang tumpang tindih

Kesalahan terlanjur terjadi
Namun kita tidak mengerti siapa yang layak diadili

Mungkin ini bagian pendewasaan diri
untuk "bocah" yang masih berproses mencari jati diri

Harapanku hanya satu, semoga sang Negeri bisa kembali berselimut welas asih

Anakku masih butuh berdiri
dalam rengkuhan damainya ibu pertiwi



14 April 2019

Check-up (Ternyata) Penting

Sabtu kemarin adalah hari yang panjang bin melelahkan buat aku pribadi. Niat awalnya sih ngontrolin Baby R ke dokter di RS, tapi ujung-ujungnya malah emaknya yang pulang dengan membawa "hasil".

Awalnya Baby R dapat nomor antrian cukup awal yaitu nomor 9 dengan jadwal praktek yang dimulai pukul 10.00. Di samping itu aku juga mendaftar ke dokter mata untuk minta resep kacamata. Kami (aku, nak bayik dan mamaku) berencana berangkat jam 10 saja supaya nggak terlalu lama nunggu. NAMUN.. Ujung-ujungnya kami berangkat sekitar jam 11 kurang entah karena apa dan yaaa namanya juga pergi bareng bayik ya, banyak yang harus dipersiapkan dan banyak "impromptu"-nya. Sampai di RS, ternyata hari Sabtu bukanlah hari yang tepat untuk kontrol. Karena eh karena, Sabtu kan para orang tua pada libur, jadilah hari itu adalah hari yang tepat untuk periksa maupun vaksin. Super rame, asli! Dari yang semula kami dapat nomor 9, kami malah mengantre bersama pendaftar bernomor 30-an, dan sampai lewat jam 2 siang pun nama Baby R belum juga dipanggil. Alhasil kami ke poli mata dulu sambil berharap poli mata lebih cepat dan sebelum pulang masih sempat mampir ke poli anak dan dokternya masih ada.

Ke poli mata, ternyata kami masih harus menunggu satu pasien lagi yang makan waktu sekitar setengah jam. Setelahnya, begitu dipanggil dan masuk ke ruang periksa, aku dipersilakan untuk "menjajal" beberapa alat secara berurutan. Alat pemeriksaan mata pertama belum pernah aku coba sebelumnya. Alat ini mirip seperti alat pengukur minus/plus mata (apa yah sebutannya?), tapi bisa mengeluarkan angin. Saat aku menilik ke lubang mata dan suster menekan tombol, keluarlah angin yang rasanya bikin kita seperti ditiup orang lain waktu kita kelilipan. Lanjut ke alat pengukur minus/plus, lanjut lagi ke alat serupa yang mengeluarkan cahaya seolah-olah "memutari" bola mata kita. Selesai dengan ketiga alat tersebut, barulah aku duduk di kursi yang lazim ada di optik untuk mencoba beberapa ukuran lensa yang berbeda-beda. Setelah dicobakan beberapa ukuran lensa oleh suster, barulah ukuran lensaku dikoreksi oleh dokter. Dan ternyata.. Aku baru tahu kalau aku ada silinder juga. Kecil sih, cuma 0,25. Tapi yaaa ternyata lumayan berpengaruh terutama saat menyetir. 

Saat resep kacamata ditulis, dokter menanyakan pertanyaan pamungkas, "Ibu beneran nggak pernah ada riwayat glukoma?" Wah, penyakit apa inihhh. Dokter menjelaskan bahwa tekanan bola mata kananku cukup tinggi dan khawatir kalau dibiarkan bisa menyebabkan glukoma. Glukoma sendiri disebabkan karena cairan pada bola mata mengalami hambatan untuk keluar. Mungkin gambarannya semacam selang yang agak tersumbat, jadi kalau ada air yang mau keluar tekanannya jadi meningkat di titik yang tersumbat itu. Nah kalau di glukoma ini semacam di saluran cairan mata yang keluar-masuk dari dan ke dalam mata. Jadi bukan air mata, yaa.. 

Berdasarkan hasil browsing, tekanan bola mata normal itu di angka 10-21 mmHG. Sementara tekanan bola mata kananku waktu diuji tiga kali hasilnya 19, 21 dan 23 (kalau nggak salah ingat). Pengecekan dilakukan sampai dua kali, bahkan. Karena dokternya sempat ragu karena si Pasien nggak pernah terdiagnosis glukoma sebelumnya. Akhirnya dokter pun memberi resep obat tetes yang harus diteteskan dua kali sehari. Bismillah yah, semoga dua minggu lagi waktu kontrol nanti angka tekanan bola mataku sudah normal lagi. Karena ternyata, glukoma menjadi penyebab kebutaan kedua tertinggi di dunia setelah katarak (berdasarkan hasil browsing, lagi-lagi). 

Berawal dari iseng-iseng, namun berakhir serius. Bagaimanapun dari hasil pemeriksaan ini aku mengambil pelajaran bahwa check-up itu penting loh ternyata. Karena bisa jadi di dalam tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat, ternyata ada organ-organ tubuh yang tidak bekerja dengan baik dan tidak terdeteksi secara kasat mata. Contohnya aku, meskipun sudah berkali-kali tes minus di optik, tapi ternyata baru tahu kalau ada silinder dan bahkan ada gejala glukoma.

Meskipun aku menyarankan untuk menyempatkan diri untuk check-up, tapi semoga kita semua sehat selalu yah.. Amin