01 March 2019

Diinduksi Lebih Sakit?

Clickbait banget ya judulnya? Hahaha berasa lagi baca judul artikel di Line Today gituu..

Tulisan ini harusnya di-posting minggu lalu. Tapi apalah daya, si mamak baru ini akhirnya merasakan yang namanya ketiduran gara-gara ngelonin anak. Bangun-bangun, eh sudah jam 12.30-an alias lewat dari deadline "noles". Pasrah dan berakhir mengibarkan bendera putih.. :)))

Sebetulnya aku pingin bahas tentang band yang akan (atau mungkin "sedang") naik daun dalam waktu dekat ini. Tapi karena menulis tentang karya suatu musisi itu harus di laptop sambil dengerin musiknya dan belum memungkinkan dilakukan saat ini, jadi anggap aja selama bulan Februari (dan Maret, mungkin) tulisanku akan banyak membahas tentang melahirkan dan perbayian karena bisa langsung ditulis lewat hp.

Nah, kali ini aku mau berbagi tentang proses melahirkan Baby R yang waktu itu harus melalui proses induksi. Jadi sejak memasuki minggu ke-37 aku mulai intens kontrol ke dr. Didi Dewanto, SpOG di RS Husada Utama. Dari yang awalnya sebulan sekali, jadi 2 minggu sekali (sekitaran minggu ke-32), dan jadi semingggu sekali waktu memasuki minggu ke-37. Di minggu ke-37 itu kondisi Baby R dinilai sudah matang dan siap keluar kapanpun dia mau, namun kondisi plasentanya waktu di USG 2D masih banyak titik-titik yang berarti belum matang atau belum siap rilis di waktu dekat ini. Bahkan dr. Didi berani berasumsi bahwa minggu depan pun dapat dipastikan belum lahir. Huft..

Minggu depannya, kami kontrol lagi dengan hasil yang masih 11-12. Padahal aku sudah lumayan rajin yoga, enjot-enjotan di gym ball setiap saat dan jalan pagi. Waktu itu aku juga sempat khawatir ketubanku rembes sampai-sampai dr. Didi membawakan kertas lakmus untuk jaga-jaga (padahal sudah dibilang nggak ada apa-apa tapi masih agak parno juga nih dasar new mom hahaha).

Di minggu ke 38-40, selain jalan pagi aku juga menambah porsi jalan dengan "mengabsen" mall yang ada di kota ini. Kalau jalan di mall entah mengapa waktu jalannya jadi nggak terasa dan tiba-tiba sudah dapat 3-4 jam. Meski begitu, ternyata di minggu 40 aku kontrol, si Baby R masih adem-adem bae di dalem perut; nggak ada kontraksi asli maupun palsu dan waktu dilakukan pemeriksaan dalam pun kepalanya masih jauh dari "pintu keluar". Akhirnya dr. Didi menyarankan agar aku mulai "masuk" (maksudnya check-in di RS) tepat di minggu ke-41 dan mulai diinduksi karena jika menunggu sampai 42 minggu khawatir bayi semakin berat dan kondisi ketuban semakin menurun. Beliau menjelaskan dengan tenang dan tanpa menakut-nakuti tentang alur induksi seperti apa. Biasanya obat akan dimasukkan melalui beberapa cara, bisa melalui obat minum, melalui vagina, atau infus. Sebelum dan selama proses induksi akan terus dimonitor detak jantung bayi, kondisi ketuban dan tekanan darah ibunya. Setelah 6 jam akan dievaluasi apakah perlu ditambahkan lagi obatnya atau ditunggu saja sampai lahiran. Yang perlu persiapan mental adalah ketika ternyata di tengah proses induksi ketuban pecah dini dan membahayakan bayinya, maka terpaksa harus dioperasi (caesar). Di titik itu, aku sudah berserah dengan apapun yang nanti akan terjadi.

Tibalah di hari aku masuk RS. Meskipun H-1 aku sudah mulai merasakan kontraksi, tapi dr. Didi melalui Whatsapp tetap menyarankan aku untuk masuk RS. Pagi itu sekitar jam 9 pagi, prosesnya santai bahkan hampir seperti check-in hotel; ke bagian reservasi (pendaftaran), tanda tangan form ini-itu, dan menunggu kamarnya siap. Menuju ke kamar, ternyata aku harus diantar dengan kursi roda! Ini ternyata SOP-nya RS dan kita nggak diperbolehkan jalan ke kamar (huhuhu berasa lemah). Sampai di kamar, aku langsung ganti baju RS dan mulai diobservasi. Pertama yang direkam adalah detak jantung bayi dan cek tensi. Kemudian baru sekitar jam 12.30 siang dr. Didi datang untuk cek kondisi ketuban dengan USG. Semua dirasa aman, baru lah proses induksi dimulai. Obat dimasukkan melalui vagina dan ditunggu perkembangannya sampai 6 jam.

Ternyata sore harinya aku sudah mulai merasakan kontraksi, tapi masih sangat bisa ditolelir. Bahkan aku sempat joget-joget sambil menyanyikan lagu iklan Contrexyn saat kontraksi, "kontraksi.. kontraksi.. bila si kecil panas~" Semakin malam kontraksi yang kurasakan semakin intens dan mantab. Rasanya seperti kram perut saat mens tapi 10x lipatnya. Memasuki sekitar pukul 2-3 dini hari, intensitas kontraksinya meningkat jadi sekitar 3-5 menit sekali dan rasa kram perutnya semakin aduhai. Sekilas aku sempat merasa hampir menyerah karena "sampai kapan harus merasakan ini???" Rasanya ingin fast-forward ke waktu melahirkan. Puncaknya saat menjelang adzan subuh, waktu itu aku sempat berpikir operasi saja biar cepat selesai. Tapi seketika itu juga aku istighfar karena.. Ya Allah, selama ini yang selalu aku minta lewat doa kan menjalani proses melahirkan dengan normal. Betapa bodohnya aku sempat kepikiran untuk operasi saja sementara dokter saja yakin aku bisa melahirkan dengan normal. Di puncak sakitku itu, ternyata suster datang untuk mengecek kondisiku (oh iya, selama proses induksi itu suster selalu memeriksa tekanan darah dan detak jantung bayi sekitar 2-3 jam sekali). Dan ternyata benar saja aku sudah bukaan 5. Pantas saja semakin mantab kontraksinya. "Kondisi jalan lahirnya sudah bagus. Ibu masih kuat jalan? Kalau kuat kita ke ruang bersalin ya.." kata susternya. Alhamdulillaaah, sudah dekat waktuku bertemu si Baby R.

Di ruang bersalin yang hanya berjarak 2 kamar dari kamar inapku itu, aku disarankan untuk mandi air hangat supaya relax. Sensasi mandi dengan kontraksi yang sudah intens? Hmm, gurih.. Untungnya di kamar mandi disediakan kursi jadi lebih nyaman mandinya. Setelah itu aku kembali berbaring di ranjang. Tekanan demi tekanan yang makin intens itu "kunikmati" dengan khidmat (dengan ngantuk sih, lebih tepatnya). Aku pikir perjalanan dari bukaan 5 ke bukaan 10 cepat, apalagi aku sudah disuruh standby di ruang bersalin. Ternyata oh ternyata, sampai jam 8 pagi kondisiku masih di bukaan 8. Masih kurang 2 bukaan lagi sampai aku diperbolehkan untuk mengejan. Menjelang pukul 09.00, rasanya sudah tidak tahan lagi dan lebih seperti auto-ngejan. Rasanya seperti kebelet pup tapi pupnya sudah mau keluar. Aku minta Rizal untuk memanggil suster. Ternyata benar, bukaan sudah lengkap dan tinggal menunggu dokter barulah aku boleh mengejan. Jam 9 tepat dr. Didi sampai di kamar bersalin. Setelah proses mengejan pertama gagal, aku disuruh mengejan dengan berbaring hadap kiri. Di sana kata Rizal jambulnya si Baby R sudah kelihatan. Makin semangat mengejan lah aku! Tapi ternyata napasku belum kuat. Sampai akhirnya di proses mengejan yang ketiga, dibantu suster naik ke atas ranjang dan menyangga punggungku sambil menekan perut atasku, ditambah adrenalin yang terpacu, akhirnya keluarlah Baby R dengan lengkap tepat pada pukul 09.14. Allahuakbar, alhamdulillah..

Rasanya lega sekali waktu merasakan kakinya menendang-nendang menyentuh pantatku waktu itu. Dan waktu ia dipindah ke tempat tidur bayi di samping kiriku, aku menatap wajahnya untuk pertama kali. Haru sekali.. :')

Tapi belum selesai rasa haru itu, aku disuntik dan disuruh berhitung. Di hitungan ke 11, rasanya pandangan mataku jadi kabur dan mengganda, aku seperti nge-fly. Ternyata aku dibius untuk dijahit dan diberi waktu untuk beristirahat. Belum genap satu jam kemudian aku terbangun, dan Baby R segera di-IMD (Inisiasi Menyusui Dini) padaku. Alhamdulillah.. Lega sekali rasanya semua sudah terlewati..

Jadi kesimpulannya apakah diinduksi lebih sakit daripada yang alami? Menurutku, karena belum ada pembandingnya yg kualami sendiri ya namanya melahirkan pasti sakit. Nah setahuku orang-orang dengan proses alami biasanya ke RS atau bidan saat sudah bukaan tertentu, sementara orang yang diinduksi "diberi kesempatan" untuk menikmati proses dari sebelum kontraksi sampai kontraksi intens dan menikmati bukaan demi bukaan. Karena menikmati proses itu sekitar lebih dari 12 jam (bahkan aku 20,5 jam sejak obat dimasukkan), maka itu lah yang dinilai orang-orang "lebih sakit". Tapi yaaa dibikin happy dan semangat saja, karena makin sakit berarti makin dekat waktu kita bertemu si baby. Dan jangan berpikiran bodoh seperti aku yang sempat hampir putus asa ya.. :D

No comments:

Post a Comment