28 January 2018

Perkara Rantau, Rindu, dan Rumah



Ada kebiasaan-kebiasaan sepele yang terekam di sela dinding yang diam-diam aku hirup perlahan dan rekam dalam otak. Bukan penyimpan memori jangka panjang yang baik, rasanya ingin kuhirup terus sampai menjadi memori permanen; sewaktu-waktu kubuka dan kusesapi pelan untuk sedikit merapikan rindu yang terserak porak.


Ada harga yang harus dibayar untuk sekedar merasakan sop ayam favorit masakan suami, di rumah yang kami sama-sama usahakan berdua, di tengah hari yang dulu nampak biasa, dan sekarang menjelma menjadi sebuah kemewahan.

Kekhawatiranku saat ini bukan tidak bisa pulang, justru pulang lah yang membuatku berat untuk kembali pergi. Bahwa sejak hari pertama pulang, pikiranku sudah ada di hari aku meninggalkan rumah. Rindu yang ditabung, belum puas ditebus. Jiwa ini rasanya masih haus.







No comments:

Post a Comment