05 August 2018

Perspektif

Tulisanku ini sudah mengendap selama 5 tahun lebih 4 bulan di kolom Draft saat sedang mengikuti tantangan "30 Hari Bercerita" yang berat dan berakhir dengan kegagalan yang telak. Tanpa merubah redaksinya, inilah tulisan yang menurutku masih sangat sesuai dengan kondisi sekarang.

-------------------- ..-------------------- ..--------------------

Well, ternyata yang namanya nulis itu nggak segampang yang dibayangkan waktu daftar 30HariBercerita akhir Desember lalu. Kalau dasarnya sedang nggak ada ide atau sekedar nggak mood nulis, yang ada setelah buka laptop malah nonton Fringe atau browsing sampai ketiduran. Contohya post ini. Sebenarnya saya sudah tulis post ini kemarin, tapi entah kenapa tiba-tiba mood nulis hilang. Malu juga sih sebenarnya sama peserta lain yang sudah dengan 'ajeg'-nya bisa posting hari ke-17 sampai hari ini.

Baiklah, mari kita mulai.


Jadi, beberapa bulan yang lalu saya diberi tau link video di Youtube yang bercerita tentang perjalanan Charlie Chaplin ke Indonesia di tahun 1932. Ia melakukan perjalanan ke Batavia, Garut, Borobudur (Magelang), Surabaya, dan Bali. Perjalanannya ke Bali adalah satu yang sangat menarik saya. 

Kenapa menarik? Sila tonton sendiri.


Sudah ketemu hal menariknya? 
Yap. Sebagaian besar wanita Bali pada masa itu bertelanjang dada. 


Hal yang menggelitik saya adalah, ketika banyak orang zaman sekarang dengan penuh percaya diri berkata bahwa masa yang mereka tinggali saat ini adalah masa yang telah beradab, namun pelecehan seksual terjadi dimana-mana. Coba kita lihat lagi video tersebut. Adakah lelaki yang melakukan tindak asusila gara-gara para wanitanya bertelanjang dada? Mencolek bagian dada, misalnya. Sedangkan kita tau Dewi Perssik pernah marah habis-habisan dengan seorang lelaki yang mencolek (atau meremas?) dadanya saat ia turun panggung beberapa tahun lalu. Dibandingkan dengan wanita Bali pada tahun 1932, Dewi Perssik saat itu terhitung berpakaian sangat lengkap.

Jika saat ini banyak terjadi tindak pemerkosaan maupun tindak asusila yang menempatkan wanita sebagai subjek kesalahan karena memakai rok pendek, sebenarnya pemikiran masa mana yang lebih beradab? Masa sekarang, atau masa lalu?

Pada dasarnya segala hal tercipta dengan nilai yang netral. Kemudian manusia lah yang memberi nilai terhadap suatu hal; baik-buruk, bagus-jelek, dan seterusnya. Nilai tersebut muncul dari perspektif atau sudut pandang setiap individu, dimana ketika mereka berkumpul dan merasa melihat suatu hal dari perspektif yang sama, maka itulah yang akan menjadi kebenaran mutlak.

Seorang karyawati memakai rok/ span untuk bekerja, pulang dengan angkutan umum, dijebak lalu diperkosa. Alasannya, karyawati tersebut mengenakan rok/ span yang mengundang syahwat. Apa iya jika karyawati tersebut mengenakan jubah ia akan bebas dari jebakan pemerkosaan? Toh pada dasarnya jebakan adalah sesuatu yang terencana dan disengaja to? Apa iya ketika kita membuka pintu rumah lalu ada pencuri masuk, lalu pencuri tersebut dinyatakan tidak bersalah?

Porno-tidak porno, menggugah syahwat atau tidak, itu semua pada dasarnya tergantung bagaimana otak kita menanggapi rangsangan visual yang ada. Semua tergantung dari perspektif mana kita melihatnya.

-------------------- ..-------------------- ..--------------------

Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, rasanya masih sangat berkaitan dan bahkan menurutku lebih memprihatinkan. Sudah dengar tentang kasus pemerkosaan remaja perempuan oleh kakak kandungnya sendiri dan malah divonis pidana karena melakukan aborsi? Berarti, remaja perempuan usia 15 tahun itu sebetulnya dipaksa untuk harus menerima kehamilan yang bahkan bukan keingannya, bagaimanapun hasil perkawinan inses itu (ada kelainan atau tidak), tanpa mempedulikan mental si perempuan yang sudah pasti hancur karena pemerkosanya adalah kakak kandungnya sendiri. Miris! (Bisa baca beritanya di sini dan pembahasan lebih dalamnya di sini)

Perempuan selalu menjadi korban atas pelecehan seksual dan tidak jarang perempuan selalu diam, memilih untuk tidak melawan. Unsur keselamatan dan nyawa jadi taruhannya. Lihat saja video tentang perempuan di Perancis yang diserang balik oleh 'catcaller' gara-gara melawan. Beruntungnya, pemerintah Perancis langsung menerapkan denda dengan nominal besar bagi pelaku pelecehan di jalanan. (Aku baca beritanya di sini)

Pemerintah terus-terusan memblokir situs dan aplikasi gawai yang berkonten pornografi. Lembaga Sensor juga tak henti menyensor belahan payudara dan adegan percintaan di tayangan film dan TV. Lalu apalagi? Tentu yang perlu diperbaiki adalah pola pikir manusianya. Di sini peran keluarga sebagai tempat pertama seseorang menuntut ilmu menjadi sangat penting. Dan itu juga lah yang menjadi PR untuk aku dan suami kelak. Semoga kita semua bisa ikut memperbaiki pola pikir penerus kita. 







No comments:

Post a Comment