... who climbed the hill too early, shivered by the mountain wind, back to the car, fell asleep, ended up too tired to wake up at sunrise, and no jeep-adventuring at all.

Sejak memasuki jalanan area Bromo di malam hari, mobil kami sempat beberapa kali diberhentikan oleh segerombolan (yang sepertinya, sih) penduduk sekitar. Mereka semua mencoba menawarkan sewa Jeep. Karena waktu itu adalah kali kesekian Rizal naik Bromo, kami memutuskan untuk jalan terus dan tidak menghiraukan tawaran-tawaran itu.
Di salah satu gerombolan, ternyata bukan cuma Jeep saja yang ditawarkan. Salah satu dari mereka menawarkan diri untuk menjadi guide sampai ke bukit tempat menyaksikan matahari terbit dengan biaya sekitar IDR 250ribu. Tentu saja, kami tidak menghiraukannya. Mantra kami hanya "in Google Maps we trust", di samping memang Rizal sempat beberapa kali ke sana dan yakin kalau bukit yang dimaksud sebetulnya tidak jauh-jauh amat.


