Showing posts with label Musics. Show all posts
Showing posts with label Musics. Show all posts

25 November 2018

Asteriska - Khayalku

Kamu sedang bete?
Ada masalah?
Menghadapi hari yang berat?

Kalau musik adalah salah satu pelarianmu, maka coba deh dengarkan satu nomor miliknya Asteriska dari album Past Possessions, Khayalku, berikut ini.



Asik banget yah lagunya. Suara Jeng Asteriska yang eksotis, terdengar seperti alto tapi asik saat lengkingan membuat lagu ini sangat ear-catchy, mudah dihafalkan terutama dengan harirnya beberapa bagian "aaaa.." yang mengiringi melodinya bisa banget dibuat sing along kalau lagi nonton konsernya. 

Di album Past Possesions, lagu Khayalku ini adalah satu-satunya lagu berbahasa Indonesia. Lagu-lagu lain pun nggak kalah asik sebetulnya, tapi untukku pribadi Khayalku bisa banget bikin auto-santai suasana hati. 

Buat yang penasaran lagu-lagu lainnya, bisa dengarkan lagu-lagu Asteriska di album Past Possessions lainnya di sini. 

21 October 2018

Kapal Udara - Seru dari Hulu (review)

Setelah masuk dunia kerja, terlebih (hampir) jadi emak-emak, rasanya cukup sulit untuk terus update pada perkembangan musik indie tanah air. Selain karena sempat ditempatkan di kota yang minim pertunjukan musik bahkan tidak ada toko CD-nya, pun tidak ada lagi teman atau circle yang rajin memberi rekomendasi. Pindah ke kota besar, harapanku adalah bisa nonton banyak konser mulai dari yang kecil-kecilan sampai yang besar sekalipun. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain; mulai dari jadwal kuliah di hari kerjasampai munculnya si Adek di perut. Dua kehendak Tuhan yang membuat aku lebih memilih memperbanyak waktu istirahat daripada beredar kemana-mana.



Bisa dikatakan, "perkenalanku" dengan Kapal Udara malam ini pun adalah sebuah ketidaksengajaan. Dengan kondisi kram perut yang masih muncul tak menentu, aku mengusahakan untuk bertemu dengan sahabatku yang jauh-jauh datang dari Jogja unuk jadi band pengisi acara di Sunday Market. Tak disangka, band pengisi setelahnya ternyata mencuri perhatianku meskipun hanya sempat mendengar dua lagu pertamanya saja karena kuharus mengibarkan bendera putih, nggak sanggup berdiri lama apalagi di tengah riuhnya manusia yang merokok di sana-sini.

Inilah pentingnya first impression; meskipun penonton mungkin tidak mendengar jelas lirik lagunya, tapi sebuah band harus memainkan musiknya dengan padu, rapi dan apik. Perpaduan itu yang menjadikan musik Kapal Udara sangat ear-catchy sejak pertama mendengarnya. Inilah yang menjadi modalku untuk browsing dan langsung memberanikan diri menulis review tentang album Seru dari Hulu.

Album, atau yang mereka sebut dengan EP, ini berisikan lima lagu dan telah rilis sekitar Desember 2017 lalu. Di Sunday Market tadi, sekilas aku bisa merasakan hawa-hawa The Trees and the Wild (TTATW) lewat musiknya yang rancak dan suara vokal yang saling bersahutan dengan padu. Melodi gitar yang juga bersahutan pun membawa hawa yang sama, ditambah naik-turunnya ritme lagu yang dibuat sangat pas, menjadikan lagu-lagu Kapal Udara ini masuk ke tipe-tipe musik yang bisa mengajak pendengarnya bergoyang ringan, menggerak-gerakkan kepala ke kiri-kanan, bahkan headbang santun (apa coba???). Ya maksudnya beda sama headbang keras ala musik metal dan sejenisnya gitu, hehehe. Mungkin musik-musik ber-genre folk ini sudah banyak digarap oleh band-band yang berasal dari Bandung, Jogja atau Jakarta. Yang menurutku spesial dari Kapal Udara adalah mereka berasal dari Makassar. Kota yang kalau secara kemiripan, mungkin lebih mirip dengan Surabaya yang panas karena terletak di tepi laut sehingga (berdasarkan kesotoyanku) seharusnya musisi di sana lebih banyak menelurkan musik-musik beraliran rock dan sebangsanya.

Lagu-lagu dalam EP ini mereka beri judul yang unik dan menurutku sarat akan kearifan lokal; Menyambut, Melaut, Menanam, Menari, Merantau. Mendengar lagu mereka berulang ditambah membaca liriknya (di sini), membuatku sadar bahwa liriknya pun menjunjung tinggi kelokalan. Adanya sisipan puisi di lagu Menyambut, misalnya, pada kata-kata "Setelah jauh tuan berlayar, memberi gelar dan seribu kabar. Berkumpulah para saudagar, mohon urusan sekiranya lancar". Dilanjutkan dengan lagu kedua, Melaut, yang diawali samar suara debur ombak, seketika di pikiranku benar-benar tergambar adegan kapal phinisi mengarungi lautan. Lagu ketiga, Menanam, dengan tempo yang lebih pelan, seketika membawa anganku ke perjalanan melewati daerah yang subur dengan areal persawahan yang membentang luas di pagi hari sekitaran pukul 5.30 pagi saat mentari mulai menyingsing. Namun liriknya ternyata sarat makna adanya alihfungsi lahan, sepenangkapanku. Sedih ya. Tapi ini salah satu cara cerdas dari musisi untuk menyuarakan perasaan ibanya. Selanjutnya lagu berjudul Menari, salah satu favoritku, karena padu suara mereka sungguh apik dan ciamik berpadu dengan melodi gitar bersahutan, apalagi saat mendengarkan versi unplugged-nya di Youtube. Di lagu terakhir, Merantau, liriknya meski tersirat namun rasanya masih sangat relevan bagi para perantau yang ingin kembali pulang selamanya namun hati masih dipenuhi keraguan. Dalama sekali maknanya.

Di awal aku sempat mengatakan bahwa sekilas musik Kapal Udara mirip TTATW. Aku sejujurnya langsung teringat video musik lagu mereka yang berjudul Malino yang bertajuk Dua Tiang Tujuh Layar, yang bercerita tentang masyarakat pembuat phinisi. Perbedaan antara musik TTATW dan Kapal Udara sendiri adalah, Kapal Udara terasa lebih ringan, sangat mudah dibuat bergoyang ringan sejak pertama mendengarnya. Perbedaan lain tentunya mereka asli tanah Daeng, seperti judul lagu TTATW Malino yang merupakan dataran tinggi di Sulawesi Selatan, sehingga musik dan melodinya kental dengan nuansa musik tradisional daerah terutama pada melodi gitar yang dibuat bersahutan dengan sangat bersahaja. Meski liriknya sarat akan perjuangan dan kemanusiaan yang cenderung kelam, tapi rasanya sangat asik mendengar lagu-lagu dalam album ini untuk injeksi semangat di pagi hari, atau bahkan selama perjalanan luar kota apalagi saat melewati pemandangan persawahan, tepi pantai, atau hutan. Perasaan sama yang kurasakan saat berulang kali mendengarkan album "3 Hari Untuk Selamanya" milik Float di tengah perjalanan.

Aku tidak mau menikmati band "berbahaya" ini sendirian. Kalian harus coba dengarkan juga ya, karena Seru dari Hulu tak hanya seru di hulu saja, tapi juga di tempat kalian berpijak sekarang.









30 September 2018

Kunto Aji - Mantra Mantra (review)

Kurang lebih 2 mingguan yang lalu, sesaat setelah rilis di Spotify dan diunggah seorang temanku lewat IG Story, aku langsung mendengarkan album ini. Sekitaran subuh lebih tepatnya, waktu aku menyelesaikan pekerjaan yang diambang deadline. Belum terlalu mendengarkan detail liriknya, tapi alunan musiknya begitu syahdu dan cocok dengan suasana subuh yang masih tenang.

Baru sekitar tiga harian ini aku mendengarkan dengan seksama bait-bait yang ada di Mantra Mantra, dan harus kuakui bahwa Kunto Aji adalah seorang yang brilian. Bagaimana bisa ia menggabungkan nada-nada yang minor dengan suasana n-Danilla namun tidak menggalaukan, ditambah syair yang justru syarat akan kata-kata motivasi yang tidak cheesy?


Album ini dibuka dengan Sulung yang berdurasi kurang dari dua menit dengan nuansa musik ambient dengan lirik singkat berulang, "Cukupkanlah ikatanmu.. relakanlah yang tak seharusnya untukmu.." dan dihiasi gitar genjrengan gitar akustik menjelang akhir lagu yang menaikkan suasana dengan kata-kata pamungkas, "yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri". Sepertinya diperuntukkan bagi orang-orang yang belum bisa move on dari apapun untuk berhenti mengharapkan apa yang bukan miliknya dan tidak semestinya terus-menerus dipikirkan. :)

Masih dengan nuansa ambient bertempo lambat, Rancang Rencana menyambut di lagu kedua. Potongan syair, "Dalam kuingat, suara terdengar, jangan berubah, jangan berubah," seperti mengajak kita untuk menjadi diri sendiri (mungkin) ketika kita sedang akan menyingkap takdir, seperti kata Kunto Aji. Lagu ketiga, Pilu Membiru, adalah lagu patah hati. Cukup menyayat bagi siapapun yang sedang berjuang keluar dari jurang lara. "Tak ada yang seindah bola matamu, hanya rembulan. Tak ada yang selembut sifatmu, hanya lautan". Selamat menyayat diri.

Topik Semalam jika ditilik dari liriknya sebenarnya cukup menggelitik karena.. Yah, mungkin kejadiannya sedang banyak ya di sekitar kita; ada cewek mempertanyakan kejelasan masa depan mereka ke cowoknya, sementara mungkin cowoknya masih punya banyak rencana yang harus diselesaikan. "Jika kau bisa bertahan menungguku di sini, ku pastikan engkau bahagia.." Tampak meyakinkan. Sampai muncul syair, "Kau jangan takut, meski semua masih di kepala". Duarr! 

Lagu keempat, my personal favorite, Rehat. Dalam sekali maknanya untuk aku pribadi, apalagi saat didengarkan sambil berkontemplasi, sendirian. "Tenangkan hati, semua ini bukan salahmu.." adalah sepotong lirik penghibur, "...biarkanlah semesta bekerja, untukmu." penyemangat dan juga pengingat bahwa bagaimanapun dan sebaik apapun yang kita kerjakan, kita tetap harus membiarkan semesta (atau Tuhan) mengambil alih bagian-Nya. Adanya bagian solo piano lepas menit ke 3.10 mengajak kita untuk tenggelam lebih dalam pada ketenangan batin sembari mendengarkan batin yang berbicara pada pikiran, "Wis, ojo ngoyo.."

Bagi para perantau yang sedang berjuang di Jakarta, lagu kelima barangkali sangat bisa dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari sejak di pembuka lagu, "Dalam hati aku selalu ingin beranjak pergi. Kota yang sama yang membuatku tegak berdiri. Hingar bingar sudut jalan yang takkan pernah mati. Kota yang sama yang membuatku merasa sepi." Menggambarkan Jakarta, Kunto Aji memainkan dinamika lagu dengan sangat cantik dengan tempo cepat setelah bait pertama dan kembali melembut di akhir.

Konon Katanya, satu lagu yang sudah lebih dulu rilis di akhir 2017, sedikit banyak menggambarkan (atau menampar?) diriku sendiri kalau seandainya aku dengarkan sekitaran 5-6 tahun lalu saat proses pencarian jati diri. Waktu menghadapi early twenties' crisis gitu deh kalau kata orang-orang. Ada yang sedang merasakan juga?

Pertama kali dengar Saudede, yang aku pertanyakan justru arti judulnya sendiri. Berdasarkan hasil pencarian di Wikipedia, Saudede ternyata perasaan nostalgia yang mendalam atau rasa melankolia yang berkepanjangan pada seseorang atau beberapa orang yang merasa kehilangan orang yang dicintainya. BOOM! Meskipun aku pribadi belum bisa mengkorelasikan antara judul dengan liriknya, tapi nomor ini sangat nyaman dan menenangkan saat didengarkan. Akhirnya, album ini diakhiri dengan lagu Bungsu yang tampak seperti lanjutan dari lagu Sulung di awal.

Dari yang aku baca lewat beberapa artikel, ternyata  Kunto Aji cukup lama dan detail dalam mempersiapkan album ini. Selain menggandeng empat produser, ia juga berkonsultasi pada psikolog tentang masalah mental yang tidak melulu tentang depresi dan bunuh diri. Pada dasarnya album Mantra Mantra ini utamanya untuk menjaga kewarasan pendengar dan penggemarnya. Di beberapa lagu pun ia sengaja memasukkan frekuensi 396 Hz yang menurut penelitian bisa mengeluarkan racun atau pikiran negatif, sehingga membuat pendengar merasa lebih baik, lebih semangat dan lebih optimistis (hasil baca di sini).

Selamat untuk Kunto Aji, album ini adalah lompatan besar setelah album Generasi Y sebelumnya terutama dari tingkat kedewasaan dan kematangan karyanya. Dan selamat mendengarkan untuk sahabat-sahabatku yang penasaran (klik di sini).




15 April 2018

Grace Sahertian - HELA (review)

Karena masih kangen nulis tentang hal-hal berbau musik, kali ini saya akan membahas debut penyanyi soul-jazz Grace Sahertian, HELA, yang sempat saya beli bulan lalu bersama Lintasan Waktu-nya Danilla.

Jadi saya punya kebiasaan, setiap ingin beli CD tapi bingung mau beli CD apa, saya selalu mengambil dengan "asal" berdasarkan desain atau artwork sampulnya. YesI'm that kind of person who judge an album by its cover. Dan bulan lalu pilihan saya jatuh pada album besampul putih dengan tulisan HELA dengan bayang-bayang kata-kata absurd di belakangnya. Yang membuat album ini menarik adalah bahwa tulisan HELA tersebut dicetak diatas kertas kalkir, yang ternyata setelah bungkus plastiknya dibuka adalah pembungkus album diluar kotak CD-nya. Nahlo, bingung nggak? Jadi beginilah penampakannya..





Di era yang serba simple ini, Grace membuat rilisan fisik debut-nya dengan sangat utuh, sangat lengkap, persis seperti album-album yang rilis di era 2000-an kebawah. Mulai dari kotak CD, ia tidak membuatnya bening tapi diberi potongan kata-kata, yang setelah saya telusuri ternyata potongan lirik Hela yang menjadi lagu pembuka di album ini. Album yang rilis di tahun 2016 ini dilengkapi buklet yang juga menggunakan bahan kalkir, berisi ucapan terima kasih dan pihak-pihak yang terlibat di setiap lagu. Sangat artistik sih kalau menurut saya karena tulisan di halaman belakangnya bisa tembus dan terlihat di halaman depannya. Hanya sayangnya buklet tersebut tidak sekaligus dilengkapi dengan lirik, hanya ada lirik Hela di halaman terakhir.



Untuk materi lagunya sendiri, saya menangkap bahwa Grace ingin menyasar ke niche market; penikmat jazz murni yang bukan sekedar musik pop dengan nada-nada "yang dimiringin". Lagu berjudul Hela yang menjadi pamungkas, misalnya, diletakkan di awal dengan aransemen world music dengan nuansa yang cukup gelap. Orang-orang yang tidak termasuk kedalam niche market itu, mungkin masih sangat awam dengan world music yang cukup kompleks. Saat mendengarkan lagunya pun liriknya sulit dipahami karena bukan menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Saya sempat terbayang bahwa mungkin liriknya berbahasa Maluku. Dan benar saja, berdasarkan artikel yang saya baca di sini, ternyata lirik lagu itu berbahasa Yamdena, bahasa warga Maluku Tenggara Barat yang sudah berusia lebih dari ratusan tahun dan hampir punah! Wow, ini tentu langkah yang sangat berani dari penyanyi yang baru saja bersolo karir. Ia berani melakukan eksplorasi tanpa mementingkan untuk memperkenalkan dirinya ke market yang lebih luas terlebih dahulu.

Di dalam album ini kita bisa menikmati karya dengan beberapa rasa, mulai dari jazz, world music, akapela, hingga gospel. Di lagu pertama, Hela, kita diajak berpetualang ke dunia world music dengan hentakan dan nuansa gelapnya. Freedom sebagai lagu kedua membawa kita berpindah menikmati aransemen jazz yang dinamis namun masih dengan nuansa gelap, ditambah adanya backsound senjata dan teriakan yang menggambarkan kekacauan atau peperangan sebagai pembuka lagu. Setelah dua lagu bernuansa gelap, Better to Love muncul dengan nada yang lebih ceria, salah satu jenis jazz yang  lebih bisa dinikmati khalayak ramai. Setelah lagu-lagu dengan tempo cepat, Grace menetralkannya dengan Picture Me yang diawali dengan senandungnya yang sangat manis. Lagu ini adalah satu favorit saya di album ini, apalagi saat memasuki bagian solo saxophone, membuat lagu ini secara keseluruhan sangat menenangkan dan cocok digunakan sebagai pengantar istirahat.

Selanjutnya, kembali membawa kita ke nuansa kesedihan, Grace mempersembahkan lagu Fallin', yang makin terasa menyayat dengan munculnya melodi violin di bagian akhir. Setelah dibawa ke nuansa yang mendayu, Grace membangunkan kita dengan gebrakan drum dan gitar listrik yang mendominasi di lagu Da Di De, yang juga dibumbui efek suara DJ disc-scratching sebelum mengawali nyanyiannya. Selanjutnya, tensi kembali diturunkan di lagu Diam yang dinyanyikan dengan format akapela, pun menjadi satu-satunya lagu berbahasa Indonesia di album ini. Di lagu Sun of Hope, Grace menutup album ini dengan aransemen world music dengan manis. 

Dengan segala idealismenya, dapat disimpulkan bahwa dari segi penggarapan fisik album hingga materi yang anti-mainstream, HELA adalah satu yang pantas dikoleksi.  



Ngomong-ngomong, saat menulis ini saya sempat mampir ke website Grace Sahertian yang ternyata sangat well-managed dan update (salah satu bukti bahwa Grace sebetulnya sangat siap terjun solo di dunia musik tanah air). Saya melihat bahwa Ia baru saja berkolaborasi dengan pemain saxophone kenamaan dunia, Kirk Whalum, pada single yang sangat catchy dan baru saja rilis, berjudul Beautiful.

Manis dan artistik sekali lho video klipnya.. 


Salam,

08 April 2018

Danilla - Lintasan Waktu (review)

Empat tahun yang lalu, Telisik hampir tidak pernah absen diputar dimanapun aku berada bahkan menemani jogging hampir setiap sore. Syahdu sekali proses lariku waktu itu ditemani suara alto Danilla beriringkan musik bernada minornya, ditambah sinar jingga matahari sore silih berganti menembus ranting pepohonan yang cukup rindang di sekitaran Graha Sabha Pramana (GSP), Rektorat dan perumahan dosen yang menjadi rute langgananku. Lari sore "bersama" Danilla selalu jadi momen berdiskusi dengan diri sendiri yang saat itu masih di awal 20-an; takut melangkah dan ragu menentukan arah. 

Ini pun digambar di dalam mobil yang terparkir di kawasan GSP, di bawah pepohonan, habis melamun, di saat galau menjalani masa awal 20-an.


Akhir Agustus 2017 lalu, aku kaget sewaktu membaca status Danilla di Twitter. Entah aku yang terlewat membaca update-nya atau bagaimana, tapi seperti tidak ada bocoran apa-apa sebelumnya, tiba-tiba ia mengumumkan bahwa album Lintasan Waktu sudah rilis secara digital. Aku langsung menilik sekilas lagu-lagu di album barunya, namun sejujurnya belum sampai mendalaminya seperti aku menghayati Telisik. Well, karena bulan lalu sudah beli rilisan fisiknya (ceritanya ada disiniplus aku sudah lama nggak membuat review musik 'ala-ala', kali ini aku akan membahas tentang Lintasan Waktu, album kedua Danilla.


"Laguland" menyapa kita di album ini dengan genjrengan lambat gitar yang berdistorsi, berhias melodi synth dan vokal lay back yang mengajak kita mengawang ke ruang kontemplasi. Selanjutnya suara vokal Sigit Agung Pramudita (Tigapagi) yang lembut berpadu manis dengan alto khas Danilla di lagu kedua, "Entah Ingin Kemana". Penambahan efek synth semacam suara-suara luar angkasa yang makin terasa di 3/4 bagian lagu, makin membawa imajinasi kita tenggelam ke entah kemana. Lagu ketiga, "Kalapuna", yang sudah sempat rilis di 2016, adalah salah satu lagu yang membuat saya-si-Pisces-yang-sensitif bisa menangis tanpa sebab. Apalagi saat hujan, temaram, dan sendiri. Well, selamat menyiksa diri.  

Di lagu "Meramu", Danilla benar-benar berhasil meramu lirik padat dengan aransemen musik yang patah-patah di bagian song dan bernyanyi dengan nada tinggi (versinya) di bagian refrain. Seperti meraung; menusuk! Kedewasaan Danilla dalam bermusik terdengar dari kayanya instrumen, salah satunya di nomor "Ikatan Waktu Lampau" yang makin menyayat hati dengan gesekan biola yang mengiringi melodi nyanyiannya. Dalam single "Aaa" pun sangat terasa kedewasaannya dengan penonjolan suara bass di awal, yang berpadu cantik dengan synth, dilengkapi solo gitar berdistorsi yang membuat nuansa 'memohon' di lagu ini makin terasa ratapannya, namun tetap tidak cheesy.

Suasana gelap masih terus meliputi meskipun "Dari Sebuah Mimpi Buruk" terkesan lebih mayor di awal dengan aransemen mini orkestra dan berubah sendu di refrain. Seperti hidup, kita bisa saja berjalan santai dan bersenang-senang namun tiba-tiba malang melintang di hadapan kita. Penuh kejutan. Itulah kesan saya terhadap lagu ini. Dan lagi-lagi Danilla membuktikan bahwa ia bisa menghantam nada-nada tinggi di lagu "Usang" yang kali ini dipermanis dengan melodi piano yang sengaja dibuat menonjol. 

"Ini dan Itu" kembali mengajak kita berimajinasi ke dunia antah berantah dengan paduan synth dan mini orkestra yang mengalun ramah dibalik lirik penuh kontemplasi; "Namun dimana peranku, tuk ini dan itu. Inginku tak lalu berpangku tangan menggapai angan". Tempo yang melambat di pertengahan lagu membawa kita mengawang jauh. Terakhir, "Lintasan Waktu" yang sudah dibocorkan sepenggalnya di Telisik menjadi pamungkas di album ini. Rasakanlah. Lagu ini menjadi penutup yang klimaks dengan hentakan drum dan musik yang cukup cadas, disertai ending solo piano.



Berbeda dengan Telisik yang saat itu bermodal Buaian sebagai single utama bernada riang untuk menggaet pendengar awam, di album ini Danilla tampil sangat dewasa, lebih matang, dan lebih menjadi-diri-sendiri dengan nuansa album yang menurut saya, secara keseluruhan, gelap. Distorsi gitar mendominasi di hampir keseluruhan lagu, pun suara Danilla yang terasa lebih matang (dan berat) dibandingkan album sebelumnya, menahbiskan bahwa nyawa album ini adalah tentang kesedihan. Nada-nada yang tidak tertebak menjadikan lagu-lagu di Lintasan Waktu kurang mudah dihafalkan, pun kurang asyik untuk dinyanyikan bersama saat sang Musisi sedang manggung. Album ini paling nikmat didengarkan sendirian. Terlebih jika ingin menikmati masokisme kegalauan melalui lagu.

Bagi Danilla yang saat ini sudah memiliki fanbase yang kuat hasil memperkenalkan musik sendunya melalui album pertama yang disisipi alunan jazz dan swing di sana-sini, tentu tidak masalah jika album ini dijadikan ladang eksplorasi, baik dari segi aransemen maupun lirik yang menurut saya makin puitis dan personal (hanya Danilla dan tuhan yang tahu maknanya). Toh, penggemarnya pasti akan mencintai karyanya bagaimanapun. Dan sebagai musisi independen, Danilla pun pasti akan tetap berkarya dengan jujur. Sejujur saat ia mengungkapkan kesedihan-kesedihannya melalui semua lagu dalam album ini.

"Berbagi tak hanya tentang kesenangan, kesedihianpun layak dapat ruang untuk diceritakan." -- Danilla Riyadi


Penasaran. Akan seperti apa album Danilla selanjutnya. 



04 March 2018

Surga Kecil(ku) di Kota yang Supersibuk

Masih ingat nggak kapan terakhir beli CD (atau kaset) di toko musik?

Jauh sebelum Raisa-Hamish menikah, akhir tahun 2015 lalu bisa jadi hari patah hati seluruh pecinta musik Indonesia. Disc Tarra, raksasa ritel musik Indonesia, akhirnya memutuskan gulung tikar. Sedih banget, man! Memang sih, beberapa waktu sebelum Disc Tarra benar-benar berhenti beroperasi banyak bermunculan cara-cara out of the box dalam pendistribusian album musik. Salah satu cara distribusi yang paling gencar saat itu dilakukan oleh resto waralaba dengan sistem bundling paket makanan dengan CD. Selain itu, toko-toko CD independen pun banyak bermunculan. Pernah masuk distro yang sekaligus berjualan CD-CD musisi independen (indie)? Yep, itu salah satu bentuknya. Apalagi ketika jalur indie sendiri dirasa lebih menjanjikan (sempat baca artikelnya disini), otomatis jalur distribusinya pun juga lebih bebas; bisa masuk ke toko ritel semacam Disc Tarra, pun menjajakannya lewat toko musik indie. Pada akhirnya, raksasa ritel yang kebanyakan mengandalkan distribusi album label-label besar pun satu per satu gulung tikar. 

Di akhir 2015 itu saya nggak sempat menikmati momen perpisahan dengan Disc Tarra yang kabarnya menjual banyak album dengan harga 'tiarap' (nggak cuma 'miring') karena sedang berdinas di kota kecil. Beberapa tahun hidup di sana, membuat saya agak kesulitan menghidupkan hobi mengumpulkan rilisan fisik karena ketiadaan toko musik. Selain beberapa kali sempat membeli di toko musik indie yang ada di luar kota dengan sistem online, setiap saya dinas di kota besar atau pulang ke Jogja saya menyempatkan diri untuk mampir ke toko musik seperti Disc Tarra yang memang banyak cabangnya di mall, jadi bisa sekalian cuci mata (yes, di kota tempat saya dinas pun nggak ada mal yang representatif). 

Sampai akhirnya, setelah kembali ditugaskan di kota besar, tepatnya dua hari yang lalu saya serasa melihat fatamorgana. Antara nyata dan tidak. Toko Musik Bulletin!



Untuk yang masih ingat, Bulletin ini juga salah satu perusahaan ritel musik yang cukup besar di zamannya. Hanya saja kalau menurut pengamatan saya, Disc Tarra lebih cepat memodernkan diri dan membuka cabang lebih banyak di berbagai mal di perkotaan. Tapi jangan salah, Bulletin sebetulnya sama lengkapnya dengan Disc Tarra. Bahkan kalau tidak salah ingat, saya pernah membeli album Rectoverso di Bulletin Plaza Madiun beberapa tahun yang lalu saat sulit saya temukan di beberapa Disc Tarra Jogja.


Kembali ke pertemuan saya dengan 'surga kecil' bernama Bulletin. Berawal dari ajakan beberapa teman saya untuk makan siang di Plaza Surabaya di hari Jumat, di saat kami paling tidak punya tambahan waktu setengah jam untuk istirahat. Betapa kaget dan senangnya saya, karena tidak jauh dari pintu masuk (kalau tidak salah pintu masuk sebelah timur), tiba-tiba muncul lah surga kecil itu di depan mata. Saya meminta agar sebelum pulang harus mampir ke tempat itu. Namun dikarenakan lamanya antrean di tempat makan, waktu istirahat satu setengah jam tidaklah cukup. Akhirnya kami pun mampir dengan terburu-buru. Pasti pernah kan, merasa kangen dan ingin bernostaligia atau berlama-lama ketemu? Tepat seperti itu penggambaran perasaan saya waktu itu. Di waktu yang sudah mepet, saya malah terlalu lama melihat-lihat CD satu per satu sampai akhirnya batal membeli karena salah satu dari kami harus segera balik ke kantor dan saya terlalu bingung untuk memutuskan album apa yang akan saya beli. *sigh*

Seperti rasa rindu yang belum tuntas, saya mengajak Rizal untuk kembali ke tempat itu di hari Minggu. Dengan perasaan lebih tenang, saya kembali tenggelam mengobati kerinduan akan proses melihat-lihat dan memilih-milih CD yang duduk manis di rak. Banyak CD yang sayang angkat, bolak-balik, lihat-lihat, taruh. Dan benar saja, dibalik ketenangan itu menghasilkan dua buah CD yang tersembunyi di baris-baris belakang, yang jelas tidak terlihat saat pertama kali mengunjungi Bulletin dua hari sebelumnya. 


Lintasan Waktu saya beli karena memang Danilla telah dengan setia menemani masa-masa gelap penuh kegalauan antara lanjut S2 atau bekerja formal sekitaran 2013-2014 lalu. Yes, that early 20's confusing-yet-stressful decision-making moment that apparently lead to most of my life journey. Jadi, untuk menghormati Mbak Danilla yang setia itu, saya pun dengan setia membeli albumnya yang saat itu tersembunyi di baris paling belakang meskipun sebetulnya saya sudah cukup sering menikmatinya lewat Spotify.


Nah, membeli album yang satu ini memang cukup random. Seperti biasa, saya tertarik dengan desain kemasannya. Album Hela ini sangat unik karena dibalut dengan kertas kalkir. Booklet-nya pun barbahan sama, dari kertas kalkir. Wow, sangat "rajin" jika dibandingkan musisi-musisi lain yang mendesain kemasannya dengan sederhana. Kalau penyanyinya sendiri jujur saja saya hanya lamat-lamat mengetahuinya. Sepertinya sih agak jazzy gitu, pikir saya mencoba mengingat-ingat. Tapi karena niatnya random, jadi ya nggak usah terlalu dipikir juga musiknya gimana. 

My plus one waktu pertama kali ke sana, my team mate Deedee


Nah kalau ini my real plus one yang menemani dalam suka dan duka #eh


Saking banyak dan segmented-nya musisi dibawah naungan Demajors, sampai-sampai ada dua rak khusus bertitel "Demajors"



Bapak-anak ini mengunjungi Bulletin untuk mencari VCD anak. Wah, ternyata pengunjungnya 'lumintu' juga.

Well, biar bagaimanapun toko musik satu ini harus kita pelihara kelangsungan hidupnya. Apalagi ditengah maraknya kolektor kaset dan piringan hitam yang kian menjamur. Jangan sampai kita-kita yang "hanya" kolektor CD ini jadi makin kehilangan sumber penambahan koleksi yang dapat dijangkau dengan mudah. Mengapa saya tidak beralih ke kaset atau piringan hitam yang sedang trending? Karena menurut saya CD adalah bentuk yang paling mudah dimainkan di mobil, tempat 40% waktu saya dihabiskan. Apalagi saat perjalanan jauh, tidak ada sinyal untuk ber-Spotify, pun menyetel radio. Selain itu, kita harus seimbang dalam hidup. Memainkan musik lewat digital music player iya, tapi mengumpulkan rilisan fisiknya juga iya. #bonschastheory :p

Anyway, kayaknya seru juga nih kalau kapan-kapan nulis pendapat tentang album yang baru saya beli ini. Ditunggu ya.. 




15 October 2014




"Well, Baby, cause I know this is complicated
but I won't let this love get wasted.
We can figure it out.."

18 January 2013

Hari ke-10 : Payung Teduh


Tuhaaan.. Rasanya sulit sekali menulis ditengah kantuk maupun mood menulis yang terbang entah kemana. Kontras sekali semangat menulis saya saat ini dengan waktu pertama mendaftar proyek 30HariBercerita akhir Desember lalu. Saat semangat dan ide menulis sudah tersedot ke papers untuk ujian akhir, menghadap layar laptop yang terang yang tersisa hanya rasa kantuk, rasa ingin refreshing dengan browsing kesana-kemari, atau sekedar melanjutkan menonton film seri favorit saya saat ini, Fringe.


Setelah beberapa hari mangkir, akhirnya saya mencoba menyemangati diri saya sendiri dengan mulai menulis tentang salah satu album favorit saya, Dunia Batas milik Payung Teduh. Tidak ada hal yang terlalu heroik saat menemukan CD ini terselip diantara album-album lain di DiscTarra selain keberuntungan karena waktu itu stok album ini tinggal satu-satunya. DiscTarra yang saya maksud adalah satu yang terletak di dalam Carrefour Amplaz, yang kalau kata saya sih kadang koleksinya sering  ajaib. Coba saja! :)




Awalnya saya belum terlalu familiar dengan lagu-lagu mereka. Hanya mendengar beberapa lagunya via Youtube. Sampai akhirnya pacar, yang telah lebih dulu suka, menonton performa mereka di Borobudur sekitar Oktober lalu. Pacar bilang personel Payung Teduh sangat ramah bahkan rela membuat konser kecil di backstage usai mereka turun panggung untuk memainkan lagu-lagu request para pecintanya yang belum dimainkan di atas panggungMakin penasaran lah saya. Hingga akhirnya saat menemukan CD mereka terduduk manis di rak DiscTarra, saya tanpa ragu langsung membelinya.


Agaknya memang para anggotanya sengaja berkonspirasi untuk melakukan sinkronasi antara nama dan lagu-lagu yang mereka buat. Payung Teduh, dengan nada-nada yang meneduhkan, menentramkan, menenangkan. Kesederhanaan instrumen yang mereka gunakan berpadu dengan cantik dengan lirik puitis yang sarat akan kerinduan. Pun, mereka memvisualisasikan kerinduan itu dengan potret percikan air hujan di kaca yang mereka letakkan di bagian dalam sampul album. Saya menjadi yakin bahwa sebenarnya saya bukanlah satu-satunya orang yang bisa merasa mellow atau mendadak rindu saat melihat hujan perlahan turun dan meninggalkan titik-titik air di kaca.

Lagu pertama, Berdua Saja, berhasil menyihir saya seketika menjadi penggemar mereka. Petikan contra bass dan gitar mendominasi di awal, menyatu sempurna dengan sentuhan vokal yang tegas dan bersahaja. Lagu-lagu selanjutnya bernafaskan nada-nada serupa dengan aksen keroncong yang kental. Sekilas saya teringat beberapa tahun yang lalu ketika saya menyadari saya jatuh cinta pada keroncong, ketika musik yang saya dengar di siaran tengah malam sebuah radio lawas lokal dengan kekuatannya berhasil meninabobokkan saya dengan manisnya.

Di beberapa lagu, instrumen lain dihadirkan untuk mempercantik lagu. Seperti salah satunya pada Untuk Perempuan Yang Sedang Di Dalam Pelukan, suara piano berhasil mengharmoni ditengah lagu yang (dalam imajinasi saya) bercerita tentang kekaguman seorang lelaki terhadap wanitanya yang berada dalam pelukan sebelum ia memejamkan mata menuju dunia mimpi. Instrumen lain adalah akordeon, hadir pada lagu Di Ujung Malam yang membuat lagu minor ini makin dalam makna rasanya. "Berbahagialah orang-orang yang dirindukan di ujung malam," komentar mereka di bawah lirik lagu ini. 

Salah satu lagu favorit saya adalah Angin Pujaan Hujan. Melodi gitar dan guitalele yang mengalun, akan sangat sempurna ketika didengarkan melalui headset dimana kedua melodi tersebut akan bersahut-sahutan di telinga kita. Lirik puitis "Sang pujaan tak juga datang. Angin berhembus bercabang. Rinduku berbuah lara," akan menambah derajat kerinduan seseorang, apalagi jika mendengarkannya ketika rintik hujan mulai turun. 

Satu lagi favorit saya, Rahasia. Lagu terlama, berdurasi hampir tujuh menit yang begitu pilu dan penuh ironi; ketika permintaan atas kembalinya seseorang terpatahkan dengan penggambaran melalui lirik-lirik menyayat seperti "Berikan tanganmu jabat jemariku. Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu. Berikan suaramu balas semua bisikanku memanggil namamu." Bagian paling putus asa menurut saya ada pada "Atau kau ingin aku berteriak sekencang-kencangnya agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku." Masih sering merinding ketika mendengar lagu ini di saat yang "tepat".


Terlepas dari anggapan beberapa orang yang menilai Payung Teduh terlalu kaku dalam liriknya yang puitis, maupun cibiran bahwa kata-kata yang dipilih sebenarnya biasa saja namun mereka hanya sok puitis, Payung Teduh dengan ciri musik yang menurut saya sangat Indonesia berhasil dicintai para penikmat musik. Tempo lagu yang pelan dan dibawakan dengan santun bekerja dengan baik dan berhasil membuat para pendengarnya menemukan tempat beristirahat dalam diri mereka sendiri, berhasil memberi ruang ketenangan dalam pikiran mereka, serta berhasil membantu menemukan pelarian atas tekanan-tekanan atau kepenatan yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Terbukti, setelah peluncurannya di tengah tahun 2012, Payung Teduh dinobatkan sebagai Best New Comer ICEMA Award 2012 akhir November lalu.

13 January 2013

Hari ke-9 : Marcel Thee

Akhirnya setelah ditunda beberapa hari, hari ini saya akan cerita tentang album yang baru-baru ini saya beli dengan alasan satu-satunya: "artwork-nya menarik". Waktu itu, sekitar tengah Desember, saya pergi ke Jakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan anak teman orang tua saya. Sabtu siang, untuk mengisi waktu luang sembari menunggu resepsi di malam hari, saya mengunjungi tempat yang cukup wajib dikunjungi setiap saya ke Jakarta; lantai dasar Blok M Plaza. Di sana terdapat beberapa lapak (kalau tidak salah hitung ada 2 atau 3) yang menjual kaset-kaset lawas, piringan hitam, CD second dan beberapa CD baru. 

Setelah melakukan pertapaan yang cukup lama alias melihat-lihat satu CD ke CD lain, mengagumi satu per satu artwork CD yang unik-unik, membolak-balik banyak wadah untuk memastikan saya tahu beberapa lagu yang ada di CD-CD tersebut, akhirnya mata saya 'kecantol' album Marcel Thee satu ini. Saya tertarik dengan lukisan (atau foto?) pegunungan yang menjulang beserta refleksi pada danau di depannya. Saya sempat berpikir mungkin ini gambaran pegunungan es di Norway atau New Zealand yang sering saya lihat di internet atau televisi. Bedanya, gambaran yang selama ini saya lihat berlangit biru cerah dengan awan-awan putih yang terekam manis sedangkan di CD ini background pegunungan dengan sederhana dibuat hitam pekat. Dari sana, saya jadi bisa mengira-ngira kalau lagu di dalamanya bernuansa 'gelap'.




Benar saja. Sepulang saya dari resepsi, saya langsung mendengarkan beberapa CD yang saya beli di Blok M Plaza, termasuk CD Marcel Thee. Saya masih ingat betul perasaan saya waktu mendengar lagu Endless Heart yang ditempatkan menjadi lagu pertama di album With Strong Hounds Three ini. Saya belum tahu siapa Marcel Thee, saya tidak tahu lirik lagunya bercerita tentang apa, tapi kesederhanaan melodi yang diciptakan pada lagu ini membawa ketenangan tersendiri meskipun (sesuai dugaan saya)  kesan 'gelap' lagu ini sangat kental. Lagu pertama didominasi oleh iringan organ dan vokal yang didistorsi.

Sambil mendengarkan CD ini, saya browsing siapa Marcel Thee itu. Dan oooh.. Ternyata proyek pribadi vokalis Sajama Tree ini merupakan album lo-fi yang sarat akan nilai-nilai relijius. Dan lagi-lagi "benar saja", di kolom genre iTunes muncul tulisan religious yang baru saya sadari kemudian. Beberapa lagu, selain didistorsi, suara vokal dibuat menjadi semacam koor yang makin membangun suasana gereja di kepala kita.

Di beberapa lagu setelah Endless Heart, iringan organ digantikan dengan gitar hingga pada lagu kelima suara organ muncul kembali yaitu pada lagu Date With Curmudgeon. Berbeda dengan Endless Heart yang lebih clean, suara organ dengan nuansa ambient di lagu ini terasa sangat kental. Nuansa ambient di lagu kesembilan, Kensingtone Runston, pun tak kalah kentalnya dan membuat saya serasa dibawa berjalan-jalan, masuk ke gereja-gereja kuno di kawasan Eropa dengan ranting-ranting pohon di luarnya yang mulai gundul di musim gugur yang dingin. 

Sebuah lagu yang menurut saya cukup "lucu" adalah Biblical Summer, dimana Marcel bermain dengan nada yang cukup ceria dengan organ dan gitar, menceritakan tentang kehidupan Jesus muda di Bethlehem dengan lirik yang cukup menggelitik: "Oh, we played in Bethlehem. Where Jesus hung out and played games with his friends and smoke pot."


Marcel Thee menurut saya bisa dengan cerdas membungkus kerelijiusan dengan cara yang tidak biasa, menyanjung dan memberi persembahan untuk Tuhannya dengan cara yang segar, dan tentunya dengan caranya sendiri. Sama seperti seorang yang dengan kreatifitasnya menciptakan lagu cinta untuk sang Pacar. Tanpa menggunakan lirik menye-menye, pesan yang tersampaikan tetap jelas; dia cinta pacarnya.

04 January 2013

Hari ke-4 : Rectoverso



Sebenernya yang namanya nulis di project #30HariBercerita itu semacem guilty pleasure. Bagian pleasure-nya jelas lah ya, kita bisa berbagi, belajar nulis dan mengutarakan ide, juga bisa belajar buat komit dan konsisten atas keputusan yang udah kita buat. Guilty-nya? Tugas yang bentuknya papers buat Ujian Akhir malah jadi kelihatan nggak menarik sama sekali. Serius. Sebenarnya hari ini saya kepingin libur nulis dan fokus menyelesaikan tugas-tugas yang terbengkalai. Tapi kok rasanya ada yang 'ngganjel' ya, semacem punya utang aja gitu.

Jadi sesuai dengan sneak peek yang saya tampilkan di posting-an yang kemarin, saya hari ini akan membahas salah satu album yang menurut saya unik cara menemukannya. Rectoverso karya Dewi Lestari (Dee). Sebagai salah satu penggemar kumpulan cerpen karya Dee, Rectoverso adalah karya yang brilian menurut saya. Di bukunya, Dee menambahkan gambaran visual fotografi pada setiap cerpennya. Ditambah lagi Dee menciptakan 11 lagu yang khusus dibuat untuk masing-masing cerpennya. Semacam karya 3 in 1. Ya cerita pendek, ya karya visual, ya karya musik. Kalau saya nggak salah ingat, Dee menyebut Rectoverso sebagai karya dia yang hybrid.


Di kota tempat saya tinggal, Yogyakarta, jumlah toko musik sangat terbatas. Begitu pun variasi dan jumlah album yang ada didalamnya. Alhasil begitu keluar kota, ke kota mana pun, satu tempat yang pasti saya hampiri adalah toko musik. Waktu saya ke Madiun, kota yang lebih kecil daripada Yogyakarta dan sempat saya underestimate, saya menemukan album ini. Waktu itu sekitaran akhir tahun 2011. Yap, dalam sebuah mall yang memiliki toko musik Bulletin yang cukup kecil, sepi, dan bahkan stoknya tampak sudah lama tidak diperbarui, saya menemukan barang yang di kota saya sangat langka ini. 


Buat saya, CD ini mengandung unsur magis yang bisa bikin merinding setiap mendengar beberapa lagunya. Pun, saya pernah mencoba membaca novel Rectoverso sambil mendengar CD-nya. Saya sempat tidak mau mendengarkan CD ini untuk sekian lama apalagi waktu mendung. Sumpah, bisa bikin galau mendadak. Pasti pernah kan, merasa mellow waktu mendung atau hujan rintik-rintik? Ya kurang lebih rasanya seperti itu tapi tanpa alasan yang jelas. 


Well, sebenarnya saya iri sekali dengan Mas Mohammad Ali Perdana peserta project #30HariBercerita yang sangat fasih mereview film dan album musik [link]. Dan sebenarnya saya juga kepingin mencoba mereview album ini. Tapi apalah daya, sekitar 30 menit sebelum jam 12 malam saya baru mulai menulis dan susah fokus gara-gara tanggungan papers yang sama belum ganti halaman sejak saya buka beberapa jam yang lalu. Bahkan kata-kata di posting-an ini pun rasanya sangat acak adut saking terburu-buru menulisnya.

Ya sudah lah. Kapan-kapan saya review dengan lebih serius lagu-lagu di dalam album ini. Ciao! 

03 January 2013

Hari ke-3 : Menggiatkan #1Bulan1CD

Di era globalisasi yang serba digital ini rasanya penyimpanan dan pertukaran data soft file menjadi sangat mudah. Kita bisa klik dan upload apapun cukup dengan duduk manis dirumah untuk bisa dinikmati orang-orang seantero dunia. File sharing yang biasa kita lakukan adalah download. Pasti banyak diantara kita yang lebih banyak mengunduh daripada mengunggah, terutama untuk urusan musik. Betul begitu sodara-sodara?

Nah, Gerakan #1Bulan1CD ini awalnya dicetuskan oleh teman saya yang bernama Theo Cahya. Dia juga pernah menulis hal serupa di blognya [link]. Kalau dihitung-hitung, Theo sudah menjalankan gerakan ini secara disiplin selama hampir 1,5 tahun. Ya, saya harus bilang WOW untuk kedisiplinannya! 

Gerakan ini awalnya diusung dengan semangat memperbaiki mental diri sendiri yang sering download album dari berbagai artis dengan maruk dan membabibuta. Bayangkan, band-band yang karyanya kita download itu rekaman di studio dengan tidak gratis. Proses mixing lagu juga bayar lagi. Belum lagi manajemen, sound engineer, dan kru-kru lain yang juga butuh duit dari hasil kerja mereka dengan band-band itu. Memang sih, mereka akan dapat bayaran yang besar dari hasil manggung sana sini. Tapi coba kita lihat, begitukah cara kita mengapresiasi karya yang muncul dari tingkat intelektualitas tertinggi manusia? Dengan cara mengunduh secara cuma-cuma? Saya rasa tidak. Jadi, meski awalnya men-download, kami sudah berjanji untuk segera membeli album fisik mereka begitu tersedia di toko musik dan begitu urusan keuangan juga sudah mencukupi. 

Gerakan serupa juga sebenarnya pernah kami baca di blog seseorang waktu Theo sedang blog-walking. Rasanya senang sekali mempunyai "teman" yang juga memiliki semangat yang sama. Sayangnya saya lupa blog orang itu. Kalau suatu saat kamu membaca ini, saya rasanya kepingin dadah-dadah dan bilang "Mari lanjutkan perjuangan kita!!!!" Oke, agak lebay. 



Kenapa 1 Bulan "cuma" 1 CD?

Sebenarnya menurut saya sah-sah saja kalau kita mau beli 5 CD sekaligus dalam satu waktu atau bahkan merapel 6 CD untuk 6 bulan yang bolong. Yang terpeting sebenarnya adalah apresiasi terhadap karya seni dan memperbaiki mental download gratisan. Hanya saja, seringkali kita yang mahasiswa dan pelajar ini sulit mengalokasikan uang jajan yang terbatas untuk jumlah besar, misal beli 5 CD sekaligus dalam satu waktu. Lain halnya kalau kita "mencicil" membeli 1 CD dalam 1 Bulan. Paling kita hanya akan mengeluarkan 25-40ribu rupiah untuk album musisi lokal.


Saya pribadi, suka mengoleksi CD. Terutama CD karya anak negeri yang awalnya saya lihat performa mereka lewat situs YouTube atau Soundcloud, atau referensi dari orang-orang sekitar. Kadang pun kalau tidak ada ide mau beli album apa, saya dengan random-nya memilih CD dengan artwork yang bagus atau unik. Sayangnya, saya masih tidak sedisiplin Theo; asal ada duit, langsung beli 3-4 CD. Rasanya memang kurang "nyeni" sih dibanding Theo yang bisa menjajarkan dengan rapi ke-12 CD yang sudah dikumpulkannya sejak bulan pertama hingga bulan keduabelas. Mungkin ke-tidak-nyeni-an itu lah yang akan saya benahi dan saya masukkan sebagai salah satu resolusi di tahun 2013.


CD adalah rekaman fisik yang saat ini saya dan Theo rasa paling berharga dari seorang atau sekelompok musisi. CD akan sangat berbeda dengan file unduhan yang telanjang tanpa cover, wadah, dan karya seni visual yang secara custom dibuat berbeda antara CD satu dengan yang lainnya. Di awal Theo menggiatkan gerakan ini, dia dengan menggebu-gebu mengiming-imingi saya, "Tau nggak, CD Mocca yang album pertama ada yang jual di Kaskus harganya 250ribu dan laku! Bisa jadi CD-CD yang kita beli sekarang value-nya naik banget Bon waktu kita tua nanti. Besok kalo kita nggak punya duit, tinggal jual-jualin CD kita aja. Kayak vinyl di jaman sekarang gitu Bon!"



Jadi,
Ada saran album siapa yang sebaiknya saya beli di bulan Januari ini? :)



SNEAK PEEK!
WHAT'S ON THE NEXT POSTS




04 September 2012

MENDEZ









This is finally it. My band's first recording. Three to four days in a row of recording and mastering process. I remember how I was so exhausted after work-hours, got flu and cough, and felt sooo sleepy. Then now after seeing friends and people good reactions and comments to our song, those are paid off. :)

facebook



p.s.: So guys, I'm writing and updating this post in September 6th, right 2 days after those account made. We've reached soundcloud's maximum download limit or... let's say one hundred downloads in 2 days! YAYNESS! By then, we uploaded our song in 4shared which has unlimited download number. Feel free to download, guys! Comments and critics are allowed. :)

17 June 2012

#nowplaying To Be With You



I held the stars to light where you are
When your unfeigned heart called to me through the dark
Soaked in the sound that rose from the ground
There I could feel
I felt, I felt you near




Just discovered a cool band with a cute vintage music video called The Honey Trees from Theo's news feed in Facebook. They really made my night, when I feel so confused about my final paper assignment. Yeah, the final exam starts tomorrow and I'm not sure I had done my best preparation. Just, wish me bunch of lucks fellas! ;)

28 May 2012

A Little Reunion

On Saturday night, Theo visited my house to practice some cute songs for a garage sale event on May 31st. Suddenly, Theo was giving me the beat. Paramore!

This band was always on our playlist when we were high school. We've covered many of their songs and being their big fans. Hayley Williams inspired me so much on how she sang powerfully with a very active and attractive stage performance, catching up the high tones, and her unbeatable energy. Each member of Paramore was giving a huge energy to the stage and spread it to the spectators, to the fans, by their head-bangs, their jumps, and of course their music.

These videos was like a reunion, especially for me. I had a 5-membered-band who used to be together until universities do us apart. Hahahaa. Yap. We're seperated and had so minimum quality time to gather. Finally after we lose one of our guitarist, we changed our genre into somekindlike acoustic indie-pop. It was very hard to stand together with this form. Till then the two of us four, me and Theo, started to make a new project. We're planning to keep this acoustic indie-pop genre with some touches from other instruments. Hopefully we can survive until our album (or at least EP) produced. :)





I made many mistakes there. It was quite long time not singing their song so I forget several parts of the songs and lyrics. Sorry :p

25 October 2011

#nowplaying Home To You - Tortured Soul



I know you're there for me even when you're angry
I don't need to yell you "no I'm sorry baby"
when I get back you know we have to make up
I'll come and whisper to you "baby wake up"


I can't wait to get home to you
without your love nothing feels quite right




A cool band that always reminds me of my lovely talented drummer everytime I listen to their songs. Maybe they have a similar beat of drum play or something. imy L :)

01 August 2011

#nowplaying Destiny - Homogenic





To be at your side, whenever, wherever
To be in your heart, whenever, wherever




Just made a new header (or logo or whatever it called) yesterday and gave a little touch to here and there, also resizing the pictures. I hope you like it. :) Anyway happy fasting for my Moslem friends. God bless. :)

09 May 2011

#nowplaying Fight For Future




So much to say but i wont make it quick
I lose my mind each time i look at your eyes
So why dont you close them?

And all those sleepless night
Reminds me of one thing though
How fast time passes us by
So why dont we hold them?

I'll fight the future for you maybe
I'll fight the future for you maybe
I'll fight the future for you maybe
I'll fight the future for you maybe

I'm passing this old neighborhood
and see how it meant to you
I'm hoping you'll be there
I'm hoping you'll be there

I'll fight the future for you maybe
I'll fight the future for you maybe
I'll fight the future for you maybe
I'll fight the future for you maybe

And hope we'll reach morning
I thought you saw it too
I'll fight the future for you maybe


The Trees And The Wild

24 December 2009

Buat Kamu - Syaharani

bintang2 tak bicara
walaupun seribu nada
kau nyanyikan malam ini

kau tau cinta bukan tabir kata
tak perlu kau tunggu slamanya
kau impikan malam ini

reff:
tak perlu dekat jika hati bisa rasakan hadirnya
tak perlu terungkap sebab hidup rahasia
bagiku cukup untuk nikmati apa yang ada dan terjadi
semua kan mengerti




this song means a lot for me. especially now. :')

01 May 2009

Overjoyed

this is one of my favorite arrangement of Overjoyed. feels more groovy, isn't it ? :D