Showing posts with label KKN. Show all posts
Showing posts with label KKN. Show all posts

10 January 2013

Hari ke-7 : Anak-anak Pelalawan

Akhirnya...

Proposal skripsi berhasil dikebut selama semalam suntuk. Bagai Bandung Bondowoso modern, kemarin malam saya mengandalkan soft skill berupa menulis ditengah tingginya adrenalin menghadapi garis mati. Cukup salut pada diri sendiri yang berhasil menulis berlembar-lembar dalam hanya waktu satu malam, sekaligus sangat mengutuk kebiasaan menjadi deadliner yang idenya baru muncul saat kepepet.

Dan percayalah. Menjadi deadliner itu, meskipun awalnya seru tapi lama kelamaan cukup menyiksa juga rasanya. Kamu bertaruh dengan nasibmu sendiri. Merasa percaya diri bahwa pekerjaan yang ada bisa diselesaikan dalam waktu satu hari yang terdiri dari 24 jam. Namun jika ada kesalahan yang membuat kamu melewati garis mati itu, melewati batas 24 jam yang kamu banggakan, kamu akan benar-benar mati dengan penuh penyesalan pada akhirnya.



Jadi, hasil saya bolos nulis 2 hari adalah.... Bingung harus menulis apa. Enam hari kemarin agaknya saya cukup lancar dan sudah mulai terbiasa menulis agak panjang. Dan seperti kata pepatah, The first step is always the hardest part. Termasuk salah satunya kembali menulis. 

Waktu mulai menulis, saya terbayang-bayang suasana Pelalawan, Riau tempat saya tinggal sebulan untuk KKN Juli-Agustus lalu. Saat tidak ada kegiatan, siang hari tanpa listrik disana dihabiskan dengan sekedar tidur-tiduran atau bahkan tidur betulan di lantai ruang tamu dengan pintu terbuka, dengan angin membawa udara kering dataran Sungai Kampar, ditemani suara-suara perahu motor lalu lalang, suara  tongkang melintas membawa berton-ton kayu ke perusahaan pulp 2-3 kali di siang hari, kadang suara anak-anak bermain, berlari-larian di rumah panggung beralas kayu yang getarannya membuat kami terpaksa harus kembali bangun ke dunia nyata. Rasanya lucu juga mendengar percakapan anak-anak  dengan bahasa lokal saat mereka bermain. Seperti sedang menonton Upin Ipin secara langsung. 









Dan inilah anak yang paling saya rindukan. Rengekannya, celotehnya, keisengannya, hobinya membantu (atau lebih tepatnya mengganggu) anak-anak KKN yang sedang memasak di dapur, kemanjaannya yang makin menjadi menjelang kepulangan kami. Fandi, namanya. Anak yang sejauh kami KKN menjadi anak bontot nan manja dari keluarga tempat kami menumpang hidup. Beberapa hari setelah kami pulang, adik Fandi lahir. Semoga kamu bisa jadi kakak yang baik ya, Fan.


Selama kami di sana, sebagian besar anak-anak sedang gemar-gemarnya menonton sinetron Aladin  setiap sore sekitar maghrib, tepat setelah listrik mulai mengalir ke desa. Selama sebulan, setiap sore, melihat mereka menonton sinetron yang sama membuat kami otomatis hafal soundtrack-nya. Ditambah lagi tidak jarang Fandi bernanyi-nyanyi setelah sinetron selesai. "Aku.. Si Aladin. Punya lampu wasiat. Digosok-gosok, dielus-elus, bisa bikin orang heraaaan.." Saya masih hafal sampai sekarang.


Sekarang kalian lagi suka nonton apa ya?


14 August 2012

When life was simple...




Pelalawan, Riau.
Bukan nama yang terlalu familiar saat pertama kali saya, bahkan mungkin kamu, pertama kali mendengarnya. Berjarak 2-3 jam dari Pekanbaru, desa kecil ini terletak tepat di tepi Sungai Kampar dengan jalan yang dipenuhi pohon kelapa sawit di kanan-kiri ketika kita menuju kesana. Desa yang cukup tenang, dengan paginya yang dingin, dan malam yang seringkali bertaburkan bintang. Indah.

17:15 kurang lebih di setiap harinya, listrik baru akan mengalir ke setiap rumah yang ada di Desa Pelalawan. Anak- anak dengan riang akan segera menuntaskan permainannya di luar rumah, berlari masuk, menyalakan televisi, dan duduk manis di depannya hingga kadang membuat jengkel sang Ibu yang menyuruh mereka mandi berkali- kali. 

Menjelang jam 12 malam, sang Ibu sudah bersiap tidur setelah puas menonton sinetron yang bahkan di rumah sangat kita hindari dan kita cibir. "Ternyata masih ada pasarnya," pikir kami. Kemudian ia pun menyalakan lampu minyak di beberapa titik, sebagai persiapan agar malam kami tidak begitu gelap. 00:30 listrik kembali padam.

Kehidupan di Pelalawan sungguh tenang. Siang hari berlalu tanpa distraksi suara yang memekakkan telinga dari penyiar infotainment centil yang ngerumpi tentang gosip seleb, berita siang berisi politik dan korupsi, berita cere- cere tentang kejahatan, pemerkosaan, perampokan, dan segala hal negatif yang selama ini kita saksikan siang hari, di kota. Ayah dan ibu memasak bersama. Ayah membantu mengangkat jemuran yang sudah kering. Ibu memarahi anak yang kelewat manja sedangkan sang Ayah menenangkan tangisannya. Malam hari, anak- anak menonton sinetron anak yang meskipun ada bagian yang tidak masuk akal tapi cukup menghibur. Simple life leads to happy living.


Saya memang bukan orang yang taat. Namun lewat posting panjang berbahasa ibu ini, saya berdoa bagi anak- anak dan pemuda- pemudi di sana. Agar mereka terlindung dari berbagai fitnah, terus berkembang, menjadi kreatif, dan selalu berada di bawah persahabatan erat diantara mereka sendiri agar dapat saling menjaga satu sama lain. Maafkan kami, terutama saya, yang belum bisa berkontribusi banyak bagi daerah kalian. Sebulan yang penuh nostalgi, semoga saya dapat menyelesaikan apa yang belum tuntas di sini agar dapat membawa perubahan barang sedikit bagi Pelalawan.


Dengan perasaan rindu yang mendalam pada rumah, suasana desa, dan teman-teman-serumah unit 108 KKN, 
Yogyakarta, 14 Agustus 2012


02:33