Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

16 September 2018

The Last Goodbye..

Yah.. Lagi-lagi salah satu platform penyimpanan foto dan memori digital akan tutup buku untuk selamanya. Path, menyusul Friendster, akhirnya akhir minggu ini mengumumkan lewat postingan yang beredar di dunia maya, "The Last Goodbye".



Jujur aja, meskipun sudah nggak pernah aktif nge-Path selama sekitar 2 tahunan ini, rasanya tetap sedih kehilangan salah satu platform paling hits di zamannya, mungkin sekitaran tahun 2011 - 2015. Aku sendiri dulu aktif di Path di masa-masa akhir studi S1, sekitar tahun 2013. Selain itu Path juga yang menjadi saksi perjuangan skripsiku (mulai dari check-in di kafe, upload foto gelas kopi di samping laptop, foto-foto kelulusanku dan teman-teman), dan terutamanya saksi perjuangan daftar kerja sampai tahun-tahun awal ditugaskan di Banyuwangi. Aku bukan termasuk pengguna yang getol memanfaatkan fitur "wake up" dan "sleep" karena yaaa ngapain tiada berfaedah menurutku. Untuk ajang pamer waktu sering-seringnya jalan-jalan, aku cukup mengaktifkan "neighborhood" yang otomatis meng-update statusku jadi "Arrived at...."

Beberapa Moments yang sempat aku selamatkan (belum semua), akan aku bagikan di sini. Dengan harapan, semoga Blogger umurnya masih panjang yah.. AMIIIN (makanya rajin-rajin posting dong <-- kaca="" ngomong="" p="" sama="">


Masa-masa akhir S1-ku diisi dengan nge-band sana, nge-band sini. Karena pada dasarnya nggak punya band tetap (sebelum Boarding Room yang waktu itu sempat gabung kurang dari setahun), bahkan aku sempat memproklamirkan diri sebagai "loyal freelance vocalist" #yazek. Bersama Boarding Room, aku sempat ikut manggung di Semarang dan Purwokerto yang waktu itu jadi band pembuka untuk Adera. Selain itu, "prestasi" lain adalah jadi band pembuka untuk Banda Neiraaaa!! Band indie akustik yang saat itu lagi naik daun. :')




Selesai masa kuliah, masuk lah ke masa kerja yang diawali dengan Samapta, pelatihan ina-ini-ina-itu, main ke simulator pesawat di GITC, perpisahan dengan teman-teman sekosan yang lebih dulu dikirim OJT, dan sebetulnya masih banyak lagi Moments yang belum disimpan ulang.

Satu hal yang spesial di masa pelatihan itu adalah aku dan dua temanku berhasil ikut Pilpres di Jakarta dengan penuh keluh kesah. Rasanya waktu itu senang dan lega sekali setelah perjuangan kesana-kemari panas-panasan jalan dan naik angkot. Ini dia Moment-nya.



Masa-masa awal penempatan di Banyuwangi pun terekam di Path. Mulai saat pertamaku menginjakkan kaki di Bumi Blambangan, pengalaman pertama ditilang gara-gara naik motor tapi belum punya SIM C, makan di rumah makan yang notanya ditulis ala kaligrafi, terbang dengan ATR waktu Gunung Ijen sedang kebakaran hebat sampai hutannya cukup lama menghitam, momen tersedih saat laptop hilang, dan pertama kali main di Pulau Menjangan dan Pulau Tabuhan.



Path juga merekam masa-masaku berkumpul dengan sahabat-sahabat terbaikku. Beberapa foto diunggah sebelum aku merantau, namun tidak sedikit yang diunggah waktu kami sudah sama-sama tersebar di kota yang berbeda.




Dari banyak Moments, inilah beberapa Moments yang ingin aku "selamatkan":



Ini kenanganku dengan Almh. Iroh, salah satu sahabatku semasa kuliah. Mulai dari belajar bareng para suhu akuntansi waktu mengulang kelas Akuntansi 2 (kalau nggak salah), meet up di Jakarta setelah kelulusan, daaaan yang paling ajaib adalah nggak sengaja ketemu di Bandara I Gusti Ngurah Rai waktu aku mau balik ke Banyuwangi dan dia sedang transit dalam perjalanan ke Labuan Bajo. Ketemuannya cuma sekitar 10 menit, tapi ya ampuuun teriak-teriaknya mungkin bikin orang di sekitar ruang tunggu terganggu ketentraman batinnya. Hahaha, maklum.. Kangen banget!!


Mau tidak mau cara menyimpan foto di sosial media harus diakui masih sangat ringkih. Apalagi dengan banyaknya sosial media baru yang bermunculan. Sudah banyak sosial media yang kita percaya sesbagai penyimpanan memori berguguran, mulai dari MySpace, Friendster, dan sekarang Path. Paling aman saat ini mungkin penyimpanan di Cloud. Atau mungkin, justru cara jadul seperti mencetak foto dan menaruhnya di album?






















09 September 2018

Pengakuan


Tibalah aku di satu masa bahwa "berusaha tidak mengeluh itu memuakkan". 

Aku yang manusia biasa ini tentu punya perasaan lelah dan jenuh. Biasanya aku berusaha selalu "spread the positive vibes" terutama ke dalam diri sendiri. Jadi lebih ke arah memberi sugesti ke diri sendiri supaya nggak tambah capek. Tapi manusia tetaplah manusia. Berusaha tidak mengeluh dan menganggap semua baik-baik saja malah menambah lelah pikiran. 

I have to admit that juggling my time (and enegy) for these roles is not easy.


Terkadang aku berpikir, adakah yang salah dengan manajemen waktuku? Namun di sisi lain aku menghibur diri dengan, yah, aku hanya manusia biasa yang bagaimanapun caraku memaksimalkan waktu, dengan tugas dan kewajibanku saat ini, pasti akan ada yang terkorbankan; kita tidak bisa membahagiakan semua orang bahkan diri kita sendiri. 

Semoga aku masih kuat menjalani semua peran ini sekaligus menjadi manusia yang amanah. Karena bagaimanapun beberapa peran yang saat ini kujalani adalah pemberian Yang Kuasa dan pasti ada hikmahnya.


Ingin aku menuliskan panjang lebar tentang keluhanku, tapi aku khawatir akan semakin tenggelam dalam rasa lelah. Sampai tadi aku melihat ilustrasi di instagram @drawmama dengan tulisan "to feel is HUMAN". Itu yang menginspirasiku untuk "sedikit" berkeluh kesah di sini (setelah berdrama dengan diri sendiri; bikin draft keluh kesah sampai beberapa kali). 



Semoga setelah tulisan ini di-posting beban pikiranku jadi berkurang. :)




Cheers!


19 August 2018

26.5


Lewat masa kuliah, masuk ke dunia kerja, sedikit sekali waktu yang kumiliki untuk berkontemplasi. Rasanya setiap hari aku lalui begitu saja, malam hari capek dipakai tidur, akhir minggu jalan-jalan atau yah, tidur. Dulu zaman kuliah, mungkin karena juga masih di masa pencarian jati diri, aku sering sekali begadang untuk eksplorasi pemikiran orang lain dengan blog-walking, browsing dan menikmati banyak lagu dari berbagai genre, atau sekedar menuliskan buah pikiranku yang beberapa masih tersimpan baik di kolom Draft sampai sekarang. Masa-masa pencarian jati diri dengan pemikiran dan ketakutan akan seperti apa aku di masa depan.

Dan malam ini, sembari menunggu suami yang sedang futsal, aku kembali menikmati waktuku sendiri, menenggelamkan diri dalam pemikiran-pemikiranku yang mungkin selama ini hanya lewat selintas dan mulai menuliskan mereka perlahan. Beberapa tersimpan di Draft (lagi-lagi) dan salah satunya ingin aku publikasikan sekarang; daftar hal-hal yang akan aku katakan pada the 17-years-old me.
  1. Yes, kamu anak perempuan tunggal dengan aturan rumah yang lumayan ketat. Tapi jangan sampai kamu menyesal tidak puas kumpul-kumpul dengan sahabat-sahabat SMA-mu bahkan sampai menangis sesenggukan karena terlampau rindu mereka waktu sudah kerja. Sebagai bocoran, sebagian dari mereka nantinya akan kuliah dan tinggal di luar negeri, sementara kamu bekerja dibawah kontrak "bersedia ditempatkan dimanapun sesuai kebutuhan perusahaan". Belum tentu setahun sekali bisa bertemu full-team. Jadi, berargumenlah dengan masuk akal, bijaksana dan tanpa emosi pada orangtuamu (terutama mama) sebelum main dengan mereka. 
  2. Berkaryalah barang selagu-dua lagu atau bahkan sealbum dan jadikanlah karya itu bisa dinikmati dan dikenang orang banyak. Jangan menunda-nunda dan menjadikan ajakan teman-temanmu berkarya sebagai "mitos belaka". Musik adalah passion-mu, jangan sampai semangat itu mengendur meskipun jalan yang kamu tempuh nantinya adalah "jalur formal" dan "mainstream". 
  3. Baca lagi, baca terus, jangan berhenti membaca. Nanti waktu kamu kerja, makin sedikit waktumu untuk membaca, makin nggak telaten menghabiskan buku-buku yang sudah kamu beli dan berakhir jadi pemberat di koper saat kamu pindahan kesana kemari (nggak mau ditinggal karena merasa "hutang baca"). Banyak ilmu yang tidak bisa serta-merta kamu temukan dari Google. Percayalah, artikel di Google pun masih banyak yang tidak kredibel. 
  4. Nanti waktu kamu kuliah, manfaatkan waktu luangmu untuk berjalan-jalan mengeksplor daerah-daerah yang ada di Indonesia ataupun ke luar negeri. Waktu luang adalah sesuatu yang cukup langka nanti setelah kamu bekerja, apalagi diwaktu orang-orang libur, kamu malah harus bertugas. Berjalan-jalanlah sepuasnya sebelum prioritasmu bergeser, baik prioritas waktu maupun finansial.
  5. Jangan menyepelekan manajemen finansial untuk dirimu sendiri!

Pesan untuk aku-9-tahun-lalu ini mungkin akan aku jadikan juga sebagai bekal catatan untuk mendidik anakku kelak. Semoga aku bisa jadi teman curhat yang baik untuk anakku kelak, jadi bisa ikut merasakan hal-hal yang benar-benar diinginkan dan diimpikannya. Amin.


Sincerely
Calon mamak yang masih khawatir dan clueless tentang parenting




05 August 2018

Perspektif

Tulisanku ini sudah mengendap selama 5 tahun lebih 4 bulan di kolom Draft saat sedang mengikuti tantangan "30 Hari Bercerita" yang berat dan berakhir dengan kegagalan yang telak. Tanpa merubah redaksinya, inilah tulisan yang menurutku masih sangat sesuai dengan kondisi sekarang.

-------------------- ..-------------------- ..--------------------

Well, ternyata yang namanya nulis itu nggak segampang yang dibayangkan waktu daftar 30HariBercerita akhir Desember lalu. Kalau dasarnya sedang nggak ada ide atau sekedar nggak mood nulis, yang ada setelah buka laptop malah nonton Fringe atau browsing sampai ketiduran. Contohya post ini. Sebenarnya saya sudah tulis post ini kemarin, tapi entah kenapa tiba-tiba mood nulis hilang. Malu juga sih sebenarnya sama peserta lain yang sudah dengan 'ajeg'-nya bisa posting hari ke-17 sampai hari ini.

Baiklah, mari kita mulai.


Jadi, beberapa bulan yang lalu saya diberi tau link video di Youtube yang bercerita tentang perjalanan Charlie Chaplin ke Indonesia di tahun 1932. Ia melakukan perjalanan ke Batavia, Garut, Borobudur (Magelang), Surabaya, dan Bali. Perjalanannya ke Bali adalah satu yang sangat menarik saya. 

Kenapa menarik? Sila tonton sendiri.


Sudah ketemu hal menariknya? 
Yap. Sebagaian besar wanita Bali pada masa itu bertelanjang dada. 


Hal yang menggelitik saya adalah, ketika banyak orang zaman sekarang dengan penuh percaya diri berkata bahwa masa yang mereka tinggali saat ini adalah masa yang telah beradab, namun pelecehan seksual terjadi dimana-mana. Coba kita lihat lagi video tersebut. Adakah lelaki yang melakukan tindak asusila gara-gara para wanitanya bertelanjang dada? Mencolek bagian dada, misalnya. Sedangkan kita tau Dewi Perssik pernah marah habis-habisan dengan seorang lelaki yang mencolek (atau meremas?) dadanya saat ia turun panggung beberapa tahun lalu. Dibandingkan dengan wanita Bali pada tahun 1932, Dewi Perssik saat itu terhitung berpakaian sangat lengkap.

Jika saat ini banyak terjadi tindak pemerkosaan maupun tindak asusila yang menempatkan wanita sebagai subjek kesalahan karena memakai rok pendek, sebenarnya pemikiran masa mana yang lebih beradab? Masa sekarang, atau masa lalu?

Pada dasarnya segala hal tercipta dengan nilai yang netral. Kemudian manusia lah yang memberi nilai terhadap suatu hal; baik-buruk, bagus-jelek, dan seterusnya. Nilai tersebut muncul dari perspektif atau sudut pandang setiap individu, dimana ketika mereka berkumpul dan merasa melihat suatu hal dari perspektif yang sama, maka itulah yang akan menjadi kebenaran mutlak.

Seorang karyawati memakai rok/ span untuk bekerja, pulang dengan angkutan umum, dijebak lalu diperkosa. Alasannya, karyawati tersebut mengenakan rok/ span yang mengundang syahwat. Apa iya jika karyawati tersebut mengenakan jubah ia akan bebas dari jebakan pemerkosaan? Toh pada dasarnya jebakan adalah sesuatu yang terencana dan disengaja to? Apa iya ketika kita membuka pintu rumah lalu ada pencuri masuk, lalu pencuri tersebut dinyatakan tidak bersalah?

Porno-tidak porno, menggugah syahwat atau tidak, itu semua pada dasarnya tergantung bagaimana otak kita menanggapi rangsangan visual yang ada. Semua tergantung dari perspektif mana kita melihatnya.

-------------------- ..-------------------- ..--------------------

Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, rasanya masih sangat berkaitan dan bahkan menurutku lebih memprihatinkan. Sudah dengar tentang kasus pemerkosaan remaja perempuan oleh kakak kandungnya sendiri dan malah divonis pidana karena melakukan aborsi? Berarti, remaja perempuan usia 15 tahun itu sebetulnya dipaksa untuk harus menerima kehamilan yang bahkan bukan keingannya, bagaimanapun hasil perkawinan inses itu (ada kelainan atau tidak), tanpa mempedulikan mental si perempuan yang sudah pasti hancur karena pemerkosanya adalah kakak kandungnya sendiri. Miris! (Bisa baca beritanya di sini dan pembahasan lebih dalamnya di sini)

Perempuan selalu menjadi korban atas pelecehan seksual dan tidak jarang perempuan selalu diam, memilih untuk tidak melawan. Unsur keselamatan dan nyawa jadi taruhannya. Lihat saja video tentang perempuan di Perancis yang diserang balik oleh 'catcaller' gara-gara melawan. Beruntungnya, pemerintah Perancis langsung menerapkan denda dengan nominal besar bagi pelaku pelecehan di jalanan. (Aku baca beritanya di sini)

Pemerintah terus-terusan memblokir situs dan aplikasi gawai yang berkonten pornografi. Lembaga Sensor juga tak henti menyensor belahan payudara dan adegan percintaan di tayangan film dan TV. Lalu apalagi? Tentu yang perlu diperbaiki adalah pola pikir manusianya. Di sini peran keluarga sebagai tempat pertama seseorang menuntut ilmu menjadi sangat penting. Dan itu juga lah yang menjadi PR untuk aku dan suami kelak. Semoga kita semua bisa ikut memperbaiki pola pikir penerus kita. 







11 March 2018

26

This year,
I can't think of a long contemplation note, one that usually (-- or had always been--) a note full of confusion, thinking on how the future will be and how I'll put my dreams on.

My best friend said, I've passed the so-called 'quarter-life crisis'. By number, yes. But, who knows.
But since the serenity I'm feeling now, with no rush, just walk on the path ahead me.. I think I'm gonna say "80% yes" to that statement.

Instead, I have to be grateful on how I feel so love and be loved with someone that never give up on me since the first day we met.




One thing that I should be more embrace on this age is that I have to be happy.
Be happy of my life, my choice, my condition, even my gained-weight.. Anything! Care less on what others might judge on me, because yes.. I am who are responsible to make myself happy.
I'll just enjoy every moment, lessen any negative vibes on my head, and no drama. 




How often we forget on pleasing ourselves by things we really want just because thinking on other's perception?
Me, on the "often-scale" of 1 to 10, it's probably 7.
So, I just wanna remind my present-self about one of my teenage's motto (which I think I didn't really walk on it, too, until now) : We only live once, have fun!


p.s.: Loving the watercolor given by her, her, him, him, her, and her as my bithday present. Can't thank you guys enough! x







28 January 2018

Perkara Rantau, Rindu, dan Rumah



Ada kebiasaan-kebiasaan sepele yang terekam di sela dinding yang diam-diam aku hirup perlahan dan rekam dalam otak. Bukan penyimpan memori jangka panjang yang baik, rasanya ingin kuhirup terus sampai menjadi memori permanen; sewaktu-waktu kubuka dan kusesapi pelan untuk sedikit merapikan rindu yang terserak porak.


Ada harga yang harus dibayar untuk sekedar merasakan sop ayam favorit masakan suami, di rumah yang kami sama-sama usahakan berdua, di tengah hari yang dulu nampak biasa, dan sekarang menjelma menjadi sebuah kemewahan.

Kekhawatiranku saat ini bukan tidak bisa pulang, justru pulang lah yang membuatku berat untuk kembali pergi. Bahwa sejak hari pertama pulang, pikiranku sudah ada di hari aku meninggalkan rumah. Rindu yang ditabung, belum puas ditebus. Jiwa ini rasanya masih haus.







02 January 2018

Hello, 2018!

Happy new year!

Well, niat hati update waktu long weekend kemarin, apa daya karena terlalu padatnya aktivitas tahun baruan di Jogja, alhasil baru sempat update sekarang, 2 Januari 2018 jam 08.00 di K-A-N-T-O-R! (pardon, ma Boss)

6bca770631937283e8787896b4bf08cd
image source



Dalam rangka mengejar ketertinggalan Blogging Challenge dari Mba Yuwan dan Ganes, kali ini mau update yang singkat-padat-jelas dan tinggal nulis ulang dari note di hp yaitu tentang RESOLUSI. Seumur hidup aku nggak pernah bikin resolusi semacam ini. Tapi terinspirasi dari Mba Yuwan, kayaknya asik juga bikin resolusi yang ngga usah muluk-muluk dan simple, yang bisa diimplementasikan sehari-hari. So, here are my resolutions:

    25 December 2017

    Wrapping up 2017 #1: Wedding

    WhatsApp Image 2017-12-24 at 18.02.57

    Most of my life events actually happened in the second semester of the year. Kalau mau meng-highlight, sebetulnya cuma ada 3 peristiwa yang menurutku betul-betul perlu ditulis di sini untuk dikenang. Yang pertama, pernikahan.

    Sejak pertengahan tahun 2016 lalu sebetulnya saya dan Rizal sudah sepakat untuk menikah. Ya, sepakat. Semua serba dibicarakan, mulai kesiapan mental, psikologis, sampai finansial. Rizal bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Pun bukan tipe romantis yang apa-apa harus diungkapkan pakai bunga. Jadi ya nggak kaget kalau cara dia melamar adalah lewat pembicaraan, tanpa berlutut menyodorkan cincin berkata "Will you marry me?".  Akhir tahun lalu, Rizal memberanikan diri datang ke rumah untuk nembung ke orang tuaku dan menyatakan niatnya untuk serius, dilanjutkan sekitar 2-3 bulan setelah itu orang tuanya datang ke rumah untuk melamar.

    23 December 2017

    Lebih empat puluh hari

    Jujur sih, beberapa celetukanku, beberapa gaya bercanda dan gaya nyamberin orang-ku itu terpengaruh dari kamu atau bahkan mengkopi kamu.

    Ya, sejujurnya memang sebegitu berpengaruhnya kamu di hidupku.

    Kita memang jarang ketemu. Jarang banget. Apalagi setelah lulus kuliah. Bahkan sudah sejak pisah kelas dan kembali ke jurusan masing-masing pun kita jarang ketemu.

    Tapi paling enggak, entah seminggu sekali, dua minggu sekali, kapanpun itu, setiap ada artis, orang aneh, temen kuliah *ups*, bahkan apapun yang perlu dikomentarin, pasti kamu orang pertama yang aku bagi. Kenapa ya, kayak.. Tanggapanmu pasti khas banget! Selalu ngakak, komentar nggak-penting-tapi-penting, bahkan sampe nyinyir berjamaah.

    WhatsApp Image 2017-12-22 at 22.27.53


    19 December 2017

    First blog post

    WhatsApp Image 2017-12-19 at 15.25.03

    Well, this is my... fourth or fifth (?) blog since 2007. So, basically I've been inconsistently writing since 10 years ago. Yes, inconsistent. Because I had no certain topic to write, or too shy to publish my stories (which for me it's too deep, or you may say that those are too cheesy), then left it unpublished on the draft.

    I'll write in English or Bahasa, depends on my mood.. Probably about my life, some pictures, travels.. Anything that can beat my friends' (Mba Yuwan and Ganes) challenge.



    So, hello again.



    Sign_small

    22 April 2017

    25

    After thousands of drafts,
    Many unwritten stories,
    Unspoken thoughts,
    Regardless that my blog account almost gone, I am trying to post this one


    Now I finally here with some tagline says “time flies”
    Quarter life
    The ages when the young me always imagine how would it feel to be at the current me
     

    The things I’ve planned in my early 20’s are barely touchable
    (Well, not that I was planning something huge but at least those are dreams and dreams should always be dreams, anyway)

    People say, early twenties are important as you’ll get major changes in life after some decision that brought you to your first stepping stone
    I agree

    I stroll around my old posts and read some of them
    There was, I keep reminding myself to get back when I’m lost
    Lost to what I actually aim of
    Lost to the things I dreamed of
    Or getting away to my passion I called home of my soul

    But that’s about life
    : Choice
    Whether you have to sacrifice yours or others’
    We can never please everyone, right?

    After all,
    We’ll work on the plan B
    The spontaneous yet continuous one
    : Cherish the life



    23 December 2013


    Why should worry about tomorrow when you know that time flies fast?
    Everything will pass, soon. Tomorrow will be another yesterday.




    That feeling is just one which makes us human.

    19 June 2013

    The Goodbye Series




    나의사랑 good-bye | {series}



    Model: Fitra Armela

    Photographer: Bintang Mustika
    A session with Dhea Laras & Laras Sekar


    22 March 2013

    21

    Sama seperti hari-hari biasa, tidak ada beda.
    Mama yang sengaja tidak mengucapkan selamat, pun bapak yang ternyata benar-benar lupa. Kami bertiga berada di tiga kota berbeda.
    Beberapa ucapan melalui pesan singkat dari teman, juga ucapan melalui sosial media. Tak lupa mereka yang mengucapkan secara langsung.
    Kebahagiaan sederhana saat bisa makan malam bersama pacar ditengah kesibukannya, di sebuah rumah makan ala Thailand favorit saya.


    Inilah ulang tahun yang saya rasa paling dewasa. Tanpa pesta kejutan, kue ulang tahun beserta lilin-lilin, pun hadiah. Sama seperti ekspektasi yang saya bayangkan di hari-hari sebelum usia berubah menjadi 21. Tidak lagi memiliki perasaan gugup membayangkan seperti apa kehidupan di kepala dua.

    Umur yang lalu, dalam setahun yang berlalu. Emosi dan kebencian adalah satu paket besar yang perlu di-highlight untuk kemudian dibuang. Tidak ada makna yang bisa diserap hati kita untuk sebuah kebencian, saya sadari. Ibu pun sedari saya kecil selalu mengajarkan untuk berbuat baik kepada siapa pun, bahkan pada orang-orang yang telah menyakiti hati kita. 

    Seringkali emosi menyingkirkan logika. Pun melenyapkan pesan ibu pada saya, yang sebetulnya telah terpatri di memori. Orang yang telah berbaik hati pada saya, saya benci begitu saja. Kadang saya yang terbiasa positive thinking ini pun sering kecolongan membenci orang yang berbuat baik pada saya, dan bahkan tidak memiliki prasangka apapun pada saya. Lebih parahnya, dengan orang-orang tersebutlah pada akhirnya saya harus bekerjasama. Selalu, begitu cara Tuhan mengingatkan saya untuk tidak membenci siapapun.



    Perjalanan di tahun ke 20 yang lalu banyak dihiasi letupan emosi. Kunci kesabaran yang sering hilang perlu banyak diduplikat untuk menggembok kebencian terutama agar tidak serta merta keluar dari mulut ke sembarang orang. Belajar 'ekspresif yang bertanggungjawab'.


    Ini merupakan kontemplasi tahunan berupa tulisan. Harapannya, setelah di-publish, beberapa pemikiran yang telah ditulis dan diketahui banyak orang ini bisa dijadikan janji diri. Semoga di usia mendatang, kebencian apapun yang ada dalam hati saya perlahan-lahan memudar lalu hilang. Jangan mempersulit diri sendiri dengan membenci orang yang tidak berprasangka apapun pada kita, bahkan pada orang-orang tidak memberi kontribusi apapun pada hidup kita.

    Semoga saya bisa menjadi orang yang selalu berpikiran positif seperti sedia kala. Dengan tambahan, kewaspadaan dan kedewasaan. 



    Untuk sebuah tulisan yang lama mengendap di draft, untuk usia kedepan tanpa kebencian, untuk umur yang lebih dewasa untuk mengambil segala keputusan....

    Cheers! :)


    Dengan lantang saya ucapkan BYE pada reminder iseng yang dibuat setahun lalu ini.


    01 February 2013

    Hari ke-11: #1Bulan1CD Edisi Januari

    Postingan ini sebenarnya lebih cocok diberi judul "Niatnya #1Bulan1CD". Mengapa oh mengapa? Karena pada akhirnya daripada bingung, saya memutuskan untuk beli 2 CD sekaligus. Kenapa oh kenapa? Tidak lain tidak bukan alasannya adalah karena kemarin (meskipun telat 5 hari) akhirnya saya gajian. Yap, 2 hari sebelum Januari berakhir. :')


    Sekitar tengah bulan yang lalu, saya dan pacar jalan-jalan santai ke sekitar Jalan Cendrawasih alias Jalan Distro di daerah Demangan, Yogyakarta. Niatnya sih hunting backpack, tapi ujung-ujungnya pemberhentian terlama adalah di Distro Cosmic yang di dalamnya terdapat etalase yang berisi macam-macam CD. Parahnya, banyak diantara CD-CD yang terpampang adalah CD band atau penyanyi yang saya suka. Bingung dong? Jelaaas.. Lebih bingung lagi adalah karena pada saat itu saya nggak ada duit sama sekali dan belum gajian. Alhasil kunjungan ke Cosmic kali itu hanya menghasilkan wishlist CD yang akan dan harus dimiliki pada bulan-bulan selanjutnya.

    Akhirnya, tiba waktunya saya harus bayar hutang CD bulan ini, tepat di hari terakhir bulan Januari. Kali ini saya beli albumnya Jemima dan album Payung Teduh yang pertama. Ekspektasi terbesar saya letakkan pasa CD Jemima. Maklum, sudah sejak tahun lalu saya hanya bisa mendengarnya lewat reverbnation atau youtube.

    Sepanjang perjalanan pulang dari Cosmic saya memainkan CD Jemima tersebut. Seperti ekspektasi saya sebelumnya, musik yang "chill" berhasil membuat saya tak berhenti menganggukkan kepala mengikuti beat. CD ini rasanya sangat cocok didengarkan saat mengemudi di malam hari sambil menikmati kilauan lampu jalanan yang berwarna kekuningan disertai lampu-lampu kendaraan. Damai.... :-)

    Namun sayang sekali, satu kekurangan yang agak mengganggu telinga saya adalah volume bass hasil mastering yang terlalu besar, hingga membuat kita yang tadinya ingin fokus ke suara vokal Jemima yang khas jadi terganggu. Saya sudah sempat membuat settingan bass dan trebel audio mobil saya menjadi nol, namun tetap saja suara Jemima "tertutup" pergerakan melodi bass yang volumenya lebih besar.


    Sepertinya cukup sekian dulu posting saya kali ini. Semoga di bulan yang baru nanti saya bisa menyelesaikan hutang menulis hingga hari ke-30 nanti. Malu juga hari gini baru dapat sepertiganya. Hahahaa



    18 January 2013

    Hari ke-10 : Payung Teduh


    Tuhaaan.. Rasanya sulit sekali menulis ditengah kantuk maupun mood menulis yang terbang entah kemana. Kontras sekali semangat menulis saya saat ini dengan waktu pertama mendaftar proyek 30HariBercerita akhir Desember lalu. Saat semangat dan ide menulis sudah tersedot ke papers untuk ujian akhir, menghadap layar laptop yang terang yang tersisa hanya rasa kantuk, rasa ingin refreshing dengan browsing kesana-kemari, atau sekedar melanjutkan menonton film seri favorit saya saat ini, Fringe.


    Setelah beberapa hari mangkir, akhirnya saya mencoba menyemangati diri saya sendiri dengan mulai menulis tentang salah satu album favorit saya, Dunia Batas milik Payung Teduh. Tidak ada hal yang terlalu heroik saat menemukan CD ini terselip diantara album-album lain di DiscTarra selain keberuntungan karena waktu itu stok album ini tinggal satu-satunya. DiscTarra yang saya maksud adalah satu yang terletak di dalam Carrefour Amplaz, yang kalau kata saya sih kadang koleksinya sering  ajaib. Coba saja! :)




    Awalnya saya belum terlalu familiar dengan lagu-lagu mereka. Hanya mendengar beberapa lagunya via Youtube. Sampai akhirnya pacar, yang telah lebih dulu suka, menonton performa mereka di Borobudur sekitar Oktober lalu. Pacar bilang personel Payung Teduh sangat ramah bahkan rela membuat konser kecil di backstage usai mereka turun panggung untuk memainkan lagu-lagu request para pecintanya yang belum dimainkan di atas panggungMakin penasaran lah saya. Hingga akhirnya saat menemukan CD mereka terduduk manis di rak DiscTarra, saya tanpa ragu langsung membelinya.


    Agaknya memang para anggotanya sengaja berkonspirasi untuk melakukan sinkronasi antara nama dan lagu-lagu yang mereka buat. Payung Teduh, dengan nada-nada yang meneduhkan, menentramkan, menenangkan. Kesederhanaan instrumen yang mereka gunakan berpadu dengan cantik dengan lirik puitis yang sarat akan kerinduan. Pun, mereka memvisualisasikan kerinduan itu dengan potret percikan air hujan di kaca yang mereka letakkan di bagian dalam sampul album. Saya menjadi yakin bahwa sebenarnya saya bukanlah satu-satunya orang yang bisa merasa mellow atau mendadak rindu saat melihat hujan perlahan turun dan meninggalkan titik-titik air di kaca.

    Lagu pertama, Berdua Saja, berhasil menyihir saya seketika menjadi penggemar mereka. Petikan contra bass dan gitar mendominasi di awal, menyatu sempurna dengan sentuhan vokal yang tegas dan bersahaja. Lagu-lagu selanjutnya bernafaskan nada-nada serupa dengan aksen keroncong yang kental. Sekilas saya teringat beberapa tahun yang lalu ketika saya menyadari saya jatuh cinta pada keroncong, ketika musik yang saya dengar di siaran tengah malam sebuah radio lawas lokal dengan kekuatannya berhasil meninabobokkan saya dengan manisnya.

    Di beberapa lagu, instrumen lain dihadirkan untuk mempercantik lagu. Seperti salah satunya pada Untuk Perempuan Yang Sedang Di Dalam Pelukan, suara piano berhasil mengharmoni ditengah lagu yang (dalam imajinasi saya) bercerita tentang kekaguman seorang lelaki terhadap wanitanya yang berada dalam pelukan sebelum ia memejamkan mata menuju dunia mimpi. Instrumen lain adalah akordeon, hadir pada lagu Di Ujung Malam yang membuat lagu minor ini makin dalam makna rasanya. "Berbahagialah orang-orang yang dirindukan di ujung malam," komentar mereka di bawah lirik lagu ini. 

    Salah satu lagu favorit saya adalah Angin Pujaan Hujan. Melodi gitar dan guitalele yang mengalun, akan sangat sempurna ketika didengarkan melalui headset dimana kedua melodi tersebut akan bersahut-sahutan di telinga kita. Lirik puitis "Sang pujaan tak juga datang. Angin berhembus bercabang. Rinduku berbuah lara," akan menambah derajat kerinduan seseorang, apalagi jika mendengarkannya ketika rintik hujan mulai turun. 

    Satu lagi favorit saya, Rahasia. Lagu terlama, berdurasi hampir tujuh menit yang begitu pilu dan penuh ironi; ketika permintaan atas kembalinya seseorang terpatahkan dengan penggambaran melalui lirik-lirik menyayat seperti "Berikan tanganmu jabat jemariku. Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu. Berikan suaramu balas semua bisikanku memanggil namamu." Bagian paling putus asa menurut saya ada pada "Atau kau ingin aku berteriak sekencang-kencangnya agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku." Masih sering merinding ketika mendengar lagu ini di saat yang "tepat".


    Terlepas dari anggapan beberapa orang yang menilai Payung Teduh terlalu kaku dalam liriknya yang puitis, maupun cibiran bahwa kata-kata yang dipilih sebenarnya biasa saja namun mereka hanya sok puitis, Payung Teduh dengan ciri musik yang menurut saya sangat Indonesia berhasil dicintai para penikmat musik. Tempo lagu yang pelan dan dibawakan dengan santun bekerja dengan baik dan berhasil membuat para pendengarnya menemukan tempat beristirahat dalam diri mereka sendiri, berhasil memberi ruang ketenangan dalam pikiran mereka, serta berhasil membantu menemukan pelarian atas tekanan-tekanan atau kepenatan yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Terbukti, setelah peluncurannya di tengah tahun 2012, Payung Teduh dinobatkan sebagai Best New Comer ICEMA Award 2012 akhir November lalu.

    13 January 2013

    Hari ke-9 : Marcel Thee

    Akhirnya setelah ditunda beberapa hari, hari ini saya akan cerita tentang album yang baru-baru ini saya beli dengan alasan satu-satunya: "artwork-nya menarik". Waktu itu, sekitar tengah Desember, saya pergi ke Jakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan anak teman orang tua saya. Sabtu siang, untuk mengisi waktu luang sembari menunggu resepsi di malam hari, saya mengunjungi tempat yang cukup wajib dikunjungi setiap saya ke Jakarta; lantai dasar Blok M Plaza. Di sana terdapat beberapa lapak (kalau tidak salah hitung ada 2 atau 3) yang menjual kaset-kaset lawas, piringan hitam, CD second dan beberapa CD baru. 

    Setelah melakukan pertapaan yang cukup lama alias melihat-lihat satu CD ke CD lain, mengagumi satu per satu artwork CD yang unik-unik, membolak-balik banyak wadah untuk memastikan saya tahu beberapa lagu yang ada di CD-CD tersebut, akhirnya mata saya 'kecantol' album Marcel Thee satu ini. Saya tertarik dengan lukisan (atau foto?) pegunungan yang menjulang beserta refleksi pada danau di depannya. Saya sempat berpikir mungkin ini gambaran pegunungan es di Norway atau New Zealand yang sering saya lihat di internet atau televisi. Bedanya, gambaran yang selama ini saya lihat berlangit biru cerah dengan awan-awan putih yang terekam manis sedangkan di CD ini background pegunungan dengan sederhana dibuat hitam pekat. Dari sana, saya jadi bisa mengira-ngira kalau lagu di dalamanya bernuansa 'gelap'.




    Benar saja. Sepulang saya dari resepsi, saya langsung mendengarkan beberapa CD yang saya beli di Blok M Plaza, termasuk CD Marcel Thee. Saya masih ingat betul perasaan saya waktu mendengar lagu Endless Heart yang ditempatkan menjadi lagu pertama di album With Strong Hounds Three ini. Saya belum tahu siapa Marcel Thee, saya tidak tahu lirik lagunya bercerita tentang apa, tapi kesederhanaan melodi yang diciptakan pada lagu ini membawa ketenangan tersendiri meskipun (sesuai dugaan saya)  kesan 'gelap' lagu ini sangat kental. Lagu pertama didominasi oleh iringan organ dan vokal yang didistorsi.

    Sambil mendengarkan CD ini, saya browsing siapa Marcel Thee itu. Dan oooh.. Ternyata proyek pribadi vokalis Sajama Tree ini merupakan album lo-fi yang sarat akan nilai-nilai relijius. Dan lagi-lagi "benar saja", di kolom genre iTunes muncul tulisan religious yang baru saya sadari kemudian. Beberapa lagu, selain didistorsi, suara vokal dibuat menjadi semacam koor yang makin membangun suasana gereja di kepala kita.

    Di beberapa lagu setelah Endless Heart, iringan organ digantikan dengan gitar hingga pada lagu kelima suara organ muncul kembali yaitu pada lagu Date With Curmudgeon. Berbeda dengan Endless Heart yang lebih clean, suara organ dengan nuansa ambient di lagu ini terasa sangat kental. Nuansa ambient di lagu kesembilan, Kensingtone Runston, pun tak kalah kentalnya dan membuat saya serasa dibawa berjalan-jalan, masuk ke gereja-gereja kuno di kawasan Eropa dengan ranting-ranting pohon di luarnya yang mulai gundul di musim gugur yang dingin. 

    Sebuah lagu yang menurut saya cukup "lucu" adalah Biblical Summer, dimana Marcel bermain dengan nada yang cukup ceria dengan organ dan gitar, menceritakan tentang kehidupan Jesus muda di Bethlehem dengan lirik yang cukup menggelitik: "Oh, we played in Bethlehem. Where Jesus hung out and played games with his friends and smoke pot."


    Marcel Thee menurut saya bisa dengan cerdas membungkus kerelijiusan dengan cara yang tidak biasa, menyanjung dan memberi persembahan untuk Tuhannya dengan cara yang segar, dan tentunya dengan caranya sendiri. Sama seperti seorang yang dengan kreatifitasnya menciptakan lagu cinta untuk sang Pacar. Tanpa menggunakan lirik menye-menye, pesan yang tersampaikan tetap jelas; dia cinta pacarnya.

    12 January 2013

    Hari ke-8



    We sometimes don't realize how worth we are for someone, more than we've ever thought.

    10 January 2013

    Hari ke-7 : Anak-anak Pelalawan

    Akhirnya...

    Proposal skripsi berhasil dikebut selama semalam suntuk. Bagai Bandung Bondowoso modern, kemarin malam saya mengandalkan soft skill berupa menulis ditengah tingginya adrenalin menghadapi garis mati. Cukup salut pada diri sendiri yang berhasil menulis berlembar-lembar dalam hanya waktu satu malam, sekaligus sangat mengutuk kebiasaan menjadi deadliner yang idenya baru muncul saat kepepet.

    Dan percayalah. Menjadi deadliner itu, meskipun awalnya seru tapi lama kelamaan cukup menyiksa juga rasanya. Kamu bertaruh dengan nasibmu sendiri. Merasa percaya diri bahwa pekerjaan yang ada bisa diselesaikan dalam waktu satu hari yang terdiri dari 24 jam. Namun jika ada kesalahan yang membuat kamu melewati garis mati itu, melewati batas 24 jam yang kamu banggakan, kamu akan benar-benar mati dengan penuh penyesalan pada akhirnya.



    Jadi, hasil saya bolos nulis 2 hari adalah.... Bingung harus menulis apa. Enam hari kemarin agaknya saya cukup lancar dan sudah mulai terbiasa menulis agak panjang. Dan seperti kata pepatah, The first step is always the hardest part. Termasuk salah satunya kembali menulis. 

    Waktu mulai menulis, saya terbayang-bayang suasana Pelalawan, Riau tempat saya tinggal sebulan untuk KKN Juli-Agustus lalu. Saat tidak ada kegiatan, siang hari tanpa listrik disana dihabiskan dengan sekedar tidur-tiduran atau bahkan tidur betulan di lantai ruang tamu dengan pintu terbuka, dengan angin membawa udara kering dataran Sungai Kampar, ditemani suara-suara perahu motor lalu lalang, suara  tongkang melintas membawa berton-ton kayu ke perusahaan pulp 2-3 kali di siang hari, kadang suara anak-anak bermain, berlari-larian di rumah panggung beralas kayu yang getarannya membuat kami terpaksa harus kembali bangun ke dunia nyata. Rasanya lucu juga mendengar percakapan anak-anak  dengan bahasa lokal saat mereka bermain. Seperti sedang menonton Upin Ipin secara langsung. 









    Dan inilah anak yang paling saya rindukan. Rengekannya, celotehnya, keisengannya, hobinya membantu (atau lebih tepatnya mengganggu) anak-anak KKN yang sedang memasak di dapur, kemanjaannya yang makin menjadi menjelang kepulangan kami. Fandi, namanya. Anak yang sejauh kami KKN menjadi anak bontot nan manja dari keluarga tempat kami menumpang hidup. Beberapa hari setelah kami pulang, adik Fandi lahir. Semoga kamu bisa jadi kakak yang baik ya, Fan.


    Selama kami di sana, sebagian besar anak-anak sedang gemar-gemarnya menonton sinetron Aladin  setiap sore sekitar maghrib, tepat setelah listrik mulai mengalir ke desa. Selama sebulan, setiap sore, melihat mereka menonton sinetron yang sama membuat kami otomatis hafal soundtrack-nya. Ditambah lagi tidak jarang Fandi bernanyi-nyanyi setelah sinetron selesai. "Aku.. Si Aladin. Punya lampu wasiat. Digosok-gosok, dielus-elus, bisa bikin orang heraaaan.." Saya masih hafal sampai sekarang.


    Sekarang kalian lagi suka nonton apa ya?