25 December 2017

Wrapping up 2017 #1: Wedding

WhatsApp Image 2017-12-24 at 18.02.57

Most of my life events actually happened in the second semester of the year. Kalau mau meng-highlight, sebetulnya cuma ada 3 peristiwa yang menurutku betul-betul perlu ditulis di sini untuk dikenang. Yang pertama, pernikahan.

Sejak pertengahan tahun 2016 lalu sebetulnya saya dan Rizal sudah sepakat untuk menikah. Ya, sepakat. Semua serba dibicarakan, mulai kesiapan mental, psikologis, sampai finansial. Rizal bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Pun bukan tipe romantis yang apa-apa harus diungkapkan pakai bunga. Jadi ya nggak kaget kalau cara dia melamar adalah lewat pembicaraan, tanpa berlutut menyodorkan cincin berkata "Will you marry me?".  Akhir tahun lalu, Rizal memberanikan diri datang ke rumah untuk nembung ke orang tuaku dan menyatakan niatnya untuk serius, dilanjutkan sekitar 2-3 bulan setelah itu orang tuanya datang ke rumah untuk melamar.



Kami berdua pasangan yang super santai. Saking santainya, kami nggak mempersiapkan lamaran yang manis-manis seperti yang sering muncul di situs pernikahan. Yang ada, kami ke mall, beli cincin, lalu setelah selesai digravir nama beberapa hari kemudian, langsung kami pakai di jari manis tangan kiri masing-masing. Selesai. Yang penting orang-orang yang lihat paham kalau kami sudah bertunangan. Hihi

Aku dan kedua orang tuaku pada dasarnya tinggal di kota yang berbeda-beda karena pekerjaan, jadi yang jaga homebase di Jogja hanya Mama, itu pun mondar-mandir Jogja-Jakarta untuk menyempatkan menemani Bapak. Mulai awal tahun, setiap sempat pulang di hari yang sama, aku dan kedua orang tuaku mulai survey venue pernikahan. Well, karena dipastikan yang mengurus hampir semua perisapannya adalah Mama, maka aku dan Rizal bersepakat untuk menyerahkan semua pada beliau. Mulai konsepnya mau kayak gimana, adat yang dipakai apa, tempatnya dimana, semua terserah Mama, yang pada akhirnya dibantu Kapulaga Wedding Organizer supaya nggak pusing cari vendor ini-itu dan menjalankan semua prosesnya sampai hari H. Padahal waktu kuliah dulu aku sudah sempat mewanti-wanti Mama tentang pesta pernikahan: "Pokoknya aku mau yang simple aja. Tamu yang datang, aku harus kenal semua. Pokoknya konsepnya santai, aku yang muter dan nyambut tamu, fotografer harus ngikut terus sama aku". Well, manusia hanya bisa berkeinginan, tapi situasi-kondisi lah yang menentukan. Hahaha..

WhatsApp Image 2017-12-24 at 17.58.52

Long story short, mulai pertengahan tahun aku dan Mama mulai jahit kebaya. Awalnya, kami sepakat untuk menggunakan adat Solo klasik untuk paesnya dan juga memakai baju pengantin wanita bludru selutut. Jadi, kami jahit kebaya hanya untuk akad. Penjahitnya ada di daerah Klaten, rekomendasi dari teman Mama. Wow, kebayang dong jarak dan waktu yang ditempuh lumayan jauh untuk rembug dan fitting. Sekitar bulan Juli, kebayaku, Mama dan Ibu (mertua) sudah jadi tapi masih harus bolak-balik dirubah . Mama yang nggak sreg, diam-diam coba bikin kebaya di Mbak Linda - Griya Ageman, rekomendasi dari Mas Stanlus Kapulaga. Mama terkesan dengan kreasi Mbak Linda. Orangnya pun komunikatif dan kreatif. Akhirnya sekitar H-1,5 bulan pernikahan, Mama memutuskan membetulkan kebaya-kebaya yang sudah dijahit di Klaten di tempat Mbak Linda.

Diam-diam (juga), Bapak yang entah browsing dimana atau lihat di media sosial apa, tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk membuat kebaya kreasi untuk aku pakai saat resepsi. H-sebulan! Rasanya cukup ketir-ketir dengan keinginan Bapak, apa bisa jadi sebelum hari H? Ternyata Mbak Linda menyanggupi!

H-2 minggu, kebaya resepsiku sudah setengah jadi dan aku harus pulang untuk fitting. Hasilnya sejauh itu melebihi ekspektasiku. Hanya saja.. Ehem. Saran dari Mbak Linda dan Mama, paling tidak aku harus diet supaya kebayanya lebih fit lagi di badan. Challenge accepted! Selama H-2 minggu pernikahan aku ikut catering diet mayo dan hasilnya.. Turun 6 kilo! Oh iya, satu lagi service Mbak Linda yang sangat kami senangi adalah beliau mau datang ke venue saat hari H untuk menjahit jelujur bagian ekor kebayaku. Can't thank you enough to Mbak Linda.. :')

Overall, aku sangat bersyukur dengan seluruh kelancaran hari pernikahanku. Selain rangkaian acara lancar berkat bantuan Kapulaga Team, tamu yang hadir juga lebih dari ekspektasi kami sekeluarga, baik dari segi jumlah maupun orang-orang yang hadir (untung catering dipesan jauh lebih banyak dari jumlah undangan, hihi). Banyak saudara jauh yang repot-repot hadir, bahkan tetangga Almh. Eyang Putri dari Ponorogo dan tetangga masa kecilku di Kediri pun hadir. Salah seorang teman kuliah yang seharusnya hanya menghadiri pernikahan temanku yang lain keesokan harinya, begitu landing pun langsung menyempatkan diri untuk hadir. Sahabat-sahabat dari Banyuwangi, hadir juga dengan penuh perjuangan (terutama pulangnya, mereka harus naik kereta ekonomi 12 jam!). Bos-bos, menempuh perjalanan darat dengan beberapa mobil dari Surabaya, sambil gowes keesokan harinya dan rapat kecil dengan branch office di Jogja dan sekitarnya. Terharu sekaliiiii. Apalagi sahabat-sahabat SMA dan kuliah yang super konyol pada dateng. Haduh, menghibur banget dan bikin lupa pusingnya disasak dan beratnya disanggul!

WhatsApp Image 2017-12-24 at 17.58.51

At the end, hingar bingar pesta pernikahan hanyalah simbol. Yang terpenting adalah janji pernikahan yang kami ucapkan saat Akad, yang merupakan janji kita kepada Tuhan untuk menjalani pernikahan. Seperti yang Bapak pesankan pada kami, kami adalah dua orang yang jauh dari sempurna dan pastinya kedepannya akan lebih banyak lagi ketidaksempurnaan yang akan kami sadari satu sama lain. Kami harus terus dan terus belajar sampai tua, sampai maut memisahkan, yang kalau kata Banda Neira, "sampai kita tua, sampai jadi debu". Kami harus kompak, memaklumi kekurangan masing-masig sambil terus memperbaiki diri.

WhatsApp Image 2017-12-24 at 18.26.19



It's gonna be an exciting journey for us two. Wish us luck!



Sign_small

4 comments: