07 January 2018

Cengkir Heritage Resto and Coffee (review)

Setelah kurang lebih tiga tahun selalu "jaga kandang" selama peak season, akhirnya pergantian tahun 2018 kemarin aku berhasil mudik dan menikmati long weekend di rumah Jogja. Kalau ditanya tempat yang asik untuk menghabiskan malam tahun baru di Jogja, aku sejujurnya nggak ngerti karena memang tradisi aku dan sahabat-sahabatku selalu sama sejak lulus SMA: sleepover dan BBQ-an di rumah salah satu diantara kami yang letaknya di desa atau di pegunungan. Jadi, sebetulnya pulang kemarin pun nggak jelas juga mau kemana, wong selama jadi orang Jogja malah ngendon aja di rumah pas long weekend.

Karena nggak punya agenda yang jelas selain leha-leha di rumah, orang tuaku mengajak sarapan di tempat tradisional tapi kekinian. Nah lo, tradisional tapi kekinian. Gimana tuh? Ya, namanya Cengkir Heritage Resto and Coffee. Berada di daerah utara, lebih tepatnya di Jalan Sumberan II (utara Jalan Damai), meskipun namanya 'keminggris' dan kekinian, namun percayalah, makanan yang disajikan sangat amat ndeso.

24839EEF-DB7F-4B6D-BA02-1E6633459EC4

Di piring saya : nasi merah, oseng-oseng genjer, tempe kuah santan (ngga tau namanya apa, 'jangan tempe'?), dan ikan pindang.


Ada 2 pilihan nasi, nasi merah dan nasi putih. Ambilnya pun langsung dari kukusan di area dapur tradisional yang diekspos di sebelah kanan meja saji. Lauknya sendiri ada ikan pindang, ayam (yang kelihatannya dimasak bacem), mangut lele, tempe goreng tepung, tempe 'garit', botok tahu, botok jamur, telur goreng crispy, hmm.. Apa lagi ya? Pilihannya banyak sebetulnya, tapi aku lupa dan nggak foto-foto meja lauknya karena kondisinya ramai banget. Sama seperti lauk, sayurnya pun ada beberapa pilihan, misalnya oseng-oseng genjer, sop jawa, sayur ontong, dan jangan tempe.

Setelah kita ambil makanan sesuai selera, Mas-Mbak Cengkir yang standby di dekat meja saji akan mencatat makanan yang kita ambil sekaligus menanyakan minuman yang akan dipesan. Setelah pesanan kita dicatat, kita akan diberi nomor meja. Jadi, meskipun sudah laper banget, jangan buru-buru duduk dulu, ya!

Makanan di sini enak. Dan rasa enaknya itu nggak neko-neko, sederhana, tapi pas banget di lidah. Apalagi minumnya teh 'nasgitel'... Duh, rasanya "Jogja banget" deh. Oiya, camilan lain yang bisa dipesan disini adalah pisang goreng dan jadah. Kemarin orang tua saya sempat menjajal pisang gorengnya, sayang karena sudah terlalu kenyang saya nggak icip sama sekali. Kata mereka sih, enak. Duh, jadi nyesel ambil nasi kebanyakan. Hihi

Processed with VSCO with kk1 preset

Desain tempatnya njawani banget dan 'jadul'. Ada 1 joglo semi tertutup tempat meja lauk pauk, dapur, kasir, panggung pendek dengan gamelan di atasnya (entah hanya display atau bisa dimainkan), dan meja-kursi makan. Di sebelahnya, ada 1 joglo terbuka yang lebih luas dengan meja-kursi makan yang lebih banyak. Manajemen Cengkir memikirkan 'nasib' para pelanggannya dengan baik. Disamping menyediakan jumlah meja-kursi yang banyak, halaman yang ada pun sangat luas untuk menampung kendaraan para pelanggan. Dengan kelebihan-kelebihan itu, rasanya Cengkir cocok sekali dijadikan tujuan bersantap rombongan, keluarga, bahkan reuni.

Cengkir ini cukup jauh dari hiruk pikuk kota namun tidak susah dicari. Petunjuk dari Google Maps pun sangat jelas dan tepat. Meskipun sekitarnya bukan sawah (seperti resto sejenis lain), tapi keasriannya masih sangat terasa. Ditengah lingkungan yang tenang, rasanya refreshing tidak perlu jauh-jauh ke gunung.

Processed with VSCO with se3 preset

2017-12-31 11_04_41.785

Would you recommend this place to others?Definitely

Would you revisit?Of course!

How do you rate this place?5/5

Ciao!

Sign_small

No comments:

Post a Comment